Tak Berkategori  

Jalani Isolasi dengan Berkebun

Kasat Intelkam Polresta Padang, Kompol Jon Hendri tengah berada di kebunnya. (ist)

Oleh Lenggogeni

PADANG – Membagi-bagikan daun sungkai secara cuma-cuma. Itulah yang dilakukan Kasat Intelkam Polresta Padang, Kompol Jon Hendri, setelah merasakan khasiat dari tanaman itu.

“Dua bulan lalu saya pernah terpapar Covid-19. Alhamdulillah virus itu hanya bertahan seminggu di tubuh saya. Di samping menuruti anjuran patuhi protokol kesehatan dan memakan obat dari dokter, saya juga mengonsumsi daun sungkai setiap hari, sesuai anjuran teman,” ucap Jon Hendri.

Selama karantina, ia rajin mengonsumsi daun sungkai. “Kebetulan daun sungkai itu banyak tumbuh di pekarangan kebun saya di Pariaman,” ucap Jon Hendri yang melakukan isolasi mandiri di kebun.

Selama isolasi, ia patuhi protokol kesehatan, mengonsumsi vitamin dan obat dari dokter serta rajin berjemur plus mengonsumsi daun sungkai. “Di kebun itu hanya saya seorang. Saya berkebun. Kemudian saya merebus tujuh lembar daun sungkai dengan takaran dua gelas air. Dijadikan airnya satu gelas. Air rebusan diminum tiga kali sehari. Alhamdullilah hasilnya cukup memuaskan. Lima hari setelah itu saya lakukan tes swab, hasilnya negatif.  Dua hari kemudian pun demikian,” cerita Jon Hendri.

Merasakan manfaat dari daun sungkai, Jon Hendri pun berniat dalam hati untuk membantu mereka yang terpapar Covid-19. Dan itu dilakukannya hingga sekarang. Bagi siapa saja yang meminta kepadanya daun sungkai, ia membagikannya secara cuma-cuma. Malahan daun itu selalu ada di dalam mobilnya. Silakan ambil saja. Dan sekarang ia sedang menanam batang sungkai di Polresta Padang. Sekitar dua atau tiga bulan lagi, daunnya akan tumbuh subur. Bagi yang membutuhkan daun sungkai silakan datang ke Polresta Padang.

“Mereka merasakan dampak dari daun sungkai ini untuk penyembuhan virus corona. Sudah ribuan orang meminta daun itu ke kami. Satu sen pun tidak saya minta tagihannya. Itu saya lakukan karena sudah niat dalam hati. Dan kebetulan juga daun sungkai itu banyak tumbuh di kebun saya. Mereka yang datang  itu memintanya untuk saudaranya yang terpapar di Malaysia, Surabaya, Jakarta dan Bandung,” ucap Jon Hendri yang tidak tahu terpapar Covid-19 dari mana dan dimana.

Namun yang jelas, ia terpapar sepulang sibuk-sibuk unjuk rasa Omnibus Law tempo hari. Di sana dia bertemu banyak orang. Dan tidak tahu terkonfirmasi dari siapa. “Saya tidak tahu dari mana dan dari siapa. Tapi yang jelas saat itu, kondisi badan saya yang kurang fit. Alhasil virus itu dengan mudah menyerang dan hinggap sebentar di tubuh saya,” katanya.

Gejala awalnya, hilang penciuman dan pengecap. Ia langsung melakukan tes usap (swab). Hasilnya positif. “Di dalam keluarga, hanya saya dan anak saya yang paling kecil terpapar Covid-19. Anak saya isolasi mandiri di rumah. Saya isolasi mandiri di kebun,” jelas Jon Hendri yang sudah merasakan Covid-19 itu ada.

Yang jelas, katanya tidak usah takut dan tidak boleh juga sombong. “Covid-19 itu ada. Saya sudah merasakannya. Badan kita tidak apa-apa, namun hilang penciuman dan pengecap tidak terlalu terasa. Salah satu ciri-ciri yang saya alami,” ucapnya.

Ia berharap masyarakat untuk tetap patuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, serta mencuci tangan pakai sabun, dan dukung upaya pemerintah untuk 3T (testing, tracing, tracking). Ingat, pandemi belum usai. (*)