Tak Berkategori  

Kapalo Banda Taram Diserbu Pengunjung, Pemilik Rakik Panen

Pengunjung gembira menikmati  objek wisata Kapalo Banda, Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. (maswir chaniago)
Pengunjung gembira menikmati  objek wisata Kapalo Banda, Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. (maswir chaniago)

PAYAKUMBUH – Setiap objek wisata selalu menjadi incaran pengunjung menghabiskan masa lebaran mereka bersama keluarga, sahabat dan teman dekatnya. Salah satunya objek wisata Kapalo Banda yang berlokasi di Nagari Taram, Keamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Mulai Minggu (25/6) selesai shalat Idul Fitri 1438 H sudah dipadati pengunjung.

Dari pantauan Singgalang , Kamis (29/6), masyarakat dari berbagai daerah memadati objek tersebut sambil menikmati keindahan alam dan deru air mengalir yang mengasyikkan.

Kedatangan pengunjung membuat petugas kalang kabut mengatur kendaraan masuk dan keluar. Petugas terpaksa membatasi kendaraan yang masuk sambil menunggu kendaraan lain yang akan keluar. Jangankan kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun membeludak .

Pengunjung terlihat asyik bersama keluarga menikmati keindahan alam dan jernihnya air sungai objek wisata Kapalo Banda. Bukan hanya sekedar menikmati indahnya alam, pengunjung juga memanfaatkan  rakik dari bambu menelusuri hulu sungai sampai batas yang sudah ditentukan pngelola objek wisata.

Pemilik rakik adalah warga Nagari Taram. Mereka terdaftar pada pengelola objek wisata. Rakik dioperasikan setiap hari dengan sistem cabut loting. Rakik dioperasikan berdasarkan nomur urut loting untuk menjaga ketertiban dan keamanan antara sesama pemilik rakik.

Masing-masing rakik yang disewakan bermuatan empat orang dengan tarif Rp15 ribu untuk satu rakik. Setiap pengunjung diberi waktu menaiki rakik selama 30 menit. Batas waktu rakik beroperasi sampai pukul 17.00 WIB.

Sementara pengunjung lainnya, selain melepaskan kegembiraan menikmati keindahan alam Kapalo Banda juga agak mengeluh karena di lokasi tersebut sangat banyak lalat yang menghinggapi makanan. “Lalat tersebut tentunya berasal dari banyaknya kandang ayam milik masyarakat di sekitar lokasi objek wisata,” kata salah seorang pengunjung. (maswir chaniago)