Tak Berkategori  

Ini Kronologis Pembunuhan Perantau Asal Pasaman di Batam

Jasad Dodi Hermanto Harahap (28) terbujur di RS Badan Pengusahaan Batam (RSBP Sekupang). (alfian)
Jasad Dodi Hermanto Harahap (28) terbujur di RS Badan Pengusahaan Batam (RSBP Sekupang). (alfian)

BATAM – Tiga bersaudara Dedi Lavelin Harahap (48), Saddam Husein Harahap (26) dan Yaser Arafat Harahap (20) mendekam di sel tahanan Mapolsek Sekupang, Batam, Kepri, karena diduga kuat mendalangi penganiayaan, Dodi Hermanto Harahap (28) hingga tewas, Minggu (5/6) malam.

Ironisnya pelaku dan korban sama-sama berasal dari Panti, Pasaman. Bahkan masih satu marga. Korban sempat kritis akibat pengeroyokan ini. Namun, Dodi yang bekerja sebagai sales minuman ini akhirnya meninggal dunia, Senin (6/6) sekitar pukul 08.30 WIB di RS Badan Pengusahaan Batam (RSBP Sekupang.

Jasad korban kemudian diterbangkan ke kampung halaman orangtuanya di Panti, Pasaman untuk dimakamkan.

Perkelahian ini sebenarnya dipicu masalah sepele. Mingu sore seorang wanita berisial Ek, pacar salah seorang pelaku datang ke tempat kos tersebut.

Istri korban bernama Nur Asyiah Siregar yang melintas di depan pintu kamar melihat sandal perempuan tersebut di depan pintu. Spontan, Nur mengatakan, “Ini sandal bidadari siapa ini?”

Kata-kata bidadari tersebut terdengar oleh Ek dan ia tidak senang dengan kata-kata ‘bidadari’ tersebut. Wanita itu kemudian mengomel-ngomel.

Omelan itu terdengar oleh adik korban yang belum diketahui namanya. Kemudian menyampaikan kembali kepada Nur. Nur pun tak terima. Mungkin karena merasa ucapan itu hanya seloroh lalu diartikan jelek oleh Ek, Nur kemudian memberi tahu kepada suaminya, Dodi.

Mendengarkan cerita istrinya itu, Dodi kemudian menyampaikan kepada pacar Ek agar kekasihnya bisa menjaga perilakunya. “Pelaku mungkin tidak senang, makanya terjadi pertengkaran,” kata sebuah sumber yang juga tinggal di tempat kos tersebut.

Namun, ternyata Saddam tidak sendiri dalam perkelahian itu. Ia dibantu oleh dua saudaranya, Yaser dan Dedi. Mereka tidak hanya menggunakan tangan, tetapi juga menggunakan batu. Satu lemparan batu mengenai kepala Dodi sehingga pria ini jatuh tersungkur. Mengetahui korban tak berdaya dalam kondisi sepamput, ketiga pelaku kemudian melarikan diri dan kemudian kabur ke Bintan.

Mendengar kejadian itu, kedua orangtua korban, Maris Harahap (50) dan Deliana (50) datang dari Pasaman Senin pagi. Maris mengatakan, ia tidak mempunyai mimpi atau firasat sama sekali bahwa anaknya akan meninggal dunia di perantauan.

“Setelah Salat Tarawih, semalam, saya ditelepon dari Batam, menyebutkan anak saya mendapat masalah. Karena dari informasi itu disebutkan masalahnya agak berat, kami langsung terbang dari Pasaman ke sini. Namun ternyata, anak saya sudah meninggal,” kata pria berdarah Tapanuli Selatan (Tapsel) ini dengan mata berkaca-kaca.

Begitu juga dengan ibu korban, Deliana. Wanita ini terlihat tiada henti-henti menangis di samping jasad anaknya. Di tangannya, wanita ini memegang Alquran dan membaca Surat Yasin bagi putra tercintanya. (alfian)