Tak Berkategori  

Jumat Pertama Saya Sejak Maret

Khairul Jasmi

Bacaan ayat imam dengan irama murottal, seolah datang dari sudut nan jauh, menggores kantong air mata. Duduk berjarak lebih satu meter, dengan masker di mulut, saya berada di shaf yang jauh ke belakang. Ada rasa was-was, jangan-jangan sebelah-menyebelah, orang terkena corona.

Ini shalat Jumat (19/06/2020) pertama saya, sejak Maret lalu, ketika muazin mengumandangkan lapaz, shallu fi biyutikum, dalam suasana mencekam karena wabah yang melanda seluruh dunia.

Saya shalat Jumat di basement, kawasan South Quarter, Cilandak, Jakarta, tempat Semen Indonesia berkantor. Di basement ini, udara agak sumpek, sehingga sesekali, melepas masker dari hidung. Semua orang, membawa sajadah sendiri, semua orang tak bersalaman. Ketika iqomah, tak ada yang bergerak ke depan untuk mengisi tempat kosong.

Shalat Jumat, wajib, kecuali karena beberapa alasan, boleh diganti Zuhur. Sepanjang usia saya, tak pernah saya dengar, kita boleh tak berjumat karena wabah, meski kemudian, dalilnya saya temukan dan dengar. Dengan demikian, berkali-kali tidak datang ke masjid, saya merasa, tidak masalah. Hal mudarat, sakit, menghindari wabah, menjadi sebuah tindakan bijak.

Maka Jumat ini saya putus ketakutan itu, karena sudah masuk Hidup Sesuai Keadaan (HSK). Shallu fi buyutikum, berakhir sudah. Tokoh di Makkah, pusat Islam itu, jemaah shalat dengan berdiri berjarak satu meter.
Selama ini di Indonesia, “rapatkan shaf” secara umum tidak benar-benar bisa rapat. Tidak bertemu tumit dengan tumit, tidak bahu dengan bahu. Masih ada jarak 10, 15 cm. Ada rasa riskan jemaah untuk terlalu rapat. Kini, malah menjauh sampai 1, 5 meter.

Pelajaran
Ini pelajaran yang dipetik dari keadaan yang terjadi. Semua, seperti dikatakan banyak orang, sudah berubah. Pelajaran, diberi oleh alam raya. Alam raya itu, adalah juga firman Allah. Itulah sebabnya, kita harus mempelajarinya. Alam Takambang Jadi Guru, kata orang Minang.

Wabah corona itu, yang menakutkan itu, yang membuat jarak itu, merupakan hal baru, setelah 100 tahun silam ada wabah flu spanyol.

Dan Jumat pun selesai, jemaah, seperti tadi kala masuk, bergerak pergi, tetap dengan jarak sekitar satu meter, tertib, tidak berdesak-desakan. Di tangan mereka, ada sajadah. Tangan itu, ketika keluar, sudah disemprot hand sanitizer. Saya juga. Bahkan di masker, saya teteskan sedikit minyak kayu putih, bermanfaat atau tidak bagi penangkal corona, itu soal lain lagi.

Basement yang jadi tempat shalat telah sepi, jemaah kembali ke kantor masing-masing. Hidup kembali diteruskan, dengan tetap memakai masker.

Ini Jumat pertama saya sejak Maret, jika tulisan ini masih ada 10 atau 15 tahun lagi, semoga dibaca oleh generasi zaman itu. Biar mereka tahu, ada sesuatu yang terjadi pada 2020. Jika link tulisan ini tetap ada, entah berpuluh tahun kemudian, mungkin akan jadi cerita bagi yang membacanya. Masa depan, siapa tahu. (*)