Tak Berkategori  

Khairul Jasmi: Kisah Bumi Kita

Khairul Jasmi.(ist)

Bumi adalah butiran debu. Ini buktinya:

Saat ini diketahui ada 13 galaksi masing-masing terdiri dari miliran bintang. Yang 13 itu masih disebut galaksi kecil. Teropong NASA menangkap ada 100 juta supergalaksi.

Tadi satu galaksi kecil memiliki miliaran bintang. Ada 100 supergalaksi. Tak terbilang. Tapi, ternyata masih sangat banyak yang tak terterpong.

Makanya, bumi tak ada apa-apanya. Semua pohon dan air di bumi hanyalah “sedikit” untuk menuliskan bahwa Tuhan itu absolut.

Itulah yg hendak disampaikan oleh Surah Lukman/31:27. Terjemahan bebasnya, jika pohon-pohon di bumi jadi pena dan laut jadi tinta ditambah tujuh laut lagi niscaya tidak habis-habisnya ditulis kalimat Allah.

Kita sudah sering mendengar ceramah ustad soal ini, tapi tidak diyakinkan dengaan fakta. Tinggal baca saja sedikit buku-buku maka kita akan dituntun menuju inti surat Lukman tersebut. Kalau hanya berputar-putar di ayat itu saja, orang sudah sering mendengarnya. Saran saja, sebab sekarang sangat sensitif mengeritik ustad. Maafkan daku.

Hari ini jumlah manusia 7,7 miliar di bumi. Sejak Nabi Adam jumlah manusia di bumi diperkirakan 108,2 miliar. Dimulai dari dua orang saja. Kalau kiamat besok, maka jumlah manusia yang masuk surga dan neraka ya sebanyak itulah.

Kalau kita tahu bahwa besok kiamat, tapi hari ini di tangan Anda ada bibit, maka tanamlah. Sayup-sayup saya dengar, itu pesan Nabi kita.

Apa maknanya? Karajo. Indak maota se. Kerja kerja kerja. Kreatif. Karena kreatif itulah ada payung kuncup dan terbuka di Masjid Nabawi. Ada marmer sedingin salju di seputaran Ka’bah.

Apa pesan lainnya dari agama yang meminta kita kreatif? Pembagian warisan. Itu pesan sangat kuat umat Islam, mestilah kaya. Pesan lain? Masjid harus lebih makmur dari rumah sekitarnya. Bukan menampung sumbangan dengan ketiding. Beriyur ke beriyur, tiok cacah.

Hahaha talongsong-talongsong saya. Kembali ke pangkal kaji: bumi butiran debu. Di Tata Surya kita ada matahari. Di bumi ada makhluk hidup. Ada air yang jumlahnya sejak dulu sampai sekarang tetap sama.

Dan yang paling tua di bumi adalah cinta serta benci. Diantara keduanya, kehidupan dijalani. Belakangan datanglah uang. Uang punya ibukotanya sendiri. Kita sering bertengkar karena itu. Karena uang datanglah kekuasaan. Sekali-sekali usahakan melihat langit dalam artian yang mendalam. Sesekali merenunglah tentang cinta, bak pesan dalan syair Rusli Marzuki Saria:

Beri Aku

//Beri aku cinta yang sederhana, sayang
Cinta yang tergantung di daun-daun
Cinta yang menyembul di runcing-runcing ilalang
Cinta yang mengalir di sungai-sungai gunung… //

Sekian saja kutbah hahahhaha, sorry. Begitulah selamat libur yang digeser-geser pemerintah. Jangan lupa vaksin. Ikuti sajalah, jangan mangarengkang tagang juga. Kata kawan saya Bachtul: ilmu yang sedikit bikin masalah. (**)

(ini tulisan di kolom Wasit Garis Koran Singgalang edisi Minggu)