Gulai Tunjang di Eindhoven dan Colombo Plan

Oleh: Zulfan Tadjoeddin

Rombongan mahasiswa New Colombo Plan (NCP) Study Tour dari Western Sydney University ke Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, November 2017.(*)

Ketika musim dingin mulai datang, di awal Desember 2005, kami tiba di Centraal Station, Eindhoven, Belanda, tak lama setelah mendarat dari liburan singkat di Roma, Italia. Matahari sudah tenggelam tatkala kami mampir di Eindhoven. Saat itu kami sebenarnya dalam perjalanan kembali ke Den Haag. Saya dan istri tengah sama-sama menjalani studi master di Belanda.

Roesjdy Maruhun menjemput di stasiun dan membawa kami ke apartemen kediamannya di kota Eindhoven itu. Kami pun siap memenuhi undangan jamuan makan yang luar biasa, gulai tunjang.  Ya, di kota yang dingin dan basah itu, di belahan bumi Eropa, kami mendapat kemewahan gulai tunjang nan gurih, panas, nikmat tiada tara.

Roesjdy adalah satu dari ribuan mahasiswa yang dikirim Republik Indonesia untuk kuliah ke Uni Soviet di awal tahun 1960-an. Ia menyelesaikan studi Bachelor dan Master di bidang teknik mesin di People’s Friendship University (1962-1969), Moskow. Sebelum terbang ke Moskow pada tahun 1962, Roesjdy sempat kuliah satu semester di ITB, Bandung. Peristiwa 1965 di Jakarta menyeret nasibnya menjadi seorang eksil.

Saya pertama kali bertemu Roesjdy di rumah salah satu koleganya di Leiden, Belanda. Namanya Mintardjo, bekas mahasiswa Indonesia di Rumania. Rumah Mintardjo sering menjadi tempat kumpul-kumpul group Eksil 65 di Belanda. Setiap kali bertemu, Roesjdy selalu bilang, “mainlah ke Eindhoven, nanti saya buatkan gulai tunjang”.

Roesjdy dan Mintardjo sama-sama piawai memasak. Jika Mintardjo terkenal dengan sop buntut-nya, Roesjdy adalah jagoan gulai tunjang.

Namun, tentu tak cuma memasak yang menjadi keahlian Roesjdy dan Mintardjo. Bagaimanapun, mereka adalah anak-anak muda terbaik milik Republik pada awal dekade 60-an. Peristiwa 1965, naiknya Soeharto, dan tersingkirnya Soekarno, yang membalikkan nasib Roesjdy dan kawan-kawan. Mereka menolak menandatangani pernyataan bahwa Soekarno bertanggung-jawab atas peristiwa G30S, dan menyatakan kesetiaan pada Soeharto.

Akibatnya tragis. Paspor mereka dicabut. Roesjdy, Mintardjo, dan kawan-kawannya menjadi stateless, eksil.

Roesjdy sangat nasionalis, cinta tanah air, dan mengagumi Soekarno. “Kami dikirim Presiden Soekarno ke Moskow untuk belajar, untuk kemudian kembali ke Indonesia, membangun negeri.”

Rencana yang lantas berantakan. Roesjdy pun tidak bisa menyembunyikan kegeraman pada Soeharto. “Dia mencabut paspor kami. Negara telah zalim kepada rakyatnya.” Pengiriman terakhir mahasiswa ke Uni Soviet oleh pemerintahan Presiden Soekarno terjadi pada Oktober 1965.

Setelah selesai S2 dan berkerja berapa tahun di Moscow, Roesjdy pindah ke Jerman Timur tahun 1972. Runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin membawa berkah. Roesjdy bisa pindah ke Belanda dan akhirnya mendapatkan paspor. Tetapi bukan paspor dari negara yang mengirimnya sekolah ke Moskow, melainkan paspor negara bekas penjajah negerinya dulu.

