Tak Berkategori  

Indonesia Raya Berkumandang di Makkah Almukarramah

Ibu guru dari Sawahlunto, Sukarsih jadi dirijen Indonesia Raya saat HUT RI jemaah kloter 1 Padang, di Kota Makkah, Jumat (17/8). (kj)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Ibu guru dari Sawahlunto, Sukarsih jadi dirijen Indonesia Raya saat HUT RI jemaah kloter 1 Padang, di Kota Makkah, Jumat (17/8). (kj)

JUMAT 17 Agustus 2018, Makkah Almukarramah alangkah sibuknya. Pada jantung kota itu, lagu kebangsaan Indonesia berkumandang.

Ibu guru Sukarsih, dari sebuah SD di Sawahlunto, maju ke depan. Ia memimpin jemaah mengundangkan Indonesia Raya. Peserta mulai menyanyi saat ketukan keempat dirijen.

Sukarsih, dia guru yang selama ini mengajar anak didiknya menyanyikan lagu tersebut berbilang tahun lamanya. Kini saat naik haji, ia justru yang mengomandoi seluruh jemaah asal Sumbar. Lagu kebangsaan itu dibawakan dengan khidmat dan terdengar ke lorong-lorong lantai PR Hotel Alkewasah yang terpaut hanya 1,2 Km dari Masjidil Haram. Ribuan jemaah Indonesia dari 30 kloter, yang menginap di hotel ini, cuma rakyat Sumatera Barat yang melaksanakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-73. Bisa jadi ada yang lain, namun saya tak tahu dimana mereka melaksanakan upacara, atau memang tidak sama-sekali.

Acara HUT RI itu tampil sebagai pembina upacara Sekda Padang, Asnel, komandan upacara Jet Peri dan dirijen Sukarsih serta pembaca doa Ahmad Qosasih.

Nasionalisme

Lama saya tak pernah ikut lagi upacara 17 Agustus dan tiba-tiba kini di Makkah, hari Jumat pula, jauh dari Tanah Air, ikut. Berdiri tegap dan dengan sikap sempurna menyanyikan Indonesia Raya.

Peserta bapak-bapak dan ibu-ibu dari kota, desa, yang tiap tahun upacara atau tidak, kali ini dengan khidmat terlibat dalam satu alunan nasionalisme yang hebat.

Ibu-ibu itu, adalah pewaris pejuang bangsa. Ibu, nenek atau etek mereka doeloe, adalah pejuang yang mungkin luput. Doeloe ibu-ibu itu, menyediakan nasi bungkus untuk pejuang gagah berani. Tanpa nasi bungkus, senjata tak bisa meletus, bambu runcing jadi tumpul. Ibu-ibu masa lampau itu adalah pejuang yang tak tercatat, tapi jangan abaikan. Kala mereka diabaikan, mana muncullah “Demontrasi Nasi Bungkus,” di Bukittinggi pada 1948 Inilah unjukrasa pertama di Ranah Minang. Di Makkah ibu-ibu juga “demo” mencuci karena di hotel disediakan mesin cuci yang banyak he he…

Indonesia terpaut 7.000 Km dari tempat kami melaksanakan acara HUT RI, bukan di kedutaan tapi di lantai dasar hotel, sebuah kesadaran yang saya bangga karena orang Minang (Sumbar) yang melalukannya.

Tak lama benar, semua selesai. Pembawa acara, Alfidah, menutup peringatan kemerdekaan RI itu dengan sempurna. Peserta upacara kemudian jadi jemaah lagi. Mereka kemudian rapat membahas persiapan ritual haji 8 Zulhijah ke Padang Arafah dan menghitung sumbangan untuk korban gempa di NTB.

Tanpa kebersamaan, apalagi tanpa kemerdekaan sulit untuk sampai ke Makkah. Atas rasa syukur dan rasa persaudaraan tersebut, jemaah kemudian saling bermaafkan. Kalau ada haru, saat inilah saya kembali merasakannya. (bersambung)