Opini

Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

×

Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Sebarkan artikel ini
Fadhila Humaira.(ist)

Fadhila Humaira

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan falsafah hidup orang Minangkabau hasil dari kesepakatan tokoh-tokoh adat dan para ulama zaman dulu. Kesepakatan itu tertuang dalam Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam di awal abad ke-19. Namun dalam proses kelahirannya, bermula dengan terjadinya pertentangan antar kedua belah pihak, hingga sempat melewati konflik bersenjata yang melelahkan.

Namun sejarah membuktikan, hasil kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuh dan berkembangnya beberapa angkatan ”generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh dan pemimpin. Baik dari kalangan  alim ulama maupun dari kalangan cendekiawan pemikir dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka terbukti mampu berkiprah di tataran nusantara bahkan menembus dunia internasional. Mereka itulah ujung tombak kebangkitan budaya dan politik bangsa Indonesia pada awal abad ke 20, termasuk dalam upaya kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajah pada pertengahan abad 20.

Sebagai satu kelompok suku kaum yang jumlah penduduknya sangat kecil, yakni kurang dari 3% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia. Namun peran kunci yang telah dimainkan oleh sejumlah tokoh-tokoh besar dan elit pemimpin Minangkabau zaman dulu, telah membuat keterwakilan urang awak dalam kancah perjuangan dan  kemerdekaan bangsa Indonesia terasa melebihi (over-represented). Sejarah mencatat dan tak dapat dipungkiri, bahwa Minangkabau, walaupun sebagai  kelompok etnis kecil, tapi pernah berada di puncak piramida bangsa, baik dilihat dari sudut budaya, ekonomi maupun politik. Putera-puteri terbaik Minangkabau pernah menjadi pembawa obor peradaban (suluah bendang) bangsa besar Indonesia ini.

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) merupakan gabungan ajaran adat dan agama, yang mana dalam pelaksanaannya adat tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama. Secara sederhana dapat diartikan bahwa adat Minangkabau itu berdasarkan agama Islam dan agama Islam sendiri dasarnya adalah Al-Qur’an (Kitabullah).

Sebagai contoh pemanfaatannya, tentu akan sangat bagus sekali jika para konselor menjadikan ABS-SBK sebagai salah satu landasan ketika melakukan bimbingan dan konseling. Dengan demikian, falsafah ini benar-benar menjadi sebuah nilai integrasi antara agama dan budaya, karena keduanya tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan orang Minangkabau (Yuhaldi, 2022).

Konsep ABS SBK tidak terlepas dari konsep Minangkabau yang dapat diterjemahkan ke dalam banyak arti, antara lain adat Minangkabau, kerajaan Minangkabau, bahasa Minangkabau, masyarakat Minangkabau, termasuk letak geografis Minangkabau (Albert et al., 2022). Namun dalam tulisan ini, definisi Minangkabau ini lebih dititikberatkan pada dimensi sosio-kultural daripada dimensi geografis atau regional.

Dari segi sosial budaya, menurut Khoiriyah (2022) penamaan alam Minangkabau adalah cerminan kecintaan orang Minang terhadap alamnya. Sedangkan filosofi ‘alam takambang jadi guru‘ adalah ungkapan keterikatan masyarakat dengan alamnya. Di sisi lain, Albert et al (2022) menyatakan bahwa kehidupan masyarakat Minangkabau itu berdasarkan ajaran Islam. Dengan kata lain, orang Minangkabau wajib beragama Islam, jika tidak, itu artinya bukan orang Minangkabau.

Selanjutnya, istilah ABS-SBK memiliki makna dan arti yang sangat luas dan dalam. Ia tidak hanya sekedar makna kembali ke surau. Namun, untuk memahami falsafah ini secara luas dan mendalam, diperlukan diskusi akademik dengan kehadiran para tokoh-tokoh terkait, yakni kelompok pimpinan tradisi Minangkabau yang dikenal sebagai tigo tali sapilin, tungku tigo sajarangan. Mereka adalah niniak mamak, cadiak pandai dan alim ulama. Niniak mamak dari bagian adatnya, cadiak pandai dari kaum akademisinya, dan alim ulama dari para tokoh Islam (Yuhaldi, 2022).

Albert et al (20220 menambahkan bahwa zaman dulu ABS-SBK merupakan landasan kuat dalam membangun lingkungan sosial budaya Minangkabau, dan terbukti mampu melahirkan kelompok manusia unggul dan tercerahkan. Falsafah ini dapat diibaratkan sebagai ”Surau Kito”, yakni tempat pembinaan ”anak nagari” yang ditumbuh-kembangkan menjadi sarana pambangkik batang tarandam, nan pandai manapiak mato padang, nan  bagak manantang mato ari, jo nan abeh malawan dunia urang, dan di akhiraik masuak Sarugo. Namun, kutiko jalan lah dialiah urang lalu dan kacang lah lupo jo  kuliknyo, maka robohlah Surau Kito.

Begitulah kira-kira gambaran nasib dengan peran yang kini berada di tangan etnis Minangkabau. Suara kita hanyalah sekadar sayuik-sayuik sampai saja, bahkan nyaris tak terdengar. Nampaknya kita perlu bertanya kepada Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin: Baa ko kini Angku PanguluBaa ko kini Buya kami? Baa ko kini Cadiak Pandai (pemerintah) kami?

Mengutip Jeanne Cuisinier, Joko Darmawan (2017) menulis, Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama (kaum Padri) terhadap kaum adat yang mempunyai kebiasaan berjudi, sabung ayam, minuman keras, sampai kepada hal-hal substansi terkait matrilineal, matriakat dan warisan sesuai adat Minangkabau. Padri ingin mengubah semua kebiasaan dan hukum adat tersebut. Zulkifli & Salim Ampera (2005) menyebutkan, tahun 1815 perselisihan itu mencapai puncaknya. Kaum Padri dipimpin Tuanku Pasaman menyerang pusat Kerajaan Pagaruyung yang menjadi basis kaum adat.

Opini

Oleh Eriandi Kasus perundungan atau bullying kembali terjadi…