Gaek Balevis

Oleh: Khairul Jasmi

Sekarang kelakuan orang banyak berubah, oleh berbagai sebab, antara lain karena ikut-ikutan. Ikut komentar politik, jadi “ahli” politik, benci pada yang bicara agama, juga senang pada yang memuja-muja agama.

Benci pada calon presiden, senang pada calon lain. Manyangkak hatinya melihat kampungnya sendiri karena urusan politik. Mulai rajin membaca, tapi malas shalat. Rajin shalat, tapi suka posting yang tidak-tidak di mendsos.

Sekarang kelakuan orang banyak berubah, yang kaya suka bertani dengan membeli atau menyewa lahan di desa. Orang desa, mulai bekerja jadi broker ketek-ketek.

Walau begitu, tukang palak ada dimana-mana. Mulai dari urusan parkir di obyek wisata, urusan satu truk pasir sampai proyek besar. Calo juga banyak, masih sebanyak dulu juga.

Yang kurang, lapangan pekerjaan. Yang banyak, orang bercerai. Yang tertangkap di hotel melati pun demikian. Ada saja selalu. Yang juga banyak sarjana baru, sarjana lama yang masih menganggur, bertemu di dunia nyata, berselancar di medsos, lupa bahwa hari sudah siang.

Sekarang kelakuan orang banyak berubah, dulu baju harus masuk ke celana, sekarang mesti keluar. Sekarang makin banyak gaek balevis, dulu ada juga namun sedikit. Levis atau jeans, mana yang benar? Pokoknya itulah, sepekan dipakai masih oke.

Sama celana panjang anak dan cucunya dengan dia, ukuran sama pula. Marentenlah gaek ini. Marenten saja, tak ada yang lain. Paling ngopi di kafe, dibayar teman.

Emak-emak pun begitu, rintang oleh tanduk saja. Tiap sebentar selfie dengan dua jari diacungkan. Makin sering difoto, makin bersih wajahnya di foto itu, bukan dalam dunia sebenarnya. Maka ramailah medsos oleh foto-foto tepi laut tepi sawah di mall di kafe di mobil, di teras, di rumah rancak dan dimana saja.

Gaek balevis dan emak-emak muka kinclong adalah gaya masa kini oleh orang masa lalu. Meniru anak dan cucunya. Tak ada yang salah, sebab hidup bahagia mesti dinikmati siapa saja.

Apa salah bapak-bapak pakai levis dan celana katun? Dan Emak-amak berselfie? Tak ada. Yang ada mula-mula terlihat tak biasa saja, namun kemudian lumrah.

Maunya Anda begini: bersarung-sarung saja di rumah, lalu ke surau atau masjid. Itu iya juga, hidup riang iya pula. Bukankah harapan usia hidup makin tinggi.

Apa kita suka, melihat orang baru pensiun, sudah seperti karisiak saja. Tak berseri lagi. Itu teori lama. Teori baru, hidup makin hari makin cemerlang dan amal kemanusiaan makin tinggi, apalagi ibadah.

Itu kata saya, belum tentu cocok dengan pangana khatib jumat. Belum tentu cocok dengan keinginan dosen, guru, ustad, orator warung kopi dan tokoh yang tagak di perlintasan di dunia maya.

Siapa yang lewat dia skak. Untuk pilpres saja, kita berbeda apalagi pikiran. Yang sama apa? Condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak. Itu pastilah sama. Jadi kalau gaek balevis, agak melirik-lirik, perdiarkan saja.

Itu pula dunianya, sekadar melirik. Kalau emak-emak bergembira ria dengan karaoke di pertemuan-pertemuan dan berfoto ria, perdiarkan saja. Dunia sekarang tak sesempit daun kelor lagi. Dulu juga tidak ya hahaha.

Hidup orang makin bahagia rupanya dan saya lihat makin suka menolong. Semua itu mengubah kelakuan. Makin banyak yang suka meminta, lebih banyak dari yang memberi. Itulah keseimbangan hidup.

Ayuk ngopi, tanpa gula atau kalau tak kuat pakai gula aren. Seruputlah, jangan lupa bayar, uang kontan atau debit. Memang sudah banyak gaya dunia sekarang. Tungkus….*