HeadlineTarbiah Ramadhan

Lapau dan Manunggu Waktu Babuko Puaso

×

Lapau dan Manunggu Waktu Babuko Puaso

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mahlil Bunaiya

Mahlil Bunaiya - Jemaah PERTI / Direktur Mantagi Institute.(*)

Di Bukikbatabuah, bahkan di nagari-nagari yang masih hidup tradisi ka Lapau-nya, bisa kita saksikan kebiasaan masyarakat Ka Lapau Sambia Manunggu Babuko Puaso -pergi ke Lapau/warung sembari menunggu waktu berbuka puasa-.

Yang menjadi cirikhas dalam aktivitas dan suasana di Lapau adalah terjadinya dialog, saling tukar cerita dan informasi, ada yang temanya tentang pekerjaan, tentang pengalaman hidup bahkan ada juga tentang keadaan keluarga.

Begitupun aktivitas di Lapau sembari menunggu berbuka puasa, perbedaanya lebih pada konten ceritanya yang lebih reflektif, seolah seperti panggung seni, khusunya seni retorika masyarakat Minangkabau ketika menyampaikan perjalanan spritulitasnya dalam meniti kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana perpaduan antara seni dan spritulitas dalam aktivitas masyarakat Minangkabau di Lapau, peluang tafsirnya pada pengeksplorasian makna dari kebiasaan ka Lapau masyarakat Minangkabau tersebut.

Fokusnya pada pemahaman seni sebagai sebuah refleksi kebersamaan masyarakat yang dipraktikkan untuk sarana komunikasi antar individu atau kelompok. Aktivitas ini erat kaitannya dengan bagaimana penyampaian pesan kehidupan bisa  ditampilkan sebagai tuntunan hidup bermasyarakat, beradat dan beragama (spritualitas).

Pertanyaannya, seperti apa keterkaitan antara seni dan spritulitas? Apakah kebiasaan dan suasana di Lapau bisa dimaknai sebagai keterkaitan antara seni dan spritualitas tersebut?

Uraiannya saya hubungkan berdasarkan catatan ketika menjadi Pambukak Carito/moderator dalam program Bacarito Sambia Manunggu Babuko Puaso oleh Tarbiyah Pasia Official (http://mtipasia.com/) Rabu 5 April 2023.

Beberapa point penting dari uraian Da Zelfeni Wimra sebagai Panyurah Carito/narasumber tentang “Seni dan Spritulitas kemudian direfleksikan dengan pengalaman pribadi dan kebiasaan masyarakat Minangkabau tersebut di atas.

Berdasarkan catatan Muhammad Arkoun, salah satu filusuf Islam Modern yang pemikirannya mempengaruhi reformasi Islam saat ini, bahwa dalam sejarah kelahiran seni, seni retorika merupakan seni tertua. Artinya, ketika masyarakat Minangkabau bercerita di Lapau, bermusyawarah di Rumah Gadang, atau momen-momen yang membuat masyarakat berdialog, sesungguhnya itu bagian dari aktivitas seni, khusunya dalam seni tertua tersebut. Begitupun, dalam pemaknaan yang lebih subjektif, jika berangkat dari pengertian ini, maka semua orang berposisi sebagai seniman. Lalu pertanyaannya, apa hubungannya dengan spritulitas?