oleh

Ke Belanda Menimba Ilmu Olahraga

MINGGU pagi (20/10), tepat pukul 06.00 pagi waktu setempat, kami mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Tak terasa hari berganti, setelah menempuh perjalanan 12 jam 40 menit dengan menumpang Pesawat KLM, nomor penerbangan KL0810, dari Bandara KLIA, Kuala Lumpur di hari sebelumnya, Sabtu (19/10) sekitar pukul sebelas malam waktu setempat.

Tak lama menunggu, di Bandara Schiphol kami berempat (saya Prof. Dr. Syahrial Bakhtiar, Risky Syahputra beserta satu mahasiswa, Arischo Mardiansyah dan staf, Afdal Ade Hendrayana) sudah dijemput oleh kendaraan taxi untuk kemudian diantar menuju tempat menginap selama di Belanda. Tempat kami menginap bernama de Zaven
Heuvelen Hotel & Bungalow Park di kota Nijmegen, tempat selama sekitar 10 hari kami bermukim dalam rangka tugas. Jarak tempuh sekitar dua jam dilalui dengan rasa gembira dan penasaran. Di luar udara semakin dingin terasa, suhu 10 derajat di musim gugur.

Nijmegen adalah salah satu kota tertua yang berada di Provinsi Gelderland yang didirikan pada masa Romawi Kuno dan berdekatan dengan sungai de Waal yang berbatasan dengan negara Jerman. Kedekatan dengan perbatasan Jerman menyebabkan kehancuran pusat kota pada tahun 1944 oleh bombardir bom udara pasukan sekutu. Saat itu pasukan sekutu menduga Nijmegen adalah salah satu kota di wilayah Jerman.

Nijmegen terkenal juga sebagai kota hutan, di mana terdapat banyak hutan buatan di sekeliling kota dengan penduduk sekitar 175 ribu jiwa. Terdapat beberapa taman yang cukup besar di Nijmegen di antaranya adalah taman Goffert. Taman ini merupakan taman kota terluas, tempat stadion kesebelasan NEC Nijmegen berada. Konser-konser musik kelas internasional biasa diadakan di taman ini. Taman ini juga merupakan pusat penyelenggaraan hari ulang tahun ratu (Koninginedag) di kota Nijmegen.

Kedua adalah taman Brakkenstein, taman ini terletak di dekat Universitas Radboud dan di salah satu sudut dari taman ini dijadikan Hortus botanicus yang menjadi tanggung jawab Universitas Radboud. Ketiga, taman Kronenburg yaitu taman terdekat dari pusat kota ini menjadi sangat terkenal setelah pada tahun 1991 menjadi judul lagu dari Frank Boeijen, penyanyi terkenal Belanda yang berasal dari kota Nijmegen. Setiap tahun di bulan Juli minggu kedua diadakan de Vierdagse yaitu perlombaan berjalan selama 4 hari dengan rute antara 30-50 km setiap harinya. Perlombaan tingkat Internasional ini telah dimulai sejak 1904.

Di samping sebagai kota hutan, Nijmegen terkenal dengan kota pelajar, terdapat dua Universitas yaitu Universitas Radboud dan HAN (Hogeschool Arnhem Nijmegen) University of Applied Sciences. Nama HAN Universitas ini merupakan gabungan antara dua nama kota yaitu Arnhem dan Nijmegen yang didirikan pada tahun 1996 yang terdiri dari empat fakultas. Empat fakultas itu adalah Fakultas Manajemen Bisnis dan Hukum, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Fakultas Teknik dan Fakultas Pendidikan dan memiliki 14 jurusan. Universitas ini juga memiliki 4 institut, salah satunya Talent Identification Institut.

Pada kesemptan kali ini kami datang ke Belanda setelah diundang oleh Prof. Johan Pion, dosen HAN University of Applied Science yang juga perancang sistem identifikasi bakat olahraga Eropa. Beliaulah yang menunggu kami di hotel tempat menginap di Nijmegen. Sambutannya langsung dibarengi dengan sarapan pagi yang tentu saja sudah disiapkan secara halal. Ada pun Undangan untuk mengikuti pelatihan International Course of Sport Talent Identification ini adalah sebagai hasil kerja sama antara Universitas Negeri Padang dengan HAN University of Applied Science yang telah dimulai sejak 2018.

Pelatihan berlangsung selama 10 hari dengan dihadiri oleh pelatih, akademisi, dan praktisi olahraga dari berbagai negara. Lokasi kegiatannya di gedung Papendal, berjarak sekitar satu setengah jam dari hotel kami. Kegiatan utama iven yang kami jalani adalah mendiskusikan bagaimana cara mengidentifikasi bakat olahraga sejak dini. Tujuan pelatihan ini untuk memprediksi dan menyelidiki perkembangan anak usia dini dalam usaha untuk menghasilkan generasi emas di bidang olahraga.

Dalam usaha untuk menghasilkan atlet-atlet profesional, Prof Johan Pion melalui hasil penelitiannya menghasilkan sebuah model yang disebut SPORTcompass. Model ini sudah digunakan di beberapa sekolah di Eropa dan sudah diintegrasikan dalam sistem pendidikan sekolah dengan mengikuti langkah-langkah mulai dari deteksi, identifikasi, dan pengembangan bakat anak usia dini. Dampak dari dioperasionalkannya model ini secara jangka panjang adalah melejitnya prestasi olahraga di berbagai negara, dan sudah terbukti di Australia, Inggris, dan tentu saja Belanda. Kami beruntung terpilih mewakili Indonesia. Semoga berdampak kepada pembinaan olahraga nasional ke depan. (bersambung)

Loading...

Berita Terkait