Tak Berkategori  

Ini Ragam Permainan Tradisional Anak Nagari Talawi Sawahlunto

Oleh : Saskia Putri Nabilla Fakultas Ilmu Budaya Unand

Jika berbicara tentang anak-anak, maka tidak akan lepas dari hal yang namanya bermain. Bahkan, bermain sudah menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Di usia dini, anak-anak akan menghadapi berbagai macam permainan yang menghiasi hari-hari mereka. Namun, sangat disayangkan anak-anak generasi milenial saat ini sudah mulai berangsur tidak mengetahui lagi permainan-permainan tradisional yang ada di daerah mereka. Hal tersebut terjadi karena salah satu faktor dimana permainan telah digantikan oleh media bernama gadget. 

Permainan yang dapat diunduh dengan leluasa menggunakan gadget, sangat mempengaruhi pola perkembangan terutama dalam hal interaksi pada anak. Anak-anak yang sudah terbiasa menghabiskan waktunya bermain gadget akan berpengaruh terhadap pola interaksinya. Sebagai contoh, jika dalam bermain bersama teman sebayanya, anak-anak akan cenderung aktif karena objek yang mereka hadapi ialah hal yang serupa dengannya. Akan tetapi, jika anak-anak yang bermain dengan gadget, maka hanya akan menghadapi layar monitornya saja. Artinya, jika anak-anak bermain dengan gadget, mereka tidak akan merasakan bentuk interaksi timbal balik ketimbang dengan anak-anak yang langsung bermain dengan teman sebayanya. Dengan demikian, anak-anak yang tumbuh kembang bersama gadget, maka akan disayangkan mereka hanya menjadi sosok yang individualis bukan sosialis.

Permainan tradisional hadir jauh sebelum adanya teknologi berkembang. Bahkan, permainan tradisonal hanya membutuhkan objek-objek yang mudah didapat dan berada di sekitar kita. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda harus mampu mempertahankan permainan tradisional ini, terutama yang ada di daerah masing-masing. Permainan tradisional bukan semata-mata permainan saja, akan tetapi di dalamnya terdapat pula unsur budaya yang melekat kuat dan harus terus dilestarikan. Berikut beberapa contoh permainan tradisional yang ada di Talawi, Kota Sawahlunto :

  1. Ucak

Permainan tradisional yang pertama bernama ucak. Permainan tradisional ini lebih dikenal dengan engklek. Akan tetapi masyarakat disini menyebutnya dengan ucak. Nama “ucak” itu sendiri diambil dari batu pipih yang digunakan sebagai media bermain yang mana memiliki fungsi sebagai batu penanda dalam permainan. 

Permainan ini diawali dengan menentukan giliran main yang dilakukan dengan cara suit. Setelah giliran pemain ditentukan, barulah pemain pertama melemparkan batunya ke dalam kotak pertama. Batu yang berada di kotak tersebut, tidak boleh diinjak oleh pemain. Maka di sanalah pemain akan melangkahi kotak tersebut. Pemain kemudian akan terus melalui kotak dengan satu kaki dan boleh mendarat dengan dua kaki di bagian kotak yang terlihat seperti sayap. Setelah pemain sampai di sayap atas, pemain akan berbalik dan meneruskan loncatannya dan berakhir di kotak sebelum batu (ucak) tadi. Setelah itu, pemain anak meraih batu dan meletakkannya di telapak tangan. Lalu, pemain akan membalikkan posisi batu ke punggung tangan. Jika batu jatuh atau tidak berhasil berada di punggung tangan, maka pemain dinyatakan gagal dan kemudian dilanjutkan oleh pemain berikutnya.

2. Kojei

Permainan kojei ini merupakan permainan tradisional yang menggunakan kojei sebagai media bermainnya. Adapun kojei dalam bahasa Indonesia ialah karet yang berarti pemainan ini adalah permainan karet. Permainan tradisional satu ini merupakan salah satu permainan yang sangat digemari oleh anak-anak perempuan pada umumnya. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan bahwa laki-laki pun boleh bermain di dalamnya. Dalam permainan ini, anak-anak akan diminta untuk pandai dalam melewati karet dengan cara melompat. Permainan ini pun mempunyai batasan ukuran yang tidak boleh menyinggung karet. Misalnya, pemain tidak boleh lompat dengan menyinggung karet pada saat ukuran pipis. Bila pemain menyinggung karet, maka pemain akan dinyatakan gagal dan dilanjutkan oleh pemain berikutnya. Perlu diketahui, bahwa dalam permainan ini memiliki tahapan yang harus dilalui pemain. Mulai dari karet dengan tinggi selutut, kemudian pipis (ukuran ketinggian yang sejajar dengan kelamin), kemudian pinggang, dada, kepala, jengkal 1, jengkal 2, dan terakhir bendera (ukuran tinggi lengan). 

Melalui permainan ini, anak-anak akan dilatih untuk melompat setinggi mungkin. Dengan begitu, permainan ini bukan hanya sekedar permainan, namun juga merupakan olahraga yang baik untuk tubuh. Anak-anak memang sebaiknya untuk diajarkan melakukan olahraga sejak dini, agar pertumbuhan tubuh anak juga dapat terus berkembang dengan baik.

