oleh

Kekerasan Jurnalis Meningkat 100 Persen

Ilustrasi. (*)
Ilustrasi. (*)

JAKARTA – Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Suwarjono menilai dalam kurun waktu satu tahun belakangan merupakan waktu yang berbahaya bagi jurnalis di Indonesia. Pihaknya menilai kebebasan pers berada dalam tekanan. Hal ini tak lepas dari banyaknya kekerasan dan tekanan yang dilakukan aparat keamanan terhadap awak media ketika sedang menjalankan tugas di lapangan.

“Ini terlihat dari catatan AJI Indonesia sepanjang tahun 2016 kemarin ada peningkatan kekerasan terhadap pekerja jurnalistik hampir naik 100  persen,”kata Jono kepada Okezone, Kamis (9/2).

Pihaknya memerinci dari data di tahun 2015 ada sebanyak 42 kasus kekerasan yang terjadi kepada jurnalis. Jumlah ini meningkat menjadi 78 kasus kekerasan di 2016. “Pelaku kekerasan terbanyak datang dari warga dengan 26 kasus dan kepolisian berada di peringkat kedua dengan jumlah 13 kasus kekerasan,” katanya.

Dari jumlah 78 kasus tersebut, terang Jono ada tiga kasus yang menyita perhatian publik. Yang pertama kasus pengeroyokan jurnalis di Medan oleh TNI Angkatan Udara (AU), kedua kekerasan saat peliputan kecelakaan pesawat di Malang dan ketiga kekerasan terhadap jurnalis di Madiun saat meliput konvoi ormas oleh TNI Angkatan Darat (AD).

“Penyelesaian dengan cara security approach adalah cara-cara ‘Orde Baru’ dalam menyelesaikan persoalan. Ini yang harus dikritisi, mengingat jumlah kekerasan jurnalis meningkat tajam. Penyebabnya, tidak ada penegakan hukum, sehingga kejadian terus berulang. Pelaku kekerasan tidak pernah diproses hukum, termasuk pelaku dari aparat Kepolisian dan TNI yang seakan mendapat kekebalan atau impunitas,” tukasnya. (rahmat)

agregasi okezone1

Loading...

Berita Terkait