Tak Berkategori  

Koper Besar, Koper Kecil…

Ibu-ibu regu empat, rombongan satu, kloter 1 Padang, selesai berkemas dan plong ke Arafah. Dipotret sesampai di Arafah Minggu (19/8) (kj)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Ibu-ibu regu empat, rombongan satu, kloter 1 Padang, selesai berkemas dan plong ke Arafah. Dipotret sesampai di Arafah Minggu (19/8) (kj)

Jemaah kloter 1 Padang, selesai berberes. Buku belanja ditutup. Koper besar sudah ditimbang, tak ada yang melebihi 32 Kg. Isinya antara lain belanjaan tambahan di Makkah. Tambahan? Ya sebab sebelumnya sudah berbelanja pula di Medinah dan dicargokan. Mungkin sekarang barang tersebut sedang berlayar di Samudera Hindia.

Tak seluruh jemaah begitu, tapi lumayan banyak. Semua belanjaan itu diatur istri. Inilah dunia venus, yang berbagai kebutuhan hidup dibeli atas rekomendasi istri. Istri atas rengekan anak. Kadang anak tak ikut campur juga. Maka jangan heran, warna mobil, kursi ruang tamu warnanya harus sesuai selera istri. Atau di Tanah Haram, warna surban yang dibeli harus katuju dek rang rumah. Jika suami dominan, minimal istri yang memilihkan.

Kaum ibu dari KBIH Nur Zikrillah yang tergabung dalam regu 4 kelompok 1, kloter 1 Padang, sepakat mereka tak berbelanja banyak. Mereka Eli Sofia Hasanuddin, Isminelita Nasrun Gan, Enizar Zainal, Herlina binti Ridwan dan Mounika Muchlis. Di Makkah pasukan mereka berkurang, yaitu amak Mardiah yang dipindah panitia ke kamar lain. Meski begitu Mardiah selalu disapa amak dan senantiasa mereka menghiburnya.

Ibu-ibu regu empat ini belanja yang perlu saja. Menurut Mounika dan Enizar jika banyak berbelanja maka membawanya ribet. Yang pasti dibeli, antara lain sajadah duduk dan sandar, tasbih, sajadah biasa, baju. Ada mainan kunci, maket Ka’bah dan lainnya.

Mereka seperti juga ibu-ibu jemaah lain adalah manajer handal, untuk hampir semua urusan, termasuk mengetuk pintu kamar hotel suami mereka sebelum subuh.

Ibu-ibu paling sigap ke Masjidil Haram. Bapak-bapak ? Sigap juga he he…

Mereka menempati kamar di lantai 1 Hotel Alkeswah, para suami meraka di kamar lain. Satu kamar 4 orang. Isi kamar semua jemaah yang mencolok koper besar pemberian Garuda Indonesia. Juga buah, roti dan air mineral pemberian orang catering dan hotel, banyak sekali.

Berkemas

Akan halnya berkemas sampai menguci koper, bapak-bapak tenaga kuat saja yang dibanggakan. Mengaturnya agak koper tak “hamil,” serahkan pada tungkek tabu. Maka nyaris semua koper yang sudah beres di kloter 1 Padang itu, dimenej kaum wanita.

Memang hampir semua jemaah, sansai dibuat oleh koper. Banyak yang akan dimasukan, tapi tak boleh lebih 32 Kg. Belanjaan menumpuk, kain bawaan juga banyak. Segala banyak saja. Waktu di Medinah sudah dicargokan, sekarang bawaan beranak dan beranak saja. Diisi juga, koper pun “hamil,” dan kala ditimbang 28,5 Kg. Gelak pun terbusai. “Mandeh sangeneknye,” kata seorang jemaah yang berkeringat mengatur isi koper dan mencari timbangan digital. Ternyata jika kain saja isi koper Garuda itu, tak berat pula. Untuk sampai 32 Kg atau satu koli, harus ditambah belanjaan. Apa yang mau ditambah, uang sudah sipi-sipi tanggung.

