Tak Berkategori  

Ibu Susu Nabi, Terkenang dalam Sepi

Bekas peninggalan ruah Halimah (hansagaf/hansagaf.wordpress.com)
Bekas peninggalan rumah Halimah (hasansagaf/hasansagaf.wordpress.com)

LAPORAN KHAIRUL JASMI DARI MEKKAH

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS Adh-Dhuha (93:6)

DILAMBAI  tak terlambai lagi, dikubik tak terkubik, wanita kurus dengan keledai kurus dan onta betina ringkih itu kian menjauh meninggalkan Ka’bah. Tak lama, lalu lenyap di ujung Makkah.

Di sini, seorang kakek bernama Abdul Muthalib, mulai tenang, sebab sudah seharian tak ada yang mau menyentuh cucunya. Ibu si bayi Aminah, menunduk haru. Sejak tadi kakek ini risau bukan buatan, cucunya yang yatim harus disusukan orang lain. Serombongan wanita dari desa subur bernama Bani Sa’ad telah datang, semua bayi, 39 orang sudah diambil, tinggal si yatim sendirian. Bayi itu Muhammad, nama yang agak asing kala itu. Wanita yang membawa Muhammad ke desanya untuk disusukan bernama Halimatun Sa’diyah (Halimah Sa’diyah)

Kisah ini tiba-tiba keluar dari alam bawah sadar saya tatkala sedang berada dalam kamar hotel sendirian tak jauh dari Baitullah, Mekkah, Selasa (31/7) siang. Sepi. Berkelabat kisah yang didendangkan Umi saya semasa saya kecil dulu di desa, muncul dengan sigap. Saya tak mampu menuliskan cengkok iramanya namun apa yang membuat saya menangis dan tertidur doloe, masih saya ingat sepotong-sepotong. Setelah membaca buku ternyata sama.

Ini antara lain tuturan Umi, zaman kanak-kanak saya: Dahulu di Makkah menyusui anak diupahkan. Di Masjidil Haram ada 40 bayi sudah dapat yang menyusui, kakek Nabi Abd Muthalib sangat risau karena belum ada yang menyentuh cucunya Nabi menyusu sama ibunya Aminah hanya 3 hari. Orang-orang upahan yang menyusui anak datang dari negeri Sa’ad. Nabi paling terakhir mendapatkan ibu untuk menyusu, sebelumnya bayi lain sudah mendapatkan yang menyusui dan dibawa pergi.

Terakhir datanglah Halimahtun Sa’diyah, yang namanya disematkan kampung asalnya Halimah datang dengan onta yang sangat kurus, begitu pun Halimah badannya juga kurus. Begitu Halimah datang, kakek Nabi Abd Muthalib menyerahkan cucunya untuk disusui. Setelah membawa bayi, ontanya tadinya kurus menjadi gemuk, di perjalanan batu dan kayu semuanya memberi salam kepada Nabi Halimah yang kurus dan sakit-sakitan pun sehat dan air susunya menjadi banyak.

Berjalan Jauh
Halimah datang ke Makkah bersama suaminya. Para wanita itu datang untuk mencari upah dari menyusuai anak bangsawan di Makkah. Dari desanya ke Makkah sekarang bisa ditempuh 6 jam dengan mobil lebih kurang sama jarak Medinah dan Makkah. Literature menyebut Makkah-Medinah pada 1923 bisa ditempuh 12 hari dengan kendaraan onta. Jika itu dirujuk maka Aminah juga naik keledai 12 hari.

Situasi perjalanan dari Sa’ad ke Makkah dilukiskan riwayat amat sulit, masa panceklik. Air susu onta tak ada, hujan diminta tak kunjung turun. Pulang balik bisa 25 hari Aminah dan kawan-kawannya membelah padang pasir hingga sampai ke desa ladang pengembalaan kambing itu. Desa dimana penduduknya dengan fasih mengucapkan bahasa Arab. Kefasihan itulah salah satu bekal Muhammad kelak tatkala jadi Rasul.

Di desa itu kini masih ada bekas rumah Halimah, sedang jasadnya dimakamkan di Baqi, Medinah. Halimah meninggal dunia di sana. Ia pergi dari desa menyongsong ganasnga gurun, menuju Medinah hendak menemui anak susuannya yang ajaib. Lama sekali ia rindu. Suatu hari datang kabar anaknya itu sudah jadi Rasul. Halimah memeluk Islam dari orang lain. Sesampai di Medinah ia berjumpa Nabi. Rindunya lepas dan ia pun dipanggil Tuhan.

