In Memoriam Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, CBE

Oleh: Dr. Abdullah Khusairi, MA

Selamat Ibu, hebat. Anaknya sudah doktor…

“Wartawan, saudara?” Pertanyaan itu meluncur dingin dalam ujian tertutup dari seorang profesor, yang di kalangan mahasiswanya dikenal sangat angker. Kerongkongan saya terasa kelat kering, lalu mengangguk dan mengatakan “ya”.

Pagi itu, Rabu 17 April 2019. Ruang 104 yang dingin, entah kenapa terasa hangat. Prof. Azra memulai dengan menyergap mental, yang sejak semalam telah saya disiapkan. Ini ujian dua terakhir dari gelar doktor yang hendak dicapai. Cawan hampir tiba di tepi bibir. Ruangan hening. Profesor lain diam, teman-teman seangkatan yang sempat hadir juga mengaku tegang.

Akhirnya, ujian tertutup disertasi yang berjudul “Diskursus Radikalisme di Media Cetak; Kajian terhadap Artikel Populer Harian Kompas dan Republika 2013-2017” berakhir dengan nilai 93. Saya lega. Tak cukup tiga bulan setelah itu, ujian promosi digelar yang berakhir dengan nilai 95, cumlaude, lalu jadi wisudawan terbaik. Saya merasakan, proses tak pernah mendustai hasil. Beasiswa berakhir, kuliah program doktor selesai.

Saya menikmati proses penulisan dan bimbingan disertasi dari promotor, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA dengan rasa puas tak terhingga karena telah berakhir dengan penguji sekelas Prof. Azra.

Beberapa teman sempat mengernyit kening ketika pilihan saya jatuh ke Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE sebagai penguji utama, didampingi Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA, Prof. Iik ‪Iik Arifin Mansurnoor, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, dan Prof. Dr. Jamhari, MA. Maklum saja, santer beredar Prof. Azra biasanya sangat menakutkan dalam ujian. Mereka takut dahulu sebelum mencoba, setelah melihat beberapa pengalaman yang sempat disebut goblok! Karena disertasi masih terlalu banyak “stupid mistake.” Kesalahan ketik memang tak boleh ditolerir. Dia seorang korektor yang sangat teliti.

“Selamat ibu, hebat. Anaknya sudah doktor,” ujar Prof. Azra sambil menyalami emak, adik, isteri dan putri-putri saya ketika hari promosi doktor yang dihadiri keluarga, guru dan para sahabat. Saya terharu, emak menjawab terima kasih dengan pelan dan kikuk. Orang yang sering dilihatnya di layar televisi kini di hadapannya.

Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, adalah nama yang saya kenal sejak 1995, pada mahasiswa tingkat dua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Negeri (Imam Bonjol) Padang. Saya mengenalnya melalui buku “Jaringan Ulama Nusantara Awal Abad XXI” (Mizan, 1994), yang terbilang baru saja terbit dan mendapat sambutan antusias dari para pencari ilmu. Itulah buku mahal yang pertama saya beli. Saya baca sampai habis karena tuntutan kuliah.

Bertemu dengan Prof. Azra secara langsung setelah membaca buku-buku, artikel populer di media cetak, di layar kaca, serta cerita kehebatan dalam bidang keilmuan hingga mengubah status IAIN Syarif Hidayatullah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) telah membuat kekaguman itu menjadi kegagapan luar biasa bagi. Setiap bertemu, saya cenderung ingin mendengar dari pada bertanya. Takut salah tanya.

Saya merasakan bukan siapa-siapa di hadapannya, sehingga banyak memilih mendengar dalam setiap kuliah, kecuali kalau ada kesempatan bertanya. Kuliah dengan Prof. Azra selalu mendapatkan sesuatu yang menarik dan aktual. Ia bisa menerangkan sembilan kawasan dunia Islam secara lugas, mulai dari dinamika politik, tokoh dan sejarah yang mengitari daerah tersebut. Penjelasannya runtut, jangan pernah diganggu jika sudah begitu. Biarkan mengalir hingga habis. Lalu diberi kesempatan bertanya, bertanyalah.

“Tutup saja dari luar, mengganggu saja,” begitulah jika ada yang terlambat mau masuk kelas ketika Prof. Azra sedang menjelaskan materi kuliah. Padahal sudah diingatkan petugas kelas dan pegawai yang mengantar kopi pahit untuknya, agar masuk sebelum Prof. Azra tiba. Tetapi masih ada saja yang terlambat masuk. Dan kopi itu, saya selalu berebut dengan beberapa teman, sehabis kuliah. Macam tradisi di pesantren dulu, minum bekas guru. “Berkah ilmunya,” ujar teman saya, Ibnu sembari tersenyum.

Pada lain kesempatan, pernah suatu waktu mewawancarai Prof. Azra tentang dinamika politik Islam ketika ia berada di Padang, ia protes. “Pertanyaan saudara gelondongan. Spesifik lagi,” ujarnya.

Waktu itu, Prof. Azra juga mengajar di Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang. Saya kuliah dengannya tahun 2006-2008. Waktu itu, pernah sekelas kena semprot karena ada yang tidak mendiamkan seluler. Ketika seluler berbunyi keras, Prof. Azra langsung terganggu.

“Heh. Memangnya saudara siapa, keluar sana. Saya saja mematikan seluler demi kuliah ini, padahal orang menelepon dari seluruh dunia. Saudara benar-benar kampungan.” Seluruh hadirin di ruangan, kecut. Diam seribu basa.

