Tak Berkategori  

Lamang Siarang, Kawan Berlebaran Tahan Lama seperti Randang

Lamang siarang

Oleh Charlie Ch. Legi

Aroma lamang (lemang) memenuhi seisi ruangan tamu. Lelaki bertubuh besar yang sedari tadi duduk bertamu kemudian menjulurkan tangannya kepada si pemilik rumah.

“Maaf lahif batin ya Etek (tante),” katanya.

“Sama-sama. Makanlah lamangnya,” ujar wanita yang dipanggil Etek tadi.

Lelaki itu tak sungkan. Karena dirinya sedang berada di rumah eteknya. Wanita yang bersuamikan paman kandungnya. Tangannya pun lekas menggamit lamang yang berada di atas piring. Masih hangat.

Begitulah kebiasaan berlebaran di Nagari Sariak Alahan Tigo, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Penganan berupa lamang tak pernah absen di atas meja tamu. Selalu dihidangkan hangat, meski cuaca di daerah itu terbilang sejuk.

Menghidangkan Lamang Siarang merupakan tradisi di setiap lebaran yang tak pernah hilang di Nagari Sariak Alahan Tigo. Tokoh masyarakat setempat, Sendria Fardi membenarkan hal tersebut.

“Tradisi membuat Lamang Siarang tidak pernah hilang di sini,” ungkap lelaki tiga anak itu.

Lamang Siarang merupakan lemang hitam. Siarang merupakan nama beras yang terdapat di nagari tersebut. Beras Siarang dimasukkan ke dalam bambu yang disebut Sariak atau Talang. Bambu Sariak atau Talang terbilang tipis dibanding bambu lainnya.

Bambu yang sudah berisi beras Siarang kemudian disiapkan untuk dibakar. Bambu dihangatkan di atas bara api. Jika dibakar langsung dengan api, lamang tidak akan menjadi, hangus.

“Jika menggunakan bambu yang tebal, adonan tidak akan masak,” sebut Sendria Fardi.

Membuat Lamang Siarang dilakukan sehari atau dua hari menjelang lebaran. Memasaknya cukup memakan waktu. Bisa sampai tiga jam lamanya. Bumbunya disiapkan pada malam hari.

Bumbu yang disiapkan yakni tepung, gula tebu yang sudah dicairkan, parutan kelapa yang direndang sampai cokelat dan digiling. Kemudian garam, vanile, dan bumbu lain.

“Semua bumbu diaduk dan didiamkan selama semalam,” kata Sendria.

Hampir setiap rumah membakar Lamang Siarang. Biasanya, satu rumah membuat 20 hingga 30 batang lamang. Lamang itu disimpan di dapur.

Lamang Siarang akan berada di ruang tamu ketika lebaran pertama. Beragam cara menghidangkan yang dilakukan warga setempat. Ada yang menambahkannya dengan parutan kelapa, ada juga yang polos tanpa tambahan lain.

“Kalau pakai parutan kelapa akan bertambah enak,” tutur Sendria.

Lamang Siarang seperti rendang. Mampu tahan lama hingga sebulan. Lamang di dalam bambu dibiarkan berada di dalam bambu. Ketika akan dihidangkan, lamang di dalam bambu dipanaskan di dekat tungku. Ketika memasak nasi dengan kayu bakar, lemang pun kembali hangat setelah dipanaskan dekat tungku.

Ketika ada tamu, lamang yang sudah dihangatkan, dibuka dan dihidangkan. Ketika ada tamu penting yang datang, sebatang lamang diberikan sebagai buah tangan. Ketika “manjalang mintuo”, sebatang lamang dibawa.

“Jadi sebulan itu, lemang menjadi snack lebaran bagi kami,” ungkap Sendria.

Agaknya, bagi warga Sariak Alahan Tigo, kue labaran tak perlu yang mewah. Cukup dengan Lamang Sariak, telah menghangatkan kembali silaturahim yang sempat dingin. Selamat barirayo!(***)