Tatkala saya di Medinah dipandu Prof. Masnal, kami pamit pada Nabi dan para sahabat. Pamit pada orang-orang yang berkubur di Baqi. Kabarnya di sini dimakamkan hampir 1.000 sahabat Nabi Muhammad SAW.

Empat Tahun
Nabi hidup bersama di desa Bani Sa’ad selama 4 tahun. Sampai usia itu, Nabi hidup dengan ibu kandungnya hanya 4 hari. Kalau tak salah disusui 3 hari dan sisanya oleh Tsuwaibah, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Nabi lahir 12 Rabiul Awal 571 M. Begitu lahir langsung digendong oleh Syifa’ wanita yang menolong persalinan Aminah.

Kala itu, Aminah ingat suaminya Abdullah yang sudah dipanggil Tuhan enam bulan lalu di Yastrib kemudian berganti nama Medinah. Ia ingin berkabar tapi tak bisa. Untung ada mertuanya Abdul Muthalib. Rumah kakek inilah yang saya ziariahi saat datang ke Mekkah pada hari pertama tiba. Rumah tempat Nabi dilahirkan itu ada di salah satu sisi Masjidil Haram.

Dalam sebuah riwayat disebut ayah Nabi tak meninggalkan warisan, kecuali sebuah rumah dan seorang budak. Jangankan onta, talinya pun tidak.  Lantas dengan apa akan diupahkan menyusukannya pada murdi’at (ibu susu)? Terbukti, pembungkus tubuh Nabi kain usang saja, membuat patah selera ibu susu yang sudah datang. Pada akhirnya tak ada yang mau sebab ia yatim dan diragukan hadiah dan bayaran apa yang akan diterima.
Halimah bersama suami datang terlambat karena keledainya kurus tak kencang berjalan. Ia minta izin suaminya agar bayi yang tinggal satu-satunya itu dibawa saja. Suaminya sangat setuju.

Berkah dari Allah
Kabilah wanita dusun itu kemudian bertolak ke pelosok meninggalkan Makkah. Perjalanan pulang menjadi ringan dan Halimah senang saja hatinya. Yang kemudian terjadi hidupnya damai dan berkecukupan. Onta yang tadi ringkih kini sehat dan susunya banyak. Nabi hidup dan bersama saudara sesuannya. Saudaranya itu bernama Damrah. Muhammad hanya mau menetek pada salah satu payudara saja sebab yang sebelah untuk saudaranya.

Kehadiran Muhammad kecil membawa berkah bagi desa itu, kambing pada gemuk dan susunya banyak. Pads suatu hari saat Muhammad dan Damrah sedang menggembalakan kambing datang dua malaikat. Ia menangkap Nabi kemudian membedah dadanya. Mengeluarkan darah hitam dari hatinya. Mencucinya dengan es di bejana emas. Peristiwa itu tak termakan oleh pemikiran Halimah.

Ia percaya akan apa yang disampaikan Muhammad tapi wania ini takut terjadi apa-apa dan Muhammad dikembalikan pada ibunya di Mekkah. Sejak itu ia tak tahu lagi kabar anak susuannya tersebut. Jarak yang jauh menyebabkan ia kehilangan kontak. Barulah berpuluh tahun kemudian ia dapat kabar anaknya jadi Nabi. Ia seolah tak percaya. Bergegas hal itu dikabarkan pada suami dan anaknya.

Maka Halimah pun memeluk Islam, tapi Muhammad dimana? Medinah. Itulah sebabnya ia menyongsong padang gurun nan ganas menuju kota itu. Berjumpa, rindu pun lepas, namun ia segera dipanggil Tuhan.

Saya ingin melihat desa tempat Nabi tumbuh, tapi apakah bisa? Di kamar saya mendengung dan bergumam sendiri mengulang kenangan masa kanak-kanak saya. Walau saya sudah membaca banyak buku namun yang lekat di kepala adalah kisah sebelum tidur, masa jauh ke belakang. Waktu itu saya tak pernah membayangkan akan tiba di Makkah. (*)