oleh

Ketika Wisatawan Malaysia Melancong ke Kampung Halaman

Oleh Yuni

“Wow, amazing (luar biasa-red),” kata Rosli Bin Mohd Nasir, wisatawan asal Malaysia saat melihat keindahan Danau Maninjau dari atas mobil yang ditumpanginya. Mobil itu tengah ‘meliuk’ di Kelok 44, Kabupaten Agam, Sumatera Barat hendak menuju rumah kelahiran tokoh ulama dan sastrawan Indonesia, Buya Hamka di Sungai Batang.

Pemandangan dari atas ketinggian Kelok 44 pada Minggu (24/11/2019) memang sangat indah dengan langit berwarna biru yang serasi dengan gumpalan awan berwarna putih susu. Di bawahnya, danau pun terlihat membiru, memberi pesona yang luar biasa pada danau yang terkenal dengan Legenda Bujang Sembilan.

Siang itu, Rosli bersama kawannya, Khairul menuju tempat kelahiran Buya Hamka, ulama asal Ranah Minang yang sangat terkenal di berbagai belahan dunia, terutama di negara tetangga, Malaysia. Rosli hendak melihat lebih dekat tempat kelahiran penulis “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” itu.

Di sana dengan go pro, kamera canggih miliknya, setiap sudut tak lepas diabadikannya. Puas berkeliling dan mengabadikan diri di rumah yang hanya memiliki satu kamar tersebut, mereka bertolak ke Malalak, satu dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Agam.

Malalak terdiri atas empat kenagarian, yaitu Nagari Malalak Timur, Malalak Barat, Malalak Utara, dan Malalak Selatan. Luasnya 103,21 km² dengan kepadatan penduduk menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010 sebanyak 96 jiwa/km².

Ke Malalak adalah tujuan utama pria 50 tahun ini. Di sanalah, ayahnya Mohd Nasir berasal. Rosli dan delapan saudaranya yang lain belum sekalipun menginjakkan kaki di tanah kelahiran ayahnya yang wafat pada tahun 2000 lalu.

Rosli sendiri hanya mendapatkan cerita tentang Malalak sekilas saja dari ayahnya. Tak banyak yang dia tahu tentang asal muasal sang ayah, selain satu kata saja, Malalak.

Rasa tak percaya merona di wajahnya yang putih bersih saat menginjakkan kaki di Malalak yang siang itu sedang berkabut tebal. Rinai juga turun membasahi desa di kaki Gunung Singgalang tersebut.

Sehari sebelumnya, usai menikmati sejumlah destinasi wisata di Ranah Minang, Rosli dengan ditemani “cucu jauh” ayahnya bernama Yuni sempat menyambangi rumah keponakan sang ayah bernama Marana di Parabek, Kecamatan Banuhampu.

Perempuan berusia lebih dari 70 tahun ini adalah satu dari beberapa keponakan ayahnya. Ibunya bernama Nuyah, anak dari Sarah, saudara perempuan Suli, ibu dari Nasir, ayah Rosli yang di masa lalu merantau bersama ibu tirinya, Jawani dan ayahnya, Jamal ke Malaysia. Di negara itu, mereka bermukim di Perak, Batu 8.

Sarah sendiri memiliki tiga saudara, yaitu Rasiak, Suli dan Tala bergelar Datuak Rangkayo Basa. Rasiak memiliki empat anak dari dua isterinya. Anak dari isteri pertamanya, Nian, Liana, dan Nidan. Sementara anak dari isteri keduanya bernama Rajudin Dt. Basa Nan Sati yang sekira tahun 1990-an pernah ke Malaysia menyambangi Nasir.

Dalam lawatannya ke kampung halaman ayahandanya, Rosli yang merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara ini juga sempat mampir ke rumah beberapa keponakan ayahnya yang lain. Seperti ke rumah Amin Machkudum dan Zaimar yang merupakan anak dari Saima, cucu dari Sarah. Sedangkan Amin, memiliki garis keturunan nenek moyang yang agak jauh dari silsilah keluarga Nasir yang aslinya berasal dari Kenagarian Malalak Timur.

Begitulah sekelumit kisah mencari jejak masa lalu yang dilakukan ayah dari empat orang anak ini. Sebenarnya, Rosli sudah lama hendak menelusuri seluk beluk keluarga dari ayahandanya. Namun karena kesibukannya, baru tahun ini dia bisa melihat lebih dekat kampung asal ayahnya. “Sungguh saya senang. Inilah yang selama ini saya cari,” katanya penuh haru.

Sepanjang perjalanan di Malalak, dia memang tak henti menahan keharuan, seolah tak menyangka dia bisa hadir di negeri berkabut itu dan “menemukan” jejak langkah yang pernah ditorehkan ayahnya di masa kecilnya dulu. (*)

Loading...

Berita Terkait