Tak Berkategori  

Gua Hira, di Sini Sejarah Itu Dimulai

Suasana di Gua Hira (foto ist)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Suasana di Gua Hira (foto ist)

Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min’alaq. Iqra’ warabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam (Surat Al’alaq 1- 5.)

***

Pagi sudah sempurna menjelma di Makkah Almularramah. Cahaya lampu berpendar dan bersatu, mempersembahkan kemilau nan indah, seperti parade akbar. Manakjubkan.

Itulah yang tampak pada subuh, Minggu (12/8). Di tempat ini, pada suatu hari 14 abad silam, Muhammad, menggigil ketakutan. Sekuat yang beliau bisa, berlari menuju rumah di Makkah. Ini pertama dalam sejarah hidupnya. Pria itu ketakutan. Sang istri Khadijah menyambut tak kalah cemasnya.

Sejarah pun dimulai. Karena sejarah hebat itulah sejumlah jemaah Nurzikrillah sampai di puncak bukit, di sinilah terdapat gua dramatis dalam sejarah Islam: Hira!

Gua ini sempit, sepi. Di tempat sesempit itulah dimulai masa kenabian Muhammad, sesuatu yang sudah diterka sejak awal oleh  Pendeta Buhaira di negeri Syam.

Wahyu pertama dibacakan Malaikat Jibril di gua ini. “Iqra,” seperti dalam Surat Al’alaq 1- 5.

Bukit batu itu tingginya 281 meter,  panjang pendakian 645 meter. Bagi yang tak biasa mendaki maka akan lama turun dari naik.

Lokasi ini ada di wilayah Hijaz, terpaut sekitar 6 Km dari Makkah Al-Mukarramah. Letaknya di Jabal Nur, bukit batu tak berdaun, sebuah bukit setinggi Gunung Padang saja.

Dari puncak ini kita bebas memandang Makkah yang gemerlap. Melihat hamparan alam Padang Pasir paling ganas di dunia.

Di dekat gua sempit ini, sebagian kawan-kawan saya menunaikan Shalat Subuh dalam getaran jiwa yang sulit dilukiskan. Lalu dilanjutkan dengan dhuha beberapa saat kemudian. Tentu saja sujud syukur. Beberapa orang lainnya shalat di masjid saja.

Kawan-kawan saya bangun mendahului subuh, berangkat dari hotel dalam hening menuju ke titik nol sejarah Islam itu. Mendaki dengan semangat dan rasa ingin tahu melebihi keingintahuan hari pertama sekolah.

Mereka rombongan pertama yang naik, Noor Arias Syamsu, Sukron, Syarli Can, Syafarialdi dan Dayat. Pada hari yang berbeda mendaki pula M. Nazer dan sejumlah lainnya.

Napak tilas spritual

Menurut Noor Arias, untuk mendaki sebelum subuh masih sepi. Ia memerlukan waktu 40 menit naik dan turun 30 menit. Untuk semua urusan di atas lebih dua jam, termasuk minum pagi di kantin yang juga ada di puncak.

Begitu sampai di puncak, katanya, ia disergap perasaan campur aduk. Perjalanan spritualnya semakin lengkap dengan melalukan napak tilas ke Gua Hira itu. Noor Arias sempat shalat subuh dan berdoa di dalam gua selebar tikar shalat itu.

Pria yang berhaji bersama istri dan anaknya itu, mengabadikan beberapa momen tak terlupakan, baik foto atau video. Suasana Makkah kala pagi yang sungguh indah, orang-orang yang berdoa dan lainnya, seperti rombongan jemaah dari China yang sedang berdoa. Kemudian memoto kawannya yang meminjam topi jemaah Kyrgistan yang lucu.

Begitu sampai di lokasi tak langsung bertemu gua tapi harus menyisir dulu sejauh 6 meteran, lalu ada ceruk dan setelahnya baru gua. Beberapa anak bangsa lain juga sudah sampai di sana, seperti China, Kyrgistan dan lainnya.

Ia melihat jalan ke puncak selain dilengkapi 1.200 anak tangga, juga pagar. Semua dibuat oleh warga bukan kerajaan. Bahkan ditemukan warga yang masih menyemen anak tangga baru. Di depan mereka ada kotak sedekah.

“Guanya sempit sekali, di sanalah Nabi kita menerima wahyu pertama,” kata dia. Sesempit apa? Sajadah, lebih sedekit.

Noor Arias tak hendak turun seperti juga jemaah lain, tapi harus. Itulah sebabnya mereka membawa semua kenangan, nanti pulang ke Tanah Air dikisahkan pada saudara.

Sejak SD

Pendaki berikut Sukron. Menurut dia, hatinya sudah pakek ke Gua Hira sejak awal. Ia mendengar kisah gua tersebut pertama saat kelas 2 SD, bersambung waktu MDA di Surau Batu Parabek, Bukittinggi. Selanjutnya mulai mendalam setelah membaca orang tuanya.

“Itu buku Sejarah Hidup Muhammad, karangan Hussein Mohammad Haekal, yang tebal warna hijau,” kata dia.