Begitulah Prof. Azra, tegas dan tak mau diganggu jika sedang memaparkan materi kuliah. Sebenarnya, saya juga terganggu ketika itu. Dulu memang sering terjadi di berbagai acara, seluler berdering keras di tengah acara yang khidmat. Semacam shock culture terhadap barang baru.

Kuliah dengan Prof. Azra, jika ingin bertanya juga, hendaklah menyiapkan referensi dan data yang benar. Kalau hanya sekadar berkhutbah, siap-siaplah cemeeh ala Piaman keluar dari Prof. Azra. “Entah buku apa yang saudara baca itu,” sambil geleng kepala.

Delapan tahun kemudian, saya kuliah lagi di SPs UIN Jakarta, 2016-2019, ada beberapa mata kuliah harus bertatap muka dengan Prof. Azra. Saya senang. Sekali waktu, ada penyaji makalah tidak datang. Sebelum Prof. Azra masuk, semua sepakat saya maju menyelamatkan acara kuliah agar tidak kena semprot bersama. Sayangnya, saya belum memperbanyak makalah, karena jadwal seharusnya sebagai penyaji makalah adalah minggu depan. Mujur, Prof. Azra memberi waktu untuk memaparkan makalah sampai ia mengambil alih acara kuliah.

Penyajian makalah akhirnya sukses, kelas selamat. Kuliah juga lancar, saya justru mendapat masukan dan anjuran agar meneruskan penulisan karya dalam bentuk disertasi dari makalah yang saya sajikan.

“Anda cari Kasogi Yasushi, sebagai tambahan,” anjurnya. Saya senang hari itu. Karena menemukan tulisan Azyumardi Azra, Transmission of al-Mannar Reformisme to the Malay-Indonesian World: the case of al-Imam and Al-Munir di dalam Kosugi Yasushi (ed.), Intelektuals in the Modern Islamic World, Tranmission, Transformation and Communication, New Horizon in Islamic Studies, (London And New York: Routledge, 2006).

Sejak membaca karya-karya Prof. Azra tahun 1995 hingga bertatap muka langsung, membuat saya sering mengutip pemikirannya. Bahkan tanpa sengaja dalam pembicaraan-pembicaraan lepas.

“Hampir bisa berjudul, kontestasi pemikiran Azra di media cetak,” berseloroh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, ketika bimbingan disertasi dengan Prof. Komar di rumahnya. Pertemuan dengan promotor itu bagi saya adalah hari yang sangat istimewa. Saya tahu, kedekatan dua profesor ini sejak mahasiswa hingga mereka jadi rektor dan direktur SPs UIN Jakarta secara bergantian.

Atas komentar itu, saya mengajukan argumen, landasan teoritis dan metode disertasi mengharuskan pilihan-pilihan artikel bertema radikalisme memang lebih banyak dituliskan Prof. Azra. Penulis artikel populer bidang-bidang tertentu sangat minim di Indonesia, termasuk artikel populer tentang pemikiran Islam. Hal ini dibenarkan Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, ketika juga bimbingan di rumahnya. Saya beruntung mendapatkan promotor yang tepat. “Hebat. Susah saya mencari kesalahan ketik,” puji Prof. Andi, suatu hari.

“Selamat doktor, Azra muda,” ucap Dr. Danil Mahmud Chaniago, M. Hum, asisten Prof. Azra untuk kelas Sejarah Intelektual di Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Bang Danil, satu dari beberapa orang yang ingin menganggap saya seperti itu, karena keseringan mengutip buku Prof. Azra dalam berbagai kesempatan. Juga memandang sama-sama pernah sebagai wartawan. Pada masa mudanya, Prof. Azra adalah wartawan Panji Masyarakat.

Sungguh, saya hanya pengagum berat kepada seorang guru, baik dari karya maupun dalam perjalanan hidupnya. Ketika pertanyaan di awal tulisan tadi diajukan kepada saya, saya merasakan bukan siapa-siapa lagi. Seperti dilucuti. Di hadapan saya, sedang hadir seorang profesor yang pernah jadi wartawan seperti saya sebelum jadi dosen.

Ini kali kedua saya menulis tentang guru besar yang berasal dari daerah yang sama dengan Prof. Azra, Lubuk Alung Padang Pariaman Sumbar. Sebelum ini adalah Guru Besar Sejarah UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Maidir Harun. Juga mantan rektor, juga dosen yang saya kagumi kehadirannya di kelas. Satu lagi, waktu masih berprofesi jadi wartawan pun, pemimpin Harian Padang Ekspres Groups, Zaili Asril, juga dari daerah ini. Jadi, saya berguru banyak dengan putra-putra Lubuk Alung, Sumatera Barat.

Hingga kini, saya masih tetap ingin berguru dan membaca karya-karya Prof. Azra untuk mendapatkan ilmu dan mengagumi satu-satu profesor, orang Indonesia, yang mendapat anugerah gelar istimewa dari Kerajaan Inggris, Commander of The Order of British Empire (CBE). Ada kebanggaan tersendiri. Sehat dan sukses selalu, my prof my idol. Selamat jalan, Sir.

Innalillahiwainnailahirajiun. Alfatihah!

Dikutip dari buku Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Prof. Azra (Kompas: 2021) direvisi seperlunya untuk pembaca Singgalang.