Tak Berkategori  

Ibadah yang Disubsidi, Suryadi Wizar. Dt. Sutan Siri Batuah

Di sebuah toilet umum tertulis : Buang air kecil Rp. 2.000, BAB Rp. 3000. Setelah selesai saya menuju ‘kasir’ yg ditunggui emak-emak petugas kebersihan toilet tersebut. Saya punya Rp 5000 dan sudah berniat untuk tidak menerima uang kembaliannya.
Di belakang saya ada seorang anak muda yang siap mau membayar ‘tagihannya’ juga. Saya menyerahkan uang 5000 dan bilang, “untuk berdua ya Buk” sambil menunjuk pada pemuda di belakang sambil tersenyum.
Tetapi, ternyata si pemuda menjawab sambil tersenyum juga.
“Terimakasih Pak…. gak apa-apa saya juga mau menyumbang,” katanya sambil menyerahkan uang Rp 2000 kepada ibu itu. Luar biasa, anak muda ini memiliki cara pandang lain terhadap sebuah transaksi. Dalam setiap pengeluaran uang dari sakunya dia menyertakan transaksi dengan Allah di samping soal upah dan jasa semata. Dia menolak disubsidi.
Itu di TOILET —
Pada kesempatan lain, ketika selesai shalat di sebuah masjid megah dan baru di Padang saya sempat tanya-tanya kepada petugas, berapa biaya operasional masjid ini setiap bulannya. Dia bilang tidak tahu, tetapi katanya, semua biaya sudah ditanggung oleh dermawan yang membangun masjid ini. Luar biasa, pantaslah tidak terlihat adanya kotak ‘infaq’ di masjid itu. Masjid pakai AC., Nyaman. Tempat berudhuk sekelas rest room hotel berbintang.
Dari dua kejadian tersebut saya mulai berpikir: Sebenarnya selama ini apakah saya lebih banyak mensubsidi orang lain atau malah saya yang disubsidi orang lain? Tidak semua masjid memiliki donatur atau dermawan yg menjamin biaya operasional masjid tersebut. Banyak yang mengharapkan infaq dari jemaahnya.
Sekarang mari kita hitung apakah di masjid kompleks sendiri, kita termasuk orang yang mensubsidi orang lain atau selama ini kita beribadah justru dibiayai orang lain? Bagaimana cara menghitungnya? Hampir di semua masjid ada papan laporan keuangan. Itu bukan laporan pertanggungjawaban pengurus semata, tetapi dari sana bisa melihat berapa biaya rata-rata perbulan masjid. Biaya listrik, air, honor petugas kebersihan, konsumabel, pemeliharaan dan lain lain.
Katakanlah rata-rata Rp 10 juta perbulan. Kemudian hitunglah berapa rata-rata jemaah termasuk kita setiap waktu shalat (jumlah jemaah Jumat diabaikan saja). Rata-rata 40 orang. Dari 40 orang inilah sebetulnya biaya operasional masjid itu diharapkan. Maka Break Event Point (BEP) nya masjid tersebut Rp 10 jt/40 = Rp. 250.000/bulan/orang.
Jika infaq untuk masjid kita tersebut kurang dari Rp.250.000/sebulan atau sekitar Rp. 8.500/setiap hari maka ketahuilah, ibadah kita selama ini telah disubsidi jemaah yang lain. Jika dari 5x waktu shalat sehari semalam, kita menggunakan masjid 4x sehari maka setiap buang air dan berudhuk seharusnya kita mengeluarkan biaya Rp 2.100. Ini sama dengan biaya ke toilet umum. Untuk masjid masjid yang ber AC, memiliki imam khusus, menyediakan makanan dan minuman gratis tentu biayanya akan lebih besar lagi.
Semoga para dermawan yg selama ini telah mensubsidi orang lain untuk beribadah dengan nyaman, pahala setiap orang tersebut juga mengalir kepadanya. Allah melimpahkan keberkahan atas setiap rezekinya. Aamiin. * penulis #@mewakili pengurus masjid#*