Tak Berkategori  

Jemaah Segera Bertolak ke Padang Arafah

Ketua kloter 1 Padang, rombongan dan ketua regu meninjau perkemahan jemaah di Padang Arafah, Saudi Arabia Selasa (14/8). (kj)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Ketua kloter 1 Padang, rombongan dan ketua regu meninjau perkemahan jemaah di Padang Arafah, Saudi Arabia Selasa (14/8). (kj)

Berdasarkan keputusan pemerintah Saudi Arabia, 1 Zulhijjah 1439 H jatuh pada  Minggu  12 Agustus 2018. Jadi wukuf di Arafah jatuh pada  Senin 20 Agustus 2018. Kita berangkat dari hotel menuju Arafah pada Minggu, 19 Agus 2018 (pengumuman pembimbing haji)

***

Arafah, padang tak berpenghuni. Hanya bukit batu, lembah batu. Langit terlihat amatlah tingginya. Induk segala kesepian ada di sini. Ke sanalah jutaan jemaah berdatangan pada Minggu 19 Agustus. Tak beberapa hari lagi. Jumlah jemaah  belum dirilis  pemerintah Saudi. Ada yang menyebut 3 juta ada 6 juta. Yang manapun, semua dapat tenda dan pakai karpet. Tenda warna putih. Pernah lihat tenda BNPB? Itu kecil.

Saat jutaan jemaah tiba, inilah tempat paling ramai di dunia. Tak satu negarapun di bumi bisa mengumpulkan orang sebanyak ini sekaligus. Juga tidak Saudi. Yang bisa adalah Rukun Islam!

Meninjau perkemahan

Saudi Arabia sadar, jutaan orang datang beribadah. Juga bawa uang. Pemerintah Indonesia juga sadar, jika ada masalah jemaah bangsa kita di Arafah, maka akan ribut. Maka semua dipersiapkan dengan matang.

Saat ketua regu dan ketua rombongan kloter 1 Padang, pada Selasa (14/8) siang meninjau perkemahan, kami dihadapkan pada kondisi yang baik. Tenda baik, di dalam baik di luar baik. Tenda berdiri di atas padang pasir nan panas, dari bawah dari atas dan segala penjuru, panas. Maka dibentangkan karpet. Minimal ada satu juta karpet jika jemaah 3 jutaan. Truk silih  berganti datang membawa keperluan ke lokasi kemah. Bawa air mineral, karpet, kasur bagi ONH plus, kursi, tali, kipas, slang, besi-besi. Kemudian kabel-kabel, plastik dan tak kalah penting orang-orang katering berjibaku mendatangkan alat-alat masak. Tak seorangpun boleh luput. Semua dapat nasi, buah, air, jus dua kali sehari.

Padang Arafah merupakan tempat wukuf. Saat wukuf hamba bersimpuh pada Sang Pencipta sembari mengakui semua dosa sejak baligh berakal sampai detik ia sampai di Arafah. Karena itu seseorang perlu sendiri. Sepi dalam keramaian. Bermunajad, berserah diri, memohon ampunan, memohon apa saja yang baik- baik. Lalu plong!

Kemudian ke Mina melontar, fisiknya semacam rekonstruksi apa yang dilakukan Nabi Ibrahim As. Batinnya adalah ritual haji yang dilakukan Nabi dan menyadari akar akidah nan tertancap dalam dan jauh ke belakang.  Aktivitas fisik di Armina; Arafah, Musdalifah dan Mina, merupakan perbuatan amat tulus yang musti dilakukan agar haji sempurna. Datang dengan pakaian kusut masai dan dilihat oleh Allah.

Ritual di padang terbuka yang ular saja tak kuat melintas itu, sekaligus merupakan uji kekuatan fisik. Tuhan menjamin ummatnya selamat karena itu semua cemas dibuang jauh.

