Tak Berkategori  

Kemenhub Mediasi Hak Pelaut yang Meninggal di Kapal

La Irfan bersama keluarga mewakili ahli waris dari La Ode Wawan memperlihatkan tanda terima mediasi senilai Rp304.678.425, - foto bersama dengan pemilik kapal, PT Anugerah Bahari Pasifik dan Kasubdit Kepelautan Capt. Jaja Suparman. (Yusman)

Jakarta, Singgalang – Untuk kesekian kalinya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kembali memediasi hak pelaut yang meninggal saat bekerja di kapal. Kali ini, La Ode Wawan, seorang pelaut (ABK) yang meninggal saat bekerja di Kapal Kounen Maru.

Kabag Organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub, Wisnu Wardana, kepada Singgalang di Jakarta, Kamis (15/4) mengungkapkan, mediasi penyelesaian hak alm. La Ode Wawan digelar antara PT Anugerah Bahari Pasifik selaku pemilik kapal dengan La Irfan, mewakili ahli waris dari La Ode Wawan, dipimpin oleh Kasubdit Kepelautan Ditjen Hubla Kemenhub, Capt. Jaja Suparman di Kementerian Perhubungan.

“Memastikan penyelesaian hak-hak pelaut yang meninggal saat bertugas merupakan salah satu bentuk kehadiran Pemerintah sekaligus bentuk kepedulian Ditjen Perhubungan Laut dalam memberi perlindungan terhadap pelaut Indonesia,” kata Capt. Jaja Suparman.

Menurutnya, upaya mediasi seperti ini merupakan salah satu bentuk pelayanan konkret dan dukungan Pemerintah dalam melindungi hak pelaut serta membantu menyelesaikan permasalahan hingga menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak.

Dikatakan, penyerahan santunan senilai Rp l304.678.425 telah diserahkan oleh PT Anugerah Bahari Pasifik kepada ahli waris La Irfan, mewakili keluarga dari Alm. La Ode Wawan.

Capt. Jaja Suparman menyebutkan, Alm. La Ode Wawan meninggal dunia di kapal Kaounen Maru pada tanggal 3 Desember 2020. Adapun penyerahan jenazah dibantu fasilitasi oleh PT Anugerah Bahari Pasifik kepada pihak keluarga pada tanggal 26 Desember 2020 bertempat di Bandara Soekarno Hatta.

“Kami menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pelaut tersebut, dan mengucapkan terima kasih kepada kedua belah pihak yang saling kooperatif dalam menyelesaikan proses pemberian santunan/hak-hak pelaut yang meninggal,” tuturnya.

Capt. Jaja menghimbau seluruh pihak jika terjadi kecelakaan kru atau ABK kapal yang meninggal saat bertugas agar segera menyelesaikan proses santunan kepada keluarga korban atau ahli waris sehingga mereka tidak membutuhkan waktu untuk menunggu lama. (yusman)