oleh

Limapuluh Kota Layak Jadi Ibukota Provinsi Sumbar

SARILAMAK – Wacana pemindahan Ibukota Sumatera Barat di Padang buntut potensi gempa besar di Mentawai, kembali mencuat.

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawijaya menilai, puluhan kali gempa pada 2 – 5 Februari 2019 di segmen Mentawai, Sumbar, bisa menjadi penanda awal terjadinya gempa besar