37 tahun menahan rindu, akhirnya Roesjdy kembali bisa menemui amai-nya di Payakumbuh. Amai adalah sebutan untuk ibu di kampung halamannya. Itu terjadi pada tahun 1999, beberapa bulan setelah Soeharto lengser. Saat itu, usia sang ibu telah lebih dari 80 tahun. Teman-teman Roesjdy yang lain mungkin tak pernah merasakan “kemewahan” seperti itu.

Ada ribuan Roesjdy di Eropa yang kemudian disebut kelompok Eksil 65. Mereka kelayapan dan sebagian telah meninggal. Nasib mereka mungkin lebih baik dibandingkan korban Orde Baru yang terbunuh, ditahan tanpa peradilan, dibuang ke Pulau Buru, atau didiskriminasi secara politik-sosial-ekonomi. Tapi yang mereka alami tetap saja merupakan kezaliman yang kelam.

Roesjdy tutup usia di Jakarta, pada usia 77 tahun, di bulan Januari 2020 lalu. Ia dimakamkan di bumi negara yang sangat dicintainya, Republik Indonesia, dengan status sebagai warga negara Belanda.

Kenangan hidup Roesjdy kemudian dituliskan istrinya, Suryana Agustin, dalam bentuk buku berjudul  “Mengapa ke Moskow, Uni Soviet”, dan terbit pada pertengahan 2022. Di sana tertulis titah Presiden Soekarno kepada para pemuda Indonesia yang mendapat tugas belajar kala itu, “Tuntutlah ilmu di negeri orang. Pulanglah dengan keahlian untuk membangun Indonesia.”

oOo

Satu dekade setelah jamuan gulai tunjang di Eindhoven, saya bertemu Jon Imran dan Wan Noesjirwan di Sydney, Australia. Mereka adalah dua pemuda Republik yang mendapatkan beasiswa Colombo Plan di tahun 1960-an untuk kuliah di Australia dan New Zealand.

Menamatkan SMA di Medan, Jon belajar teknik kimia di UNSW, Sydney. Dia diberangkatkan ke Australia di penghujung tahun 1965 bersama sebuah rombongan yang terdiri dari 39 orang anak muda. Menjelang berangkat, mereka dijamu makan malam oleh Duta Besar Australia di Jakarta.

Sebagaimana Roesjdy, Jon dan kawan-kawan juga mendapat perintah dari Presiden Soekarno untuk mencari ilmu dan memperkenalkan Indonesia ke seluruh Australia, lalu kembali dan berbakti untuk negeri.

Tahun 1969 dia pulang ke Indonesia tetapi tidak menemukan pekerjaan yang baik. Mungkin tersebab karena ekonomi Indonesia yang morat-marit dan dominannya peran militer. Tahun berikutnya dia kembali ke Sydney. “Di Australia, saya banyak mengembara. Mencoba di banyak bidang, terutama engineering dan farming,” tutur Jon.

Jon mengenang, betapa kawan-kawannya dulu adalah orang-orang yang hebat. Salah satu kawan Jon, sesama orang Indonesia penerima beasiswa Colombo Plan, ada yang menjadi spesialis peluru kendali. Dia lantas menjadi asset Australia. Rumahnya dijaga intel setiap hari, selama 24 jam, supaya tidak lari ke negara lain.

Kawan Jon lainnya yang sama-sama bekas penerima beasiswa Colombo Plan adalah Wan Noesjirwan. Tapi Wan tidak kuliah di Australia melainkan di New Zealand. Wan berangkat tahun 1961 dengan rombongan 40 anak muda. Dia kuliah di Victoria University of Wellington, di ibu kota negara kiwi tersebut. “Sekarang tinggal saya yang masih hidup”, kata Wan yang kini sudah lewat delapan puluh tahun. Ia berasal dari Batu Palano, di kaki Gunung Merapi, Sumatra Barat.

Saat ini, Wan menikmati masa pensiun yang nyaman di Sydney. Jon pun begitu.

