Irman: Natsir dan Bung Karno Tetap Bersahabat Meski Berseberangan

×

Irman: Natsir dan Bung Karno Tetap Bersahabat Meski Berseberangan

Sebarkan artikel ini
Irman Gusman (antara)

JAKARTA – Pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. Inilah yang diteladankan oleh Natsir dan Bung Karno.

“Mereka selalu berseberangan tetapi tetap bersahabat,” kata mantan Ketua DPD RI Irman Gusman yang hadir secara virtual pada acara bedah buku “Islam Sebagai Dasar Negara: Polemik Antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan, Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim,” Jumat (18/12).

Soekarno sebagai seorang ideolog dan pemikir politik berpandangan bahwa agama harus dipisahkan dari urusan negara. Bung Karno mengkhawatirkan kalau membawa-bawa agama maka bangsa ini akan bercerai-berai.

Sementara Natsir sebagai seorang ideolog reformis muslim dan arsitek “negara Islam moderat” berpandangan bahwa Islam sebagai agama peradaban yang membimbing manusia memasuki alam modern harus disatukan dengan negara. Untuk mencapai kemerdekaan, tidak cukup hanya dengan nasionalisme. Dorongan agama Islam, jauh lebih kuat.

“Mereka berseberangan secara tajam. Meski demikian ketika Soekarno ditangkap, diadili, dan dipenjarakan di Sukamiskin, yang pertama menjenguk bukan orang-orang PNI pendukung Bung Karno, melainkan kelompok Natsir. Ini pelajaran keteladanan yang sangat berharga buat bangsa kita agar bisa berpolitik dengan hati secara matang dan bijaksana,” kata Irman.

Menurutnya, berbeda dengan kondisi sekarang, terlalu banyak pemimpin tapi terlalu sedikit kepemimpinan. Terlalu banyak politisi, tapi terlalu sedikit negarawan. Terlalu banyak idola, tapi terlalu sedikit keteladanan. Terlalu banyak pembawa masalah, tapi terlalu sedikit pembawa solusi. Terlalu banyak menggunakan otak dan otot, tapi terlalu sedikit bahkan sangat jarang menggunakan hati.

“Akibatnya kita seperti hidup di bawah SUTET (Saluran Udara Tagangan Ekstra Tinggi). Semua orang tegang. Saling curiga dan berprasangka buruk. Saling hujat dan caci-maki. Berbeda pendapat dianggap sebagai permusuhan dan peperangan,” kata Irman.

Kenapa bisa terjadi begini? Karena menurut Irman, bangsa ini tidak belajar dari sejarah dan menengok ke belakang. Seperti sikap Natsir dan Soekarno yang berseberangan secara pemikiran dan sikap politik, tetapi terdapat kesamaan keyakinan di antara mereka dalam hal demokrasi.