oleh

Fakultas Kedokteran Yarsi Gelar Conference GMC

JAKARTA – Universitas YARSI setelah sukses menyelenggarakan GMC tahun 2015 lalu, melalui Pusat Penelitian Genetik Universitas Yarsi kembali menggelar Genomic Medicine Conference (GMC) 2019, yang diharapkan akan menarik komunitas ilmiah yang lebih luas.

GMC 2019 dengan mengusung tema “Transforming Healthcare in Personalised Medicine Era” akan didukung oleh komunitas Farmakogenomik terbesar di Asia Tenggara, South East Asian Pharmacogenomics Research Network (SEAPharm). GMC merupakan konferensi unggulan dan salah satu brand yang berkesinambungan dari Universitas Yarsi.

Ketua The 8th SEAPharm Conference dan GMC 2019, dr Rika Yuliwulandari di Jakarta, menjelaskan, tujuan yang dibawa komunitas SEAPharm adalah bagaimana mengembangkan farmakogenomik di negara masing-masing dalam satu wadah regional di Asia Tenggara.

“Farmakogenomik dapat menjadi solusi bagi kegagalan terapi obat dan mencegah terjadinya efek samping obat yang merugikan. Khususnya untuk tuberkulosis di mana Indonesia merupakan negara penyumbang ketiga terbesar di dunia”, tambah dr Rika.

The 8th SEAPharm meeting dan GMC menghadirkan Keynnote Speaker dari Inje University Korea Selatan, Prof Jae Gook Shin yang membicarakan mengenai bagaimana implementasi farmakogenomik di Korea Selatan yang membantu banyak pasien di Korea Selatan.

Selain itu pembicara Plenary Talk pada acara The 8th SEAPharm meeting dan GMC juga dihadiri dan representasi dari negara Asia Tenggara, diantaranya, Prof Wasun Chantratita, Mahidol University, Thailand, Pro David Handojo Muljono, Eijkman Institute, Indonesia, R Surakameth Mahasirimongkol, Kementrian Kesehatan dan Public Health, Thailand, Dr Michael Winter dari National University of Singapore.

Selain itu, juga turut hadir Prof Iwan Dwi Prahasto Fakultas Kedokteran UGM Indonesia, Dr Pajaree Chariyavilaskul Fakultas Kedokteran Chulalongkorn University, Thailand, Dr Hau Le Duc, dari Vingroup Big Data Institute Vietnam, Dr Francis Capule University of the Philippines, Dr Lu Zen Huat Universiti Brunei Darussalam, dan Dr Hana Krismawati Litbang DEPKES Papua, Indonesia.

Pembicara plenary talk dari negara representatif Meeting SEAPharm, menekankan pentingnya penelitian dan implementasi penelitian itu sendiri di bidang kesehatan. Farmakogenomik dapat menolong pasien yang menjalani pengobatan, dan terhindar dari efek samping obat, yang menyebabkan kematian.

Disampaikan oleh Prof David Handojo Muljono Eijkman institute, meeting ini dapat menjadi satu momentum dalam meningkatkan penelitian karakteristik genetik yang spesifik dari populasi Indonesia. Nantinya dapat di translasikan dalam pengetahuan, pendidikan, implementasi klinis maupun policy untuk pemerintah Indonesia.

Dalam komunitas ini tidak hanya terdiri dari negara-negara di Asia tenggara saja, tetapi juga dari negara lain yang memiliki tujuan yang sama. Dalam mengimplementasikan penelitian farmakogenomik seperti, Jepang, Korea dan Yunani. (smn)

 

Loading...

Berita Terkait