Kasus Kematian Pekerja, Zulkardi Nilai PHR Kurang Berempati

Ketua AMPR, Zulkardi saat memberikan keterangan kepada awak media di Pekanbaru.(*)

PEKANBARU – Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Provinsi Riau (AMPR) menilai PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) kurang berempati terhadap kasus kematian pekerja.

Hal itu diungkapkan Ketua AMPR, Zulkardi kepada awak media di Pekanbaru, Selasa (24/1/2023).

“Kami menduga, perusahaan hanya melihat kondisi ini sebagai urusan uang kerohiman saja dan kami melihat tidak ada upaya pencegahan ataupun evaluasi prosedur kerja secara menyeluruh dimulai sejak terjadinya kecelakaan kerja pertama,” katanya.

Zulkardi mengklaim, bahwa kasus pekerja meninggal dunia bukan kali pertama terjadi, melainkan sudah mencapai 7 orang.

“Disini AMPR berperan sebagai kontrol sosial. Kami akan menyurati mentri BUMN Erick Thohir dan sejumlah stakeholder lainnya. Kami mendesak agar Dirut PHR mengundurkan diri bahkan diberhentikan secara tidak hormat,” ungkapnya.

Menurut Zulkardi, seharusnya Dirut adalah orang yang paling bertanggung jawab dan dinilai gagal memimpin PT PHR.

Zulkardi menjelaskan, dari kontrol sosial yang dilakukan AMPR ditemukan peralatan kerja dari mitra kerja PHR banyak yang tidak memenuhi standar.

Sehingga banyak menimbulkan korban jiwa dan banyak para pekerja Subkontraktor di lingkungan PHR yang bekerja tidak sesuai SOP.

“Tak hanya itu, beban kerja yang ditetapkan pihak subkontraktor cukup tinggi sehingga memberatkan para pekerja mitra PHR dan banyak mitra kerja PHR yang merugi yang diakibatkan adanya dugaan Permainan Kenaikan harga solar sejak Agustus 2021 yang mengakibatkan peningkatan Cost pekerjaan HSE,” paparnya.

“Sungguh tak ada sedikitpun maksud dan tujuan kami untuk mengeksploitasi orang meninggal, namun jika kita bungkam atas kejadian ini, kami dapat pastikan kedepannya PHR akan terus memakan korban jiwa baik itu dikarenakan kecelakaan kerja maupun sebagai impact dari konflik kepentingan,” jelasnya.

Lebihlanjut, AMPR berharap pihak perusahaan juga dapat menetapkan daftar Blacklist terhadap Perusahaan Subkontraktor yang lalai atas Keselamatan, Kesehatan Kerja (K3).

“Tujuannya agar perusahaan Subkontraktor lainnya bisa berbenah dan mengevaluasi Pekerja yang dengan sengaja tidak taat aturan HSE (K3),” ungkapnya.

Sebelumnya, diberitakan bahwa seorang pekerja dilaporkan mengalami kecelakaan kerja hingga meninggal dunia, Rabu (18/1/2023).

Insiden itu terjadi di Wilayah Kerja, Minas, kabupaten Siak pada 18 Januari 2023.

Informasi yang dirangkum, korban berinisial DS (22) mengalami kecelakaan kerja di posisi floorman di PT. Asindo Citraseni Satria yang merupakan rekanan dari PHR.

Kecelakaan terjadi di area kerja PHR tepatnya di rig ACS-06 Minas 5D-28.(**)