Tak Berkategori  

Gempa Besar Katanya

Khairul Jasmi

Khairul Jasmi

Pada suatu akhir pekan pada 2010, kota Padang senyap. Warga pura-pura berlibur ke Bukittinggi. Sesungguhnya hari itu, mereka ditikam rasa takut yang amat sangat. Kenapa? Orang bersekolah tinggi menyebut akan ada gempa dahsyat di kota mereka. Tsunami akan tiba.

Beberapa hari lalu, pernyataan itu muncul lagi, lengkap dengan jumlah korban.

Potongan beritanya seperti ini:

VIVA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengungkapkan, berdasarkan pendapat para ahli, jika terjadi patahan Megathrust Mentawai, akan terjadi gempa bumi berkekuatan 8,9 magnitudo. Patahan ini juga diprediksi akan memicu tsunami di Kota Padang.

Bencana alam tersebut diprediksi setidaknya berdampak pada 1,3 juta penduduk. Dengan menggunakan skenario terburuk, diperkirakan 39.321 jiwa meninggal dunia, 52.367 hilang dan 103.225 mengalami luka-luka.

Adab komunikasi

Tentu ilmu orang-orang biasa seperti kita-kita ini, tak sampai ke sana. Yang rakyat tahu, kalau gempa besar, lari! Lari sejauh mungkin ke arah ketinggian. 

Urusan pemerintah? Menyiapkan shelter, jalur evakuasi yang lebih dari cukup? Sudah ada di Padang? Daripada tidak, sudah.   Juga sudah ada garis di atas aspal, “batas tsunami” 

Cukup? Jauh dari cukup. Lalu kenapa shelter dan jalur evakuasi tidak ditambah oleh pemerintah? Lupa. 

Pada 2010 di Padang direncanakan: bukit buatan di dekat bandara Tabing. Shelter di Simpang Kandang. Gedung-gedung baru jadi shelter, maka direlakan bangunan baru tak apa-apa tanpa gonjong. Benarkah itu untuk evakuasi? Naik sajalah ke gedung baru di Padang, saksikan sendiri. 

Dalam adab berkomunikasi, seharusnya yang disampaikan adalah “obat.” Obat itu: pemerintah segera membangun sekian shelter dan sekian jalur evakuasi di Sumbar. Pemerintah akan menanam bakau di pantai, bukan membangun gedung menjulur sampai ke pantai. 

Pemerintah menyediakan dana untuk sosialisasi. Pemerintah segera meniru Jepang, mendrop satu ransel ke tiap rumah warga di zona merah. Isinya, kotak P3K, senter, handuk kecil, topi, payung kecil, gula dan entah apalagi. 

Perintah Sumbar  yang baik ini, juga sudah menyediakan lokasi pengungsian, bukan nanti membiarkan rakyat memenuhi jalan raya seperti By Pass. 

Itu yang sama-sekali belum dilakukan. Yang ada mengulang informasi akan ada gempa besar lengkap dengan jumlah warga yang tewas. Ini yang saya sebut kurang adab. Adab itu selalu di atas ilmu. 

Tahukah Anda? 

Tahukah Anda, apa dampak kabar buruk itu? Terbang-terbang darah rakyat dibuatnya. Tahukah Anda, bagaimana orang tua, mencemaskan anak-anaknya? Tahukah Anda, rumah di zona merah, keluar darah hendak menjualnya sudah tak laku. 

Untuk membuat orang stres dan gula darahnya naik, gampang. Yang susah? Berobat ke dokter, sebab uang tak ada. Jika Pun ada, urusan cari nafkah tak bisa dihentikan. 

Tahukah Anda? Asmong. (*)