 

3. Kasti Jao

Permainan tradisional satu ini merupakan permainan yang menggunakan bola kasti sebagai media mainnya. Bola kasti di dalam permainan digunakan untuk memukul susunan batu pipih yang berada cukup jauh dari posisi pemain berdiri. Ketika pemain berhasil mengenai susunan batu tersebut, pemain akan berusaha melarikan diri, sebab di penjaga batu akan mengincar kembali pemain dan melempar pemain dengan kasti tersebut. Di saat kejar-kejaran tersebut, pemain lain juga akan berusaha untuk menyusun kembali batu-batu yang berserakan tadi. Jika itu berhasil, maka pemain akan memenangkan permainan.

 

4. Cik Moncik

Permainan tradisional selanjutnya ialah cik moncik. Permainan tradisional ini merupakan permainan yang umumnya diketahui oleh anak-anak. Yaitu permainan yang berusaha untuk bersembunyi atau dikenal dengan permainan petak umpet. Permainan ini dimulai ketika seorang anak yang terpilih menjadi penjaga akan berhitung 1 sampai 10 untuk memberikan kesempatan kepada pemain agar segera bersembunyi. Ketika hitungan selesai, penjaga akan berusaha untuk menemukan pemain yang bersembunyi tadi. Bertepatan dengan itu, para pemain juga akan diam-diam menuju tempat penjaga berhitung tadi untuk menyatakan “cik moncik” yang berarti pemain berhasil melepaskan diri dari tempat persembunyian tanpa diketahui oleh penjaga. Namun ada kalanya pemain diketahui keberadaannya oleh penjaga dan berakhir menjadi tahanan penjaga.

5. Tang-Tang Buku

Tang tang buku merupakan salah satu permainan tradisional Minangkabau yang sangat digemari oleh anak-anak. Permainan tradisional ini berasal dari daerah Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Permainan ini juga hampir sama dengan permainan tradisional lain, seperti tam tam buku, wak wak gung ataupun permainan ular naga. Permainan ini masih berkembang hingga saat ini, namun peminatnya mulai berkurang sesuai perkembangan zaman. 

Tang tang buku dimainkan oleh banyak anak yang nanti saling berebut anak yang berdiri paling belakang dari induknya. Awalnya, dari sekumpulan anak tersebut akan memilih dua orang yang akan menjadi induk mereka. Setelah dua orang tersebut dipilih, mereka berdua akan berumbuk menentukan nama kelompok dari masing-masing pihak. Setelah kedua induk sudah menentukan nama kelompoknya, barulah mereka kembali kepada anak-anak yang sudah siap berjejer ke belakang dengan tangan memegang bahu teman di depannya seperti halnya kereta api. Kemudian, kedua induk tersebut akan mengaitkan tangan mereka ke atas hingga berbentuk seperti terowongan yang akan dilewati anak-anak. Setelah semuanya bersiap, barulah anak-anak akan mulai berjalan di bawah tangan kedua induk tadi sambil menyanyikan lagu bersama-sama. 

Berikut liriknya :

Tang tang buku

Seleret tiang bahu

Bata dinding bata batu

Anak belakang tangkap satu

Bunyi lonceng pukul satu

Teng teng teng!

Bertepatan dengan lagu terakhir, tangan yang berkaitan dari kedua induk tadi akan menangkap salah seorang anak yang berjalan tepat di bawah tangan mereka. Setelah itu, anak yang tertangkap tadi akan dibawa agak jauh dari anak-anak yang lain agar mereka tidak dapat mendengar siapa induk yang akan dia pilih nantinya. Kemudian, anak yang tertangkap itu akan ditanya oleh kedua induk, bahwa ia akan memilih kelompok A atau B tanpa tahu siapa induk dari kedua kelompok tersebut. Setelah anak tersebut memilih, ia secara tidak langsung baru mengetahui induk dari nama kelompok yang ia sebutkan tadi. Setelah momen memilih tersebut, anak tertangkap itu akan berdiri di belakang induk kelompoknya. Permainan pun terus berlanjut sampai anak terakhir yang tersisa. Setelah semua rangkaian permainan tadi, barulah induk kedua kelompok akan saling suit. Siapa yang menang, maka ia akan meminta anak dari kelompok yang kalah. Hal itu pun terus berlanjut hingga anak dari salah satu kelompok habis. Induk yang kalah tadi, maka ia akan merebut anak paling belakang dari kelompok yang menang. Posisi induk yang paling depan bertugas agar anak-anak tetap terjaga dibelakangnya. Sedangkan anak dibelakang harus terus bergerak kemanapun ibunya melangkah. Jika salah satu anak berhasil tertangkap, maka ia berhak membantu si induk yang kalah tadi agar mencuri anak-anak lainnya. Anak yang berhasil ditangkap banyak, maka ia berhak dinyatakan menang.

Itulah beberapa contoh bentuk permainan tradisional anak nagari Talawi, Kota Sawahlunto. Perlu diingat dan kita ketahui bersama bahwa permainan tradisional ialah bagian dari budaya. Untuk itu, sudah seharusnya kita lestarikan agar permainan tradisional tetap diketahui oleh generasi ke generasi selanjutnya. (***)