oleh

Ferizal Ridwan Telusuri Batang Maek, Ini Hasilnya

LIMAPULUH KOTA – Penceraman air di Batang Maek, tepatnya di Nagari Tanjuang Pauah dan Tanjuang Bolik, Kecamatan Pangkalan Koto Baru mendapat perhatian luas pasca-ditemukannnya ribuan ikan mati. Aktivitas yang dilakkukan PT Berkat Bhineka Perkasa (BBP) diduga kuat mencemari air Batang Maek. Selain melakukan pencemaran air, PT BBP juga diduga mempekerjakan 14 tenaga kerja asal Cina.

Hal itu tergambar ketika tim dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota langsung menindaklanjuti temuan Walhi Sumbar terkait adanya dugaan pencemaran air yang mengakibatkan matinya ribuan ikan di Batang Maek, turun ke lokasi. Tepat Jumat (25/10) siang, Wakil Bupati Ferizal Ridwan bersama BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Badan SAR Nasional (Basarnas) melakukan penelusuran ke lokasi tambang timah hitam. Tambang tersebut diketahui dikeloka oleh PT BBP yang terletak di tengah hutan Nagari Tanjuang Bolik.

Dalam penelusuran itu, selain bersama OPD terkait, Ferizal Ridwan turut ditemani Camat Pangkalan Koto Baru serta Walinagari Tanjuang Pauah. Wartawan yang ikut dengan rombongan, turut meninjau aktivitas tambang dan kondisi tambang timah yang diduga menjadi penyebab pencemaran air sungai.

Lokasi tambang milik PT BBP berada sekitar 7 kilometer dari simpang empat Nagari Tanjung Pauah. Walinagari Tanjuang Pauah Taufik JS menyebutkan, tambang timah hitam tersebut sudah beroperasi sejak lama, yakni sebelum 1995 silam. Hanya saja, baru kali ini terjadi pencemaran air Batang Maek, yang menyebabkan matinya ribuan ikan. “Setahu saya baru kali ini ada pencemaran air Batang Maek setelah sekian tahun. Saya jadi walinagari sudah dua periode, baru sekarang menerima laporan dari warga kami para nelayan yang beraktivitas di sepanjang sungai. Sebelum-sebelumnya tidak ada pencemaran,” ujarnya kepada awak media.

Pantauan tim media di lokasi, kondisi air Batang Maek memang terlihat keruh. Air sungai sekitar 1 kilometer dari waduk PLTA Koto Panjang tersebut, terlihat tenang dan berwarna coklat. Sendimen berupa lumpur dan sisa limbah tambang diduga menjadi pemicu terjadinya pencemaran Batang Maek.

Wakil bupati kepada wartawan, Sabtu (26/10) mengatakan terkait tindaklanjut pemerintah daerah untuk penanganan pencemaran air, mengaku belum bisa berspekulasi perihal penyebab matinya ribuan ikan di aliran Batang Maek. “Nanti kita akan teliti dulu kandungan air sungai, baik di hulu dan hilir. Hasil uji laboratorium akan menentukan penyebabnya,” ucap wabup.

Ferizal menyebut, dirinya juga sudah bertemu dan memintai keterangan dari pengelola perusahaan tambang timah hitam tersebut. “Saya juga tadi konsultasi dengan konsultan lingkungan dari PT BBP. Ia mengakui, memang ada kebocoran pengolahan limbah, tapi membantah penyebab pencemaran dari limbah tambang. Makanya, ini butuh kajian teknis, termasuk buat penanganannya. Kita akan lakukan rapat koordinasi,” tutur Ferizal. (bule)

Loading...

Berita Terkait