Jemaah berkemas sebelum bertolak ke Arafah, sebab setelahnya sudah tak bisa, koper besar sudah jalan duluan ke Jeddah untuk selanjutnya naik Garuda. Sang koper menunggu tuannya di sana. Kami bertolak ke Tanah Air pada 27 Agustus. Di Tanah Suci 40 hari. Datang 17 Juli paling awal nomor wahid, kembali paling awal pula. Perdana.

Kami hanya boleh membawa 3 biji. Satu koper besar, satu koper kecil yang bisa diseret. Begitu diseret, dia teleng, sekejap kemudian berpilin dan terbalik. Kalau tak kakinya copot, rodanya tanggal. Kalau koper besar, jinjingannya banyak yang tanggal. Satu lagi tas paspor, digantung di dada seperti botol air anak TK. Sampai di Medinah jemaah kloter 1 Padang masih setia menggayutkannya di leher sedang di  Makkah mayoritas sudah tak memakainya. Mereka membawa tas warna merah pemberian KBIH Nur Zikrillah. Tas itu waktu pergi dan pulang masuk koper kecil bersama tas bertali empat dari bank. Ada juga yang memakai tas yang dibeli di Makkah.

Apa isi koper besar tersebut? Antara lain ini: baju bawaan, sajadah, tasbih, sajadah sandar, baju-baju dari Makkah, batu cincin makkah, sorban berbagai warna. Apa lagi? Miniatur Ka’bah, tas dan topi Bin Dowud. Apa lagi? Kain sarung. Apa lagi? Dan lain-lain.

Koper kecil? Pakaian. Apa lagi? Segala nan kecil-kecil, kacamata hitam, payung, alas kaki, kain ihram, power bank, kabel cas HP, payung tudung petani China. Itu payung caping tak bertangkai bisa dipasang di kepala seperti topi. Bukan topi, namun karet kencang seperti kajai sarawa hawaii. Nah, berpayunglah tanpa mesti dipegang.

Koper yang manapun ada identitas di sana. Nama, nomor paspor, embarkasi, provinsi,  nomor kursi. Lengkap identitas di koper dibanding di dompet. Koper itu seragam dari Garuda. Biru. Di tangkainya diberi identintas per regu, biasanya secarik kain yang warnanya sama.

Bagi saya ada hal perlu diselamatkan. Pertama topi koboy Bin Dawood. Warna putih, harga 5 riyal. Ada 3 biji. Kemudian karung cargo. Saya lihat antik maka saya beli. Yang saya beli dan hampir semua yang dibeli jemaah made in China. Ada yang bukan, tapi barang-barang tertentu saja.

Kurma? Olala sudah duluan berangkat ke Indonesia. Tanpa batuk, kurma dan air zamzam, tak lengkap pulang dari Tanah Suci.

“Kapan kopor ditimbang Pak?” Jemaah bertanya. Pertanyaan soal itu saya dengar tak sekali dua. Koper yang sudah kotor diseret-seret petugas bongkar muat itu, seperti kelelahan. Layu tergeletak di lantai kamar hotel. Lalu tageh badagok setelah diisi. Diikaat sedemikian rupa dan diberi rajut.

Ha ha ada yang salah masuk, hari masih lebih sepekan lagi. Bongkar lagi. Di kamar lain mungkin ada pula yang sedang menarik resletingnya lalu menambah isi koper. Kemudian dikunci kokoh kembali. Plong sudah.

Bepergian selama 40 hari bukanlah urusan sepele. Mayoritas suami-istri dan keluarga besar. Itulah sebabnya koper adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang itu. Maka selama di hotel, koper itu adalah “rumah tangga.” Kala pulang yang sudah tak ada di dalam tentu beras sambalodo goreng dan randang.

Kawan-kawan satu kloter campur aduk, bahagia rasanya karena homesick. Sedih karena akan meninggalkan Makkah, kota paling gagah dan berwibawa dalam khasanah ilmu pengetahuan keislaman kita. Ke kota ini tak bisa kapan saja. Harus antre bertahun-tahun. Mana ada kota di dunia kota yang semacam itu. Meninggalkan kota suci, sedih. Sedih dan bahagia itulah yang bercampur aduk. Apapun berkemas lanjut terus dan satu persatu koper penuh. Dikunci. (bersambung)