Tak Berkategori  

Esensi dan Eksistensi Penggunaan Bahasa Indonesia di Era Globalisasi

Oleh Yola Angela/Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris’18 UNP

Bahasa merupakan gerbang utama bagi manusia agar bisa mendapatkan  pemahaman dan ilmu pengetahuan. Menurut Plato, seorang filsuf dan matematikawan asal Yunani “Bahasa adalah pernyataan yang ada pada pikiran seseorang dengan memakai perantara rhemata (ucapan) serta onomata (nama benda) yang merupakan cerminan ide seseorang dalam arus udara dengan melalui suatu media yaitu mulut.” Secara sederhana, bahasa merupakan sebuah alat untuk dapat terhubung dengan manusia lainya. Namun,  jika dikaji lebih  jauh, bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam hal ini bahasa merupakan media untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.

Bahasa mempunyai beberapa fungsi tertentu yang dapat digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang. Karena fungsinya yang sangat beragam, sehingga bahasa bisa digunakan sebagai media ekspresi diri, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan sebagai alat untuk beradaptasi sosial dalam lingkungan. Melalui bahasa kita juga dapat menilai bagaimana karakteristik seseorang, sebab dari tutur kata yang diucapkan akan terlihat kualitas diri dari seseorang tersebut. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahasa merupakan suatu hal yang fundamental. Hal tersebut diperkuat dengan adanya  UU no 24 tahun 2009 tentang “Bendera, bahasa, dan lambang negara.” Sejatinya, bahasa menjadi alat ucap yang digunakan oleh sesama masyarakat pada suatu negara, dengan bahasa masyarakat dapat berinteraksi satu sama lain dan bersosialisasi.

Saat ini kita telah memasuki era globalisasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa “Globalisasi adalah proses masuknya ke ruang lingkup dunia.” Globalisasi dapat mempengaruhi semua aspek dalam kehidupan, termasuk bahasa. Seiring berjalanya waktu, bahasa terus mengalami perkembangan serta mengalami adaptasi dengan lingkungan di era globalisasi. Di dalam ruang lingkup kecil yaitu di dalam keluarga, masyarakat Indonesia mayoritas  menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi, sementara pada ruang lingkup yang lebih luas dan bersifat resmi, masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dengan dicetuskannya Bahasa Melayu-Riau sebagai bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 lalu, perkembangan bahasa Indonesia terus meningkat. Di balik arus permasalahan kebahasaan yang terjadi di Indonesia, bahasa daerah tetap dijaga eksistensinya dan esensinya, sesuai dengan trigatra bangun bahasa .

Menilik pada pemakaian bahasa Indonesia yang terjadi di kalangan masyarakat, terjadi banyak fenomena negatif di tengah masyarakat Indonesia, misalnya banyak orang Indonesia yang merasa bangga memperlihatkan kemahiran nya menggunakan bahasa Inggris meskipun mereka tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Fenomena seperti ini jika tidak cepat ditanggapi dan dicari solusinya maka akan menyebabkan eksistensi serta esensi bahasa Indonesia memudar, sehingga hal tersebut perlu ditanggapi sedari dini. Namun, usaha pemerintah untuk mewujudkan cita-cita sumpah pemuda yang menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia pantas diberi acungan jempol. Di tengah era globalisasi ini usaha masyarakat Indonesia untuk tetap mempertahankan bahasa Indonesia dengan cara menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa formal yang tetap digunakan walaupun hanya pada situasi formal. Hal tersebut merupakan salah satu upaya pelestarian bahasa Indonesia yang bak dan benar di tengah perkembangan globalisasi.

Globalisasi juga dapat ditandai dengan munculnya serta berkembangannya teknologi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan hidup dan kenyamanan manusia.” Perkembangan globalisasi pada abad ke-21 ini sangat pesat jika dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat, sehingga komunikasi antar manusia di negara-negara yang terpisah jauh pun dapat dilakukan dengan praktis tanpa perlu memakan waktu yang lama. Percepatan serta perpindahan informasi ini kemudian juga mempercepat proses keterkaitan dan ketergantungan antar manusia di dunia. Hubungan-hubungan langsung seperti perdagangan pun semakin kuat dengan adanya berbagai metode untuk berinteraksi, misalnya dengan memanfaatkan jaringan internet, gawai, ataupun pos elektronik. Selain mendorong adanya keterbukaan informasi di berbagai belahan dunia, teknologi informasi pada abad ke-21 ini juga mendukung kebebasan masyarakat untuk menyuarakan pendapat, opini, dan ideologi yang terkadang membahayakan budaya dan bahasa di suatu negara. Hal seperti ini merupakan salah satu dampak negatif dari era globalisasi, karena nilai-nilai luhur yang terdapat pada suatu bangsa dapat luluh dan dapat dengan mudah terkikis oleh arus globalisasi yang relatif lebih kuat, seperti mempengaruhi budaya berbahasa. Fenomena globalisasi yang semakin kuat sehingga menghadirkan tren-tren bahasa yang berkembang di dalam maupun luar negeri. Tren-tren bahasa tersebut bisa langsung berkembang  menjadi bahasa sehari-hari oleh masyarakat Indonesia seperti penggunaan kata download dan upload yang sangat mendarah daging pada kalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut tentu tidak dapat dihindari, karena bahasa-bahasa lain di dunia juga banyak yang dipengaruhi oleh bahasa asing maupun bahasa slang dari negara mereka sendiri.

Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa Indonesia, bahasa Indonesia juga merupakan identitas bangsa. Pada era globalisasi sekarang ini bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini sangat diperlukan agar eksistensi serta esensi dari bahasa Indonesia tidak semakin memudar penggunaanya khususnya di ruang publik. Melalui ajang Pemilihan Duta Bahasa Sumatera barat 2020, saya hadirkan Basindo Mendunia. Basindo Mendunia merupakan singkatan dari Bahasa Indonesia Mendunia. Basindo Mendunia hadir untuk mengembalikan eksistensi serta esensi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar secara bertahap dan berkelanjutan. Program Basindo Mendunia juga mempunyai visi untuk melakukan internasionalisasi bahasa Indonesia dengan sasaran utama anak-anak. Meningkatkan kecintaan serta pemahaman akan bahasa Indonesia yang baik dan benar ke ranah publik khususnya kepada anak-anak merupakan salah satu langkah pasti untuk mewujudkan cit-cita bangsa Indonesia untuk melakukan internasionalisasi bahasa Indonesia. Dengan konsep dwi bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), diharapkan anak-anak tersebut mampu untuk membawa bahasa Indonesia ke kancah dunia melalui forum tingkat internasional. (*)