Tak Berkategori  

Kegelisahan Minangkabau

Oleh: H. Basril Djabar

Bulan-bulan terakhir, terasa sekali denyut kegelisahan Minangkabau. Pertanyaannya, mana lagi orang Minang di pentas nasional. Pada saat yang sama, orang nyaris lupa, ekonomi sedang tertatih-tatih, rusuknya kena hantam.

Tak ada kegemilangan yang pernah dicapai suku bangsa lain di Indonesia, kecuali oleh Minangkabau. Kini tak satu pun, juga oleh orang Minang sendiri, karena rujukannya adalah zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan. Tak ada lagi zaman kemudian yang bisa dirujuk, untuk menyamai kondisi menakjubkan itu.

Apa yang terjadi?

Pemuka-pemuka suku bangsa lain, pejabat tinggi tak puas dengan jawaban: orang Minang tetap hebat. Putera-putera terbaik itu ada di berbagai bidang profesional. Di top level. Jawaban itu, seakurat apapun, tak membuat lega yang bertanya.

Bangsa ini merindukan tokoh-tokoh tak tertandingi seperti Hatta, Yamin, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, Hamka. Mereka rindu para sastrawan sehebat orang Minang dulu. Ulama sesantun dan sedalam telaga yang datang dari Minang.

Ada suara yang berkata: situasi politik sejak orde baru tidak memberi peluang pada nasionalisme orang Minang. Akan tiba saatnya. Entah iya entah tidak.

Saya tak sehebat pakar menganalisa. Menurut saya, tokoh hebat, yang negarawan, yang kata-katanya dikutip orang, yang gaya hidupnya tidak hedonis, yang peduli pada nasib rakyat, akan muncul, jika dimulai dari rumah tangga.

Bisa jadi selama ini, sepertinya memang begitu, anak-anak dari generasi orde baru sampai sekarang “dipaksa” oleh sekolah, oleh lingkungan dan rumahnya sendiri, untuk jadi pekerja di dunia kapitalis, bukan jadi Hatta, Sjahrir Yamin dan Hamka muda. Sekadar ucapan, banyak, tapi belum pada edukasi serta pendidikan moral, akhlak dan titik api tujuan pendidikan.

Tak ada kata-kata tokoh hari ini yang menggetarkan jiwa. Tak ada ucapan beliau-beliau yang ditulis di dinding truk. Yang ada syair-syair Iwan Fals. Mata para calon pembesar dan para pembesar tak pernah berair melihat kehidupan rakyat, apalagi meradakannya.

Maka hari ini KEGELISAHAN MINANGKABAU, perlu dijaga. Kegelisahan itulah yang akan mendorong lahirnya orang hebat lagi dari suku bangsa ini. Kita benar-benar ditunggu oleh Indonesia tampil seperti dulu lagi. Itu harus diproses sejak sekarang bukannya menganggap kita hebat saja.

Minang tinggal kelabang, kata Gus Dur di masa jauh ke belakang. Gus Dur baru mungkin telah lahir, ayam kita mestilah bertelur lagi, untuk berkokok dan bertelur.*