Tak Berkategori  

Kaum Mendang-mending

Khairul Jasmi (ist)

Khairul Jasmi
Mending pakai tol, mending jalan biasa. Mending makan di sini tidak mahal, mending di sana viewnya bagus. Di situ mahal di sana murah, mending di sana saja. Mending tak pulang kampung, mending sekarang pulang sudah dua tahun tidak. Mending makan bakso sebab semangkuak kabasuah 25 ribu.

Wal-bala wal-laba, wal-ota, kian kemari mendang mending. Sekarang kaum mendang mending sedang menguasai lini massa. Mereke bersimfoni dengan hebat.

Mereka memendam rindu. Rindu itu mahal. Yang enak-enak juga. Yang murah? Kalau tak ada satupun keinginan. Sagalo indak.

Rindu kampung halaman dibayar saat mudik lebaran. Itu mahal. Pengeluaran terbesar dapat dipastikan untuk ongkos pulang dan ongkos-ongkos transportasi lokal. Termasuk naik oto dan terjebak macet. Mobil sendiri atau sewa. Yang manapun BBM tanggung sendiri.
Uang juga habis untuk keperluan sendiri, orang tua dan sanak saudara, juga untuk kegiatan sosial dan sedekah. Itulah ongkos mudik. Mudik atau pulang kampung adalah pergerakan orang yang luar biasa. Yang juga luar biasa heboh harga mahal. Tentu saja misalnya, harga di Marawa mahal, karena obyek itu elite. Makanya kita dalam hidup tak boleh mendudu-dudu saja. Pikir dahulu pendapatan. Artinya pikiran dulu masak-masak.

Marawa bukan yang pertama dibae dek netizen. Sebelum ini soal dendang di nasi kapau yang dibilang mahal dan netizen mengeluh sepanjang tali beruk di medsos. Maka turun tanganlah Pemko Bukittinggi menjelaskan. Tak ada masalah lagi. Sama dengan Marawa, semua sudah menjelaskan, maka aman.

Yang sedih, warung makan gulai itiak di Sianok, setela dihampat tagak oleh netizen tak ada yang menjelaskan, akhirnya bangkrut dan tutup. Panga balanya dia makan di sana, dan dibilang mahal. Di dunia raya al Minangkabawi hebat tiada tara sampai ke langit ini, tak sampai satu persen penduduknya yang bisa membuat gulai itiak. Tentulah iya mahal. Bumbunya banyak sekali. Tetiba dihampai di medsos.

Jauh sebelumnya Sate Saiyo Padang Panjang zaman orde baru. Berkembang informasi Gubernur Sumbar terpaksa hitung ulang karena tarif mengada-ada. Saya beberapa kali setelah itu mampir, satenya enak, harga tak ada mahal. Maka mampirlah ke sana cobalah.

Netizen yang kara-kara seperti kita-kita ini, janganlah mengeluh soal tarif makan di medsos, nanti memalukan dan membunuh usaha orang. Makanan-makan khas atau tempat-tempat khusus, pastilah mahal. Marawa itu untuk segmen atas bukan untuk kaum “mendang mending”

Mending pariwisata dibenahi, mending tidak sebab semua jadi pakar. Mending urus macet, menditng tidak sebab pemerintah seperti memperdiarkannya saja.

Mending tak ada tol, mending ada, biar jalan lancar. Mending jalan kereta api, mending tidak, sebab sudah sejak dulu, itu ke itu saja. Inilah negeri mendang mending. Pimpiang atas bukit. Bisnis bisa rusak oleh mendang mending ini. Jangankan bisnis, ibu jari saja bisa rusak, menggarik-garik surang jemarimu seperti orang kena parkinson.
Oleh jemarimu, yang hebat itu, gunung saja yang tak runtuh. Bukankah ada penelitian, orang Indonesia paling ramah, tapi paling tidak sopan di medsos. Nah nah….. Jan bacaruik. **