Tak Berkategori  

Kerambil Raya

Khairul Jasmi (ist)

Khairul Jasmi

Media sudah lama jadi ruang publik karena itu dilarang buang sampah di sana. Manyarok.

Kalau Anda buang sampah lalu masuk media maka jangan media yang disalahkan. Di medsos banyak sampah lebih tinggi onggoknya dari hal-hal baik.

Kalau asbak melayang-layang di ruang sidang DPRD menunjukkan sampah sedang beterbangan. Sampah itu diproduksi dari ruang terhormat.

“Saya cut,” kata ajudan saat awak media akan mewawancarai pak gubernur. Ini bagian dari pekerjaan yang bukan bidangnya. Kita sering melakukan hal yang jadi urusan orang lain.

Negeri kita karuntang pungkang, adalah sampah intelektual. Ini padi ampo, payah-payah berdemokrasi saja. Lelah ke sawah, hasilnya hampa belaka.

Karuntang pungkang alias kacau balau suasana pemerintahan di Sumbar sebenarnya sudah lama. Media saja yang baru tabik suga sekarang. Tapi, belum telat.

Yang telat insentif nakes, sehingga Mendagri menegur. Soal tegur-menegur lunak atau keras biasanya dianggap enteng saja.

Birokrasi kita seolah memisahkan diri dari publik. Indak nyo danga gai keluhan yang muncul di media.

Masyarakat sipil kurang oli pula. Podo.

Maka, janganlah anggap orang tak tahu akal segala akal itu. Menumpul beras di lumbung untuk awak-awak saja. “Jangan hanya mencari yang banyak tapi carilah yang berkah,” sebuah kalimat di baliho di kota Padang.

Nasihat itu untuk orang. Urusan pejabat jangan dicikarawi. Tralala. Paniang saya dibuatnya

Rakyat boleh paniang, urusan uang biar dibantu. Nanti akan merembes-rembes juga, tenanglah. Sebentar lagi proyek pengadaan akan cair pula dananya.

Kalau Anda pernah dengar bahwa proyek pemerintah dikuasai satu pihak, maka temuilah orang-orang yang gigit jari. Lah bak nyo balam padi rabah. Dirapunnyo semua. Dia kuasai. Maka datanglah orang-orang dari luar provinsi kita, termasuk membuat buku. Bahkan ketua tim segala hebat orang luar juga.

Kita-kita ini engak raya internasional tiada tara, jadi tak bisa nulis buku. Tak bisa jadi tim segala tim, bisanya koar-koar doang hahaha

Lalu: karuntang pungkang ini hanyalah galeme. Solusinya buang saja. Caranya? Enjoy saja dengan media, jelaskan yang perlu dijelaskan. Salah ya salah saja.

Saya ingat sespri Gubernur Hasan Basri Durin, namanya Gamawan Fauzi. Sebagai sespri dia tiap pagi datang ke gubernur dan menjelaskan apa topik media hari. Lalu didiskusikan. Gubernur Pak Hasan lancar jaya bersama awak media.

Tentu saja sekarang jika benar maka KKN ditiadakan saja, mancari pakaro sen. Berikut, wartawan adalah kawan bukan lawan. Wartawan itu bak merpati jinak makan di tangan tapi jangan disakiti apalagi ditangkap. Jika salah resek bisa jadi harimau sumatera.

Jadi? Tata laksana, GCG, jembatan keledainya TARIF. Transparan akuntabel, responsibility, independent dan fairness. Hahaa kerambil raya*