Khamsa Riyal, Murah-murah, Lihat Dulu…

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Toko Makanan Indonesia, namanya dekat hotel, tempat jemaah berbelanja. (Kj)

Bahasa Indonesia untuk jual beli dan memanggil orang, hafal oleh pedagang di Medinah dan Makkah. “Khamsa riyal, murah-murah, lihat dulu,” kata pedagang. Orang Indonesia pun mendekat. Banyak dan lama benar menawarnya maka  dapat ucapan, “Indonesia bakhil,” kalau lagi senang, “Indonesia bagusss,” kata pedagang.

“Mamnue altakdkhyin.”

Lalu kita? Molongo. Tak pandai bahasa Arab. Yang bisa Inggris ya oke, Arabnya yang keteteran. Lantas? Harusnya jemaah Indonesia ikut kursus bahasa Arab. Bayangkan 10 tahun menunggu untuk naik haji, sekarang 15 tahun, ssharusnya pemerintah memotivasi kursus bahasa Arab. Dibayar atau dibebankan pada biaya haji. Agak memalukan, Indonesia mendatangkan penziarah terbanyak, pedagang bisa berbahasa Indonesia sekadarnya, kita datang dengan penguasaan bahasa Arab yang amat minim bahkan nol. Bahasa ini penting sekali tatkala naik angkutan umum. Jangan hanya pemerintah memberi tahu di Saudi, mobil setir kiri dan melaju di jalur kanan. Hati-hati menyeberang. Bahasa Arab juga perlu kalau hendak bertanya pada petugas di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Bertanya arah atau pintu juga toilet.

 

Wajib bisa Arab

Rumah makan Al Arabi semua dilayani dengan Bahasa Indonesia. Baksonya enak (kj)

Antre haji minimal 10 tahun, maka sewajarnya calon jemaah haji Indonesia bisa berbahasa Arab. Jika demikian maka tanpa disadari penguasaan bahasa asing selain Inggris akan meluas di Indonesia. Pada kualitas yang lebih baik, bisa mendalami kitab-kitab Arab. Apa semua harus ikut? Yanh tua-tua mungkin sekadarnya saja diajari.

Menurut seorang jemaah asal Padang,  kursus bahasa Arab bagi calon jemaah haji dinilai penting karena jemaah reguler berada di Saudi 40 hari. Tiap hari berkomunikasi dengan warga setempat. Jika seperti sekarang maka mereka “terpisah” dari lingkungannya. Kutbah tak jelas, sapaan orang tak tentu. Yang laku bahasa tarzan. Tawar barang, angkat tangan. Ditegur orang balas dengan senyum.

“Jemaah kehilangan akal tak jelas mau bicara apa,” katanya.

Untung kemudian ada terjemahan google baik teks maupun suara. Itupun hanya bisa dilakukan segelintir orang saja.

Menurut jemaah waktu 10 tahun untuk kursus bahasa Arab bisa membuat seseorang sangat mahir berbahasa Arab. Jemaah ini, heran kenapa pemerintah lupa akan hal penting ini.

Pengajian dan buku

Seorang teman meminta saya membelikan buku tentang kupasan Alquran. Ia mengirim foto sampulnya via WA. Itulah bekal saya datang ke toko buku di Makkah. Betapa naifnya. Harusnya saya bisa membaca sekaligus mengerti, yang terjadi membacanya bisa, sering tersendat.  Banyak hal yang pasti salah baca. Misalnya pintu darurat, exit, belok kanan, sampai pada iklan. Semua huruf Arab. Di masjid di toko apalagi toko emas, oleh-oleh dan kebutuhan dapur, selalu ada keterangan dalam bahasa Indonesia, juga di ATM. Itu semua hanya sekadarnya saja. Diperlukan informasi tambahan dan sebaiknya ditanya. Bertanya itu benar yang tak bisa. Diajukan dalam bahasa Indonesia, mereka mulai tak mengerti.

Demikian juga dengan pengajian, di masjid terdekat bahkan ustadnya datang ke hotel didampingi penerjemah. Memakan waktu dan melelahkan. Petugas hotel mau membersihkan kamar, minta ganti handuk, apa pula bahasa Arabnya. Sekadar bercakap-cakap saja tak bisa. Dipakailanlah bahasa Inggris bagi yang bisa. Sementara jemaah bangsa lain bagaimana? Sama saja dengan kita, kecuali dari Timur Tengah. Suatu hari setelah musim haji tahun ini, semoga jemaah Indonesia, bisa berbahasa Arab. Setidaknya 50 ribu orang saja dari 221 ribu orang. Saya yakin bisa, jika diatur kursusnya oleh Kemenag atau KBIH. Tidak rancak rasanya, Indonesia mengirim jemaah terbanyak, mereka menanti keberangkatan 10 tahun, tapi dibiarkan tak pandai berbahasa Arab.

“Selamat pagi, kabar baik, Indonesia bagus.”

“Lima riyal, halal halal.” (***)

Loading...