Tak Berkategori  

Hikmah Malamang di Bulan Maulid, di Nagari Pancuang Taba

Oleh : Bayu Pamungkas 

Malamang atau membuat Lamang adalah kegiatan yang sering dilakukan masyarakat Minangkabau. Lamang adalah makanan khas yang hampir pasti hadir pada hajatan-hajatan masyarakat baik di hari-hari tertentu seperti hari besar Islam, walimahan, atau sekedar ‘palapeh taragak’. 

Pada Bulan Rabiul Awwal misalnya, bulan yang dispesialkan oleh Umat Islam karena di bulan ini Nabi Muhammad Saw dilahirkan. Masyarakat Minang sering menyebutnya dengan bulan ‘Muluik’.  Masyarakat mewujudkan cinta dan rindunya kepada Nabi Muhammad dengan berbagai kegiatan. Ada yang mengundang Ustadz untuk ‘mangaji’, ada keluarga yang mengadakan jamuan untuk anak yatim, dan sebagainya.

Tak terkecuali masyarakat di Nagari Pancuang Taba, Kabupaten Pesisir Selatan. Nagari yang saat Shalat Subuh jamaah rutin laki-lakinya mencapai 30 orang ini juga ikut serta dalam menyambut Maulid Nabi. Meskipun tidak banyak, tapi masih ada beberapa keluarga yang menyambut Maulid Nabi dengan Malamang. Kendati kebijakan telah menggeser hari perayaan Maulid Nabi, semangat Malamang agaknya tidak memudar bagi mereka. 

Kaum Perempuan adalah pemeran utama dalam tradisi ini. Mulai dari pagi hingga siang hari, mereka sibuk bersama anak ‘padusi’ dan tetangga mereka untuk Malamang. Lamang yang dibuat pun tidak banyak seperti hajatan saat ‘baralek’. Secukupnya saja untuk keluarga, dan ada di antara mereka yang malam harinya pada Ba’da Maghrib, mengundang tetangga untuk makan bersama. 

Malamang di bulan ‘Muluik’ saat ini, mungkin tidak sebanyak yang dilakukan oleh masyarakat dahulu. Sehingga yang terlihat jelas adalah begitu menipisnya antusias masyarakat menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Bahkan sejak Corona menyebar, banyak momen-momen keagamaan di tengah masyarakat yang berlalu begitu saja. 

Ada banyak hikmah sebetulnya yang bisa diambil dari tradisi Malamang ini, sekalipun tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi sendiri. Pertama, mengingat peristiwa Agung di tanggal 12 Rabiul Awal, 571 Masehi. Pada waktu itu dilahirkan seorang Nabi dari Suku Quraisy, dengan garis keturunan yang mulia. Kelahiran yang begitu ditunggu-tunggu oleh seluruh alam. Dan memang fakta, peran spektakuler yang dimainkan oleh Nabi Muhammad Saw mampu merubah peradaban kehidupan dunia. Dan tak akan pernah terulang lagi hingga kapanpun. Sehingga umat akhir zaman yang ikut-ikutan bahagia dengan caranya, insyaAllah akan dapat cipratan berkahnya. 

Kedua, mengeratkan kehidupan bertetangga. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Bukhari Muslim). “Dan berbuat baiklah engkau kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Muslim.” (HR. Ibnu Majah). 

Ketiga, bersikap cerdas menyikapi kebijakan yang menggeser hari libur Nasional perihal perayaan Maulid Nabi. Masyarakat sejatinya tau bahwa Maulid Nabi adalah tanggal 12 Rabiul Awwal. Tapi mereka tetap antusias meski jadwal perayaan sudah bergeser. Menunjukkan mereka tahu bahwa berbahagia menyambut hari lahir yang Mulia, tak harus sesuai dengan hari H. Kapan saja, asal tidak sekedar seremonial, tapi ada pesan yang dalam. Jadi tak relevan rasanya kalau ada vonis yang bermacam-macam terhadap yang bahagia atas lahirnya Nabi Muhammad Saw. 

Dengan begitu, kita semua berharap momen penting dalam sejarah yang Agung ini mampu memberikan energi positif berupa persatuan yang indah untuk seluruh umat Islam di dunia, dan Indonesia khususnya. (*)