Kereta ke Kota

Oleh: Khairul Jasmi

“Kereta ke Kota 46 Menit” sebuah pemberitahuan tergantung di langit-langit koridor kedatangan di Bandara Soekarno Hatta. Saya agak terpesona dengan pemberitahuan itu. Lebay kali ya.

Tapi begini, di kota-kota hebat dunia, kereta api selalu jadi andalan. Saya bayangkan, ada turis asing dari Eropa sendirian datang ke Jakarta, ia akan membaca di bawah pengumuman itu, hal yang sama tapi dalam Bahasa Inggris, ” Train to City, 46 Minutes.” Mungkin ia akan merasa berada di kota kedua. Serasa nyaman, karena ada kereta seperti di negerinya.

Yang kedua, bagi saya “Kereta ke Kota.” ditulis dengan huruf besar seperti itu, terbayang sebuah kota yang nyaman. Kota yang memihak pada warganya.

Di Bandara (internasional) Minangkabau, juga ada kereta, tapi tak banyak yang naik. Tradisi naik kereta api yang dibangun pada zaman Belanda, porak-poranda kemudian oleh mobil. Hancur lebur.

Naik sepeda juga lenyap tak berbekas karena motor, kasus paling hebat terjadi di kota sepeda, Payakumbuh.

Sekarang kereta api dari Padang ke Pariaman terus ke Naresh, saya dengar sudah ramai.

Ongkos murah meriah. Katanya jika tak semua, banyak mahasiswa asal Pariaman yang berkampus di Padang, pulang pergi saya, mereka tidak kost di Padang. Biaya jauh lebih murah.

Sayang jalur kereta dari Padang baru bisa ditempuh lagi sampai ke Kayu tanam. Ke atasnya Padang Panjang dan Bukittinggi, tak bisa diharap lagi. Jika pun bisa, perlu keseriusan pemerintah.

Yang telah aktif kembali di Sawahlunto sampai ke Muaro Kalaban. Sementara rel dari Padang Panjang ke Payakumbuh sudah terbenam dan di banyak titik berdiri rumah di atasnya. Bahkan di Padang Panjang sudah jadi jalan raya. Mobil ke mobil saja yang diurus pemerintah sekarang, termasuk mobil dinasnya yang baru-baru.

“Kereta ke Kota,” memberikan kepastian. Di kota turun di stasiun dan berjalan sedikit untuk mendapatkan angkutan kota ke tempat tujuan. Bahkan di banyak kota dunia, yang terdekat Jakarta dan Singapura ada kereta bawah tanah dan ada yang di atas serta di permukaan tanah. Di Padang juga sudah mulai ke Pulo Air. Biati saya.

Pak Gubernur Pak Walikota Padang dan segenap pejabat misalnya, sebaiknya naik kereta api saja ke bandara, untuk contoh, nanti kami siarkan di media. Daripada naik sepeda ke kantor, tapi sekali saja. Sekali apalah gunanya selain untuk pencitraan.

Baguslah kalau dicoba oleh bapak-bapak dan oleh tokoh-tokoh yang kerjanya mengeritik saja. Saya juga, jangan asal suruh-suruh saja, tapi naik mobil juga ke bandara ya ndak.

Ini akan menarik, apalagi jika ada pengumuman dimana-mana di kota Padang “kereta ke bandara 30 menit.” Pasti akan menggoda untuk dicoba. Kalau diam-diam saja tanpa promosi, tentu orang lupa. Atau memang stasiun kereta di BIM belum bisa dipakai?

Mengubah pola dan kemauan memakai moda transportasi memang susah, tapi kalau tersedia dan tak habis waktu menunggu sebenarnya gampang. Contohnya kereta api ke Pariaman itu. Ongkosnya saja kata kawan saya hanya Rp4 000.

Jika kita bangsa Indonesia tak main Rubu kan, main timbun saja peninggalan Belanda dulu, mungkin kita akan agak hebat sedikit dari yang sekarang. Saluran air di Padang yang dibuat Belanda, banyak yang ditimbun, jalan kereta ditimbun, kuburan dibongkar, lalu dibuat gedung di atasnya. Kita kehilangan banyak jejak sejarah.

“Kereta ke Kota,” memang menarik. Sudah coba belum? Cobalah agak sekali, lasuah pula. (*)