I’tiqaf dalam Duka

Gamawan Fauzi. (net)

“Kau Jaga slalu Hatimu saat jauh dari ku, tunggu aku kembali……”

Itulah penggalan bait yang selama ini sering ku dendangkan dari album seventeen. Tapi malam kemarin, lagu yang ditunggu sejumlah wisatawan di Pantai Anyer, Banten belum muncul, tiba tiba air laut menerjang pentas mereka.

Dua personel Seventeen Band kemudian ditemukan meninggal bersama sejumlah penontin yang menikmati hiburan menjemput liburan diujung tahun ini.

Semua kita kemudia sibuk mencari kabar. Media nyinyir bercerita mengulas detil peristiwa dan perkembangannya.
Aku membaca sebuah hadis. Setiap hari, 3 kali laut meminta izin kepada pemilik-Nya untuk menumpahkan murkanya. Tapi amat jarang diberikan.

Tapi malam itu murkanya lepas … menerjang bibir pantai di sekitar gugusan Krakatau yang indah.

BMKG terkesima, bingung dan tak siap memberi penjelasan. Kenapa ada tsunami tanpa gempa ? Itu tak lazim, sulit menjelaskan secara ilmiah.
Rupanya Allah tak perlu ilmiah manusia. Tak menunggu kajian ahli. Kun…. jadilah.

Bukankah sebaiknya kita berdoa buat saudara kita yang dahulu berangkat dan mengbil hikmahnya untuk lebih sadar? Kafa bilmauthi waizza. Cukuplah kematian menjadi pelajaran buat kita.

Selamat beri’tiqaf dalam duka menjemput tahun baru.
Wassalam. Gamawan Fauzi. (*)

Loading...