 

Rombongan 39 mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Colombo Plan dari Pemerintah Australia, angkatan 1965. Mereka berpose sesaat setelah mendarat di Sydney Airport (Foto koleksi Jon Imran)

Barangkali, penerima beasiswa Colombo Plan yang karirnya paling sukses adalah Boediono. Berangkat ke Australia di awal tahun 1960-an, Boediono menyelesaikan sarjana ekonominya di University of Western Australia, Perth, kemudian lanjut studi Master di Monash University, Melbourne.

Boediono sudah menjadi pejabat penting Bank Indonesia sejak akhir era orde baru—dan menjadi pejabat BI masa itu yang lolos dari jerat hukum kasus BLBI. Di masa Presiden Habibie, Boediono menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas. Kecuali di era Presiden Abudrrahman Wahid (1999-2001), Boediono selalu menjadi pejabat penting di bidang perekonomian di era Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga menjabat Wakil Presiden RI tahun 2009-2014.

Jelas bahwa Roesjdy, Jon, Wan, dan Boediono adalah anak-anak muda Republik yang cemerlang. Mereka putra-putra terbaik bangsa pada zamannya.  Mereka beruntung mengecap kesempatan kuliah di negara maju ketika Indonesia, di tahun 1960-an, masih merupakan salah satu negara termiskin di dunia.

Tentu kala itu semangat mereka amat membara. Ingin kuliah sebaik mungkin dan pulang kembali membangun negeri. Namun sejarah menyeret mereka pada nasibnya masing-masing. Takdir mereka berbeda. Dunia dan semua hiruk-pikuk situasi geopolitik kala itu jelas berada di luar jangkauan mereka. Mungkin mereka yang kuliah di negara Barat seperti Australia dan New Zealand akan lebih beruntung dibandingkan yang kuliah di negara-negara blok Timur seperti Uni Soviet atau Rumania.

oOo

Di awal millennium ketiga, saya juga beruntung bisa mengecap pendidikan pascasarjana di Belanda dan Australia. Setelah itu saya intens menjalani kehidupan akademik di Australia. Saya menyaksikan, sejak satu dekade terakhir, pemerintah Australia mengubah model Colombo Plan (CP) menjadi New Colombo Plan (NCP).

NCP ini berbeda 180 derajat dengan CP yang telah memberangkatkan Jon, Wan, dan Boediono dulu.  Jika CP membawa para mahasiswa dari Asia ke Australia, NCP justru mengirim para mahasiswa dari Australia ke Asia. Tentu ini terkait dengan perkembangan geopolitik. Anak-anak muda Australia perlu mengenal lebih dekat negara-negara Asia yang makin penting dan makin strategis bagi Australia.

Sebagai dosen di salah satu universitas di Australia, saya telah empat kali membawa rombongan NCP. Sekali ke Thailand dan tiga kali ke Indonesia. Saya bekerja sama dengan kolega dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, UIN Jakarta, dan UIN Yogyakarta dalam program study tour NCP tersebut.

Anak-anak muda Australia, rombongan NCP yang saya bawa, berasal dari latar belakang yang beragam. Ada yang belum pernah terbang, dan belum pernah ke luar negeri. Ada yang blasteran Australia dan Thai. Ada yang keturunan Iran, Pakistan, Bangladesh, Phillipines, Lebanon, dan Afrika. Semua memegang paspor Australia.

Kepada rombongan mahasiswa Australia yang saya dampingi ke Indonesia, saya tekankan supaya mereka benar-benar bisa mengenali Indonesia dengan baik. “Jaga nama baik Australia dan universitas tempat kalian belajar. Kalian adalah duta Australia,” begitu saya ucapkan.

Dulu, putra-putri terbaik bangsa yang pernah mendapat kesempatan belajar ke luar negeri itu tadi, mungkin  mendapat wejangan yang senada pula.(*)