Tak Berkategori  

GM Hotel Banting Setir Jadi Pengusaha Pangan

Oleh Arief Pratama 

Pandemi Covid-19 berdampak pada semua sendi kehidupan. Paling parah tentu sektor ekonomi. Banyak bidang usaha yang terimbas, ada yang beralih jenis usaha, bahkan ada juga yang tutup.

Tak sedikit juga pelaku usaha yang melakukan pengurangan karyawan, efisiensi, reschedule kredit  dan lainnya. Di sisi lain, pemerintah berusaha meminimalisir dampak kondisi ini, baik dengan stimulus modal, relaksasi kredit dan program lainnya. Tapi angka pengangguran tetap melonjak akibat tidak ada pertumbuhan ekonomi imbas dari rendahnya daya beli.

Kondisi ini dipahami Budi Rahmat Kurnia. Ia tak ingin berlama-lama terjebak dalam ‘kemelut’ dampak pandemi ini. Butuh waktu untuk berfikir dan merenung, general manager (GM) salah satu hotel berbintang di Padang ini pun banting stir. Usaha penjualan pangan jadi pilihan ayah empat anak ini.

Ditemui dikediamannya di kawasan Lubuk Begalung, Padang, pria kelahiran Jakarta 29 Desember 1980  yang besar di Tanah Datar dan Kota Padang ini mengakui sebelumnya tidak pernah terlintas dibenaknya mengeluti usaha di bidang pangan. Namun melihat peluang di masa pendemi Covid-19  ditambah dukungan  dari berbagai pihak ia memberanikan diri untuk meninggalkan posisi yang dulunya ia impikan dengan membuka usaha pangan.

Padahal posisi GM hotel tak mudah juga diraihnya. Ia mulai dari bawah, karyawan biasa. Tidak hanya di Padang, tetapi juga di Pekanbaru, Riau. Sudah di puncak, ditinggalkannya pula. Tak sedikit pula tawaran di posisi yang sama datang kepadanya dari owner hotel lain, dengan penghasilan yang menggiurkan.

Tetapi langkah yang diambil dan pengorbanannya tak sia-sia. Diawali dengan modal tak seberapa, sekarang Budi dengan bendera BRM Jaya sudah memberikan lapangan kerja bagi masyarakat, baik di Padang dan sejumlah daerah lain di Sumbar.

Pria kelahiran 29 Desember 1980 ini terlihat sangat jeli melihat peluang yang ada. Di tengah pandemi, bagaimana pun juga barang-barang pangan seperti beras, minyak goreng, gula, susu, dan lainnya tentu dibutuhkan masyarakat, bahkan prioritas utama. Bagaimana pun susahnya masyarakat, sembako ini mau tak mau harus ada.

Persoalannya tentu pada harga. Di sini terlihat kecerdasan dan pengalaman seorang Budi. Jika hanya mengandalkan pasokan barang di sini saja, tentu ia kalah bersaing dengan usaha sejenis yang sudah mengakar lama.  Untuk itu, ia datangkan barang-barang tersebut dari daerah lain, baik Pulau Jawa dan provinsi lain di Sumatera. “Dihitung-hitung modal barang dari sana, ditambah transportasi kita bisa bersaing di sini. Ini berkat dukungan kawan-kawan juga,” katanya.

Dengan strategi demikian, maka jadilah ia pemasok tetap untuk banyak retail di Kota Padang, Bukittinggi, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya, Payakumbuh, Solok, Pasaman Barat dan lainnya. Tak sedikit juga di minimarket bahkan pusat perbelanjaan besar terpajang barang-barang perusahaannya.

Toh, ia dipercaya sebagai distributor sejumlah merek seperti gula, minyak goreng, minuman dan lainnya. “Saya bersyukur dengan semua ini. Mudah-mudahan ke depan semakin baik,” katanya.

Tidak hanya sampai di situ, kini ia juga dipercayakan sebagai Pengurus Serikat Pekerja Transportasi Nasional Indonesia (SPTNI)  Sumbar periode 2020-2025 wilayah Tanah Datar, Padang Panjang, dan Pesisir Selatan.

‘Kegalalan bukanlah hal yang fatal, tapi awal dari kesuksesan, bekerja keras dan tidak ada pernah kata terlambat’, mottonya dalam berusaha agaknya benar-benar diterapkan dalam kehidupannya.

Budi pun mengajak masyarakat Sumbar untuk tak abai dengan protokol kesehatan, dengan tetap memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M) agar Covid-19 berlalu dari daerah ini, sehingga kehidupan normal lagi, dan ekonomi masyarakat kembali membaik. (*)