Setelah sampai di atas, Sukron melihat guanya ternyata tidak besar, dan tidak punya ruang tempat bernaung yang dia bayangkan. Cuma ada batu teleng menaungi ruangan kira-kira dua tempat shalat.

Batu yang pertama agak masuk ke dalam. Pas untuk satu lapiak sumbayang, satu lagi di sebelah kanannya, lebih tinggi dari yang pertama. Agak kecil pula.

“Di sana kami sujud syukur, lalu membaca shalawat dan terakhir membaca 5 ayat dari wahyu pertama itu,” kata dia.

Sukron meraba dinding dan langit-langit gua. Sangkaannya doeloe suara Jibril tentu memantul di bebatuan itu. Kenangan masa kecil pria ini, telah membawanya naik ke Gua Hira.

Naik habis Isya

Adalah M Nazer, jemaah Nur Zikrillah juga bersama rombongan naik sehabis Isya, keesokan harinya.

“Walaupun panjang pendakian hanya 650 meter, namun sudut pendakian cukup tajam hampir menjelang puncak sekitar 45 derajat. Ambo dan rombongan barangkek habis lsya dari Haram,” katanya.

Tak ada lampu sejak mendaki sampai di puncak meski begitu jalan masih tampak. Seperti juga Arias dan Sukron, sepanjang pandakian menjalang puncak banyak ditemukannya warga yang memperbaiki anak tangga. “Ada kardus infak juga,”sebut Nazer.

Ia sampai pada di puncak dan mencoba membayangkan perjalanan Nabi ke sana. Rasa puas tak bisa dilukiskan, seolah ia kembali kanak-kanak mendengar kisah Gua Hira dari guru. Tidak. Ia malah berdiri sekarang di sini. Rasa syukurpun terucap.

Sampai di puncak tidak langsung bertemu dengan gua tujuan, tetapi harus turun lagi ke lereng sabaliknya beberapa meter.

“Saat itu kebetulan saya sendirian yang telah sampai di pintu gua, kawan-kawan masih agak jauh di belakang,” katanya. Tak ada cahaya. Agak gelap, meski begitu ia bisa melihat mulut goa. Sekejap kemudian ada dua jemaah dari Oman dan lekas saja mereka membantu dengan senter lampu HP.

“Maka masuklah saya, di tempat Rasulullah menerima wahyu pertama,” kata dia. Di sana ia berusaha beradaptasi sejenak.

“Ada pertanyaan dalam kepala saya mengapa pemerintah Saudi tidak menyediakan lampu penerangan jalan atau bahkan cable car? Karena biayanya tak seberapa untuk ukuran kantong mereka.

Kemudian saya jawab sendiri jika pencapaian gua tersebut dipermudah, maka para pendaki tidak bisa merasakan bagaimana perjuangan Rasulullah sampai ke puncak dalam rangka menegakkan agama lslam.

Pak dosen ini menemukan coretan cukup banyak di batu sekitar goa, kemudian banyak sarok baserak serak sapanjang jalan tarutama botol air mineral. Hal itu, kata dia, manandakan kesadaran pendaki (penziarah) kepeduliannya pada lingkungan, rendah. Padahal agama lslam mangatakan, kebersihan adalah sebahagian dari iman. Sering dibaca, tapi jarang dipakai.

Nampaknya, kata dia,  implementasi agama dalam kehidupan masih memerlukan peningkatan kualitas agar lslam benar-benar bisa manjadi rahmatan lilalamin.

Sejarah dimulai

 

Sejarah penting, sering muncul dari tempat tak terduga. Muhammad, suami Khadijah binti Khuwailid, yang sering menyendiri ke Gua Hira pada suatu malam kedatangan tamu. Jibril. Beberapa kali disuruh membaca, Muhammad selalu menjawab, ia tak bisa. Akhirnya setelah dibacakan Jibril, Muhammad kembali ke rumah. Istrinya orang pertama yang mengakui kerasulan Muhammad.

Ajaran Islam dimulai dari celah batu di bukit pinggir kota Makkah itu, yang kita kenal sebagai Gua Hira. Bagaimana doeloe, seperti itu juga kini. Saya sejak kecil mendapat kisah soal gua tersebut dijalin dengan kisah-kisah Nabi lainnya. Rasa hormat pada Nabi dan keingintahuan bersatu, itulah yang mengantarkan jemaah naik ke bukit batu tersebut. Bisa satu atau dua jam baru sampai bagi yang sudah berumur.

Mereka yang ziarah ke Gua Hira akan amat lengkap jika mampir ke rumah kelahiran Rasulullah. Kisah-kisah humanis dari Nabi kita itu, amat banyak dan itu menarik.

Kawan-kawan saya bukannya sedang mendaki bukit pada Minggu subuh itu, melainkan semacam napak tilas. Mencoba menikmati perjalanan spritual, mana tahu semacam itu pula susahnya Nabi memanjat bukit tersebut di zaman lampau. (bersambung)