oleh

LDII Mendorong Kedewasaan Berpolitik dan Kreativitas Masyarakat Indonesia

JAKARTA – Pesta demokrasi (Pemilu) telah berakhir, namun dinamika saat ini menurut pengamatan masih sangat terasa. Dan menunjukkan simpatisan dua kubu belum memiliki kematangan dalam budaya demokrasi.

Rakyat terpengaruh perseteruan di kalangan elit, padahal negara-negara lain seperti India atau Jepang, dapat menjalankan Pemilu dengan damai meskipun elit politik bersitegang.

Hal tersebut, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar diskusi mendorong masyarakat berpolitik lebih dewasa dan lebih kreatif. Dalam membangun bangsa memberikan pandangan kepentingan terhadap rakyat untuk pemerintahan masa depan.

Kedewasaan politik itu juga harus ditunjukkan dengan masyarakat yang memilih. Masyarakat saat ini lebih pandai sekiranya dari pemilih, misalnya ada menerima uang dari para pesertanya. Namun pada akhirnya pemilih berkecenderungan memilih sesuai dengan aspirasi pilihan mereka.

Selain pendewasaan politik, masyarakat harus didorong kreativitas dan inovasi, untuk menaikkan kapasitas kemandirian bangsa. Stabilitas sosial politik, harus berasal dari tingkat kesadaran demokratis yang semkin tinggi.

Telah terbukti dengan semakin banyaknya tokoh masyarakat yang memahami arti amanah atau keterwakilan. Sebagai contoh sosok seorang Kepala Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Lamongan, Abdul Haris Suhud, telah membangun pariwisata berbasis agrobisnis.

Di atas lahan seluas 4 ha, ditanami oleh Haris dengan sekitar sembilan jenis varietas padi. Haris menjelaskan, penanaman berbagai jenis padi tersebut, meningkatkan kinerja padi dari sisi peningkatan produktivitas dan ketahanannya terhadap hama. Bahwa pertanian itu merupakan proyek percontohan, tutur Haris.

Selain tanaman pangan, di areal tanah proyek percontohan tersebut, juga ditanami bunga dan hortikultura. Penanaman tanaman itu berfungsi untuk menciptakan ekosistem, yang dapat mengundang biota-biota yang memerlukan bunga sebagai wadah untuk berkembang biak. Bahkan untuk mengundang predator yang memakan hama padi.

Di areal proyek percontohan, terdapat sarang burung hantu, untuk memancing burung hantu datang dan bersarang. Burung hantu inilah yang menjadi predator bagi tikus-tikus sebagai perusak hama. “Area ini kemudian dijadikan agro wisata yang meningkatkan nilai jual pertanian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar area tersebut.

Sehingga penduduk sekitar lahan dapat menjual makanan bagi wisatawan, dengan menyediakan berbagai kebutuhan wisata. “Misalkan sebanyak 72.000 desa se Indonesia memiliki 20% kepala desa yang inovatif, yang dapat kemakmuran desa, ujar Prasetyo.”katanya. (sm)

 

News Feed