Tak Berkategori  

Korban Gempa Pasaman: Rumah Cucuku Habis Sudah

Sari Lenggogeni memeluk korban gempa

PASAMAN- Perempuan itu, tak kuasa menahan tangisnya. Ia usap rambut cucunya. Lalu ia dipeluk Dr. Sari Lenggogeni, Jumat (4/3), di Pasaman

” Nak, abih rumah cucu awak, baa aka lai tu Nak, (Nak hanis rumah cucuku, bagaimana lagi?” Ia terisak lagi. Sudah lama ia tak menangis, kali ini, tak tertahankan.  Sari Lenggogeni dari Tim Relawan TOP 100, segera memeluk perempuan itu. 

Cucunya, Isis Susanti, gadis kecil berambut panjang yang diikat ke belakang itu, terlihat nyaman di pelukan Dr. Sari Lenggogeni. Gadis yang memakai baju long dress, merah muda tersebut adalah anak korban gempa.  

Rumah tempat ia tumbuh, dalam sekejap, seperti bersujud pada Ilahi Robbi. Pada Jumat (25/2) pagi, saat gempa mengguncang, Isis, demikian ia disapa, telah berada dalam kelas. Gempa membuat kampungnya, Tigo Nagari, Malampah, Kabupaten Pasaman, bagai berada di atas ayakan tepung. 

Isis, berlari pulang, secepat yang ia bisa. Napasnya sesak, ia pucat, sepucat ibundanya, Ideh. Ia melihat rumah itu, menakutkan sekaligus memilukan. 

“Dima rumah wak Mak,” ia bertanya. Ibunya, perempuan tabah berusia 32 tahun itu, tak bisa menjawab. Ia peluk putrinya. Pelukan itu adalah jawaban. Isis menangis.  Tami, adalah ayah yang taba. Ia saksikan peristiwa tersebut dalam diam. Rumah yang ia bangun untuk anak dan istri kini remuk, tapi ia tak menangis. Kebanyakan laki-laki, akan menetes air matanya, jika sedang sendiri. 

Rumahnya yang beratap seng itu, yang tersisa hanya satu tiang belaka. 

Kepada Sari Lenggogeni, Isis bertutur, ingin sekolah lagi. Ia juga mau membangun kembali rumahnya. Ia tak bisa hidup tanpa rumah. Adiknya yang nyaman dalam pelukan Bundo Wati, menyimak pembicaraan itu. Ibunya melirik anak gadisnya. Saat itu, Tami, ayah Isis, berdiri agak jauh. Mungkin ia sedang diiris perasaannya sendiri. 

Di pengungsian di tenda seadanya banyak anak-anak. Mereka sudah sepekan siang malam hidup di alam terbuka. Walau sedang duka, melihat ada yang datang, beberapa ibu, bergegas menyiapkan kopi. Mereka masih ingat, tamu mesti dihormati, tapi Tim TOP 100 menolak dengan halus. 

Gempa M6.1 memang telah meremukkan Pasaman Barat dan Pasaman. Tim Gerak Cepat WAG TOP 100, bergerak ke daerah sepi, dua hari lalu, Jumat (4/3). Membawa bantuan yang paling dibutuhkan. Mereka pergi bersama Tim JPS. 

Tami (37) ayah Isis, terlihat kurang tidur. Ia tak tahu kapan Isis dan adiknya bisa datang lagi ke SD Durian Barau. Sekolah itu ditutup dulu sekarang. 

Tim TOP yang berangkat ke Pasaman terdiri dari admin Jasman, Korlap Aksi Kemanusiaa Sari Lenggogeni, anggota Bundo Wati, Adrian Tuswandi dibantu tim pendukung dari JPS Gusdi Riko dan Mona Sisca. Tim diperkuat relawan dari staf Kominfo dan mahasiswa. Tim berangkat dengan empag mobil. Satu mobil dibantu Wagub  Audy. Jumlah tim semuanya 13 orang. Dua warga Malampah ikut membantu.

Dari Pasaman tim meluncur ke Pasaman Barat. Di sini disambut Wabup Risnawanto. (kj)