Lebih baik

Pelayanan haji tahun ini, semakin baik. Hotel misalnya, kamarnya bagus. Jika di Medinah, dekat sekali dengan Nabawi. Keluhan hanya pada lift karena banyaknya jemaah terutama sebelum dan sesudah shalat. Saya tak tahu di hotel lain, namun di hotel kami, lift lelet pada saat sibuk itu. Petugas hotel baik, namun saat akan berangkat ke Makkah, petugas hotel, room boy minta uang untuk angkat barang, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Secara keseluruhan, cap jempol.

Di Makkah semua beres. Hotel empuk, malah ada yang demam karena dinginnya AC. Lift beres. Ada kantin pula. Jarak ke Haram 1,2 Km. Roomboy tak ada minta uang. Cuma satu: tarif taksi sesuka sopir saja. Tak semua memang, tapi hampir semua kena. Taksi pakai argo tapi tak dinyalakan. Seharusnya otoritas mengaturnya.

Makan enak apalagi pakai randang padang yang dibawa dari rumah. Buah berlebih, air berlebih, roti berlebih pula.  Petugas cukup, koordinasi jalan dan keluhan jemaah hampir tidak ada.

Latarbelakang tenda Arafah.

Akan halnya di Arafah dan Mina juga bagus, bayangan buruk yang semula menghantui Insya Allah tidak terjadi. Tenda bagus pakai permadi, kipas besar yang berembun itu, lengkap. WC cukup, meski secukup apapun, jumlah jemaah sangat banyak. Pasokan ransum cukup bahkan jemaah bisa mengetahui menu sejak hari pertama di Tanah Suci sampai hari terakhir.

Aplikasi Haji Pintar benar-benar membantu semua hal, jika aplikasi itu diunduh. Kalau tidak, apa boleh buat. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin bisa jadi menteri sekali lagi, apalagi jika jadi kloter 1 Padang jadi dijamu, sebab kamilah yang mendarat pertama kali di Tanah Suci.

Setidaknya ada seribuan petugas haji Indonesia yang mengawal jemaah. Saya lihat hampir tak ada jemaah bangsa lain yang pakai gelang. Banyak bangsa mengirim jemaahnya dengan koper tak seragam. Indonesia baju seragam, koper seragam, tas seragam, tas paspor seragam, pakai spanduk. Dan operator seluler panen he he…Beberapa bangsa lain memang datang dengan seragam dan solid. Bahkan saat Tawaf, mereka sangat kompak.

Jemaah Malaysia yang juga seragam, suatu hari di Nabawi saya lihat mencoba air semprot milik jemaah dari Jawa. Mereka tak punya. Jemaah lain saya lihat tak dibeli obat-obatan, masker, kacamata hitam, payung putih dan tas  bertali empat untuk kemudian disandang di punggung ssperti ransel. Tas itu warna putih dan ada bendera Merah Putih dipermanenkan di tas tersebut. Cuma tak ada rompi seperti jemaah Afganistan. Bank juga memberi tas serupa, kain ihram. Oh ya, pemerintah memberi living cost 1.500 riyal dan uang pengganti biaya paspor. Urusan imigrasi tidak ribet, meski ada yang diulang sidik jari karena alatnya di bandara tak bisa membaca.

Saya dan hampir semua jemaah berkomunikasi dengan jemaah bangsa lain. Juga dengan warga Arab, baik di toko, mall, masjid, hotel, bus dan sebagainya. Semua mengatakan Indonesia bagus dan sopan. Cuma karena pedagang suka memancing tawar-menawar, maka tersuruh garin ke masjidlah si orang Arab. Ditintiangnyalah oleh jemaah asal Sumbar menawar, kepepet si Arab maka keluar jurus pemungkasnya: Indonesia bakhil, lalu dia tersenyum. Tak selalu begitu. Indonesia pada akhirnya tetap berbelanja.

Maka jangan disebut, orang kian menyemut dan PKL menyemut pula. Kalau ada orang bersedekah buah, teh hangat, kopi hangat, buah, roti dan entah apalagi, maka sebentar saja habis, berkerumunan di sana, bukan urang awak. Orang Arab memang suka bersedekah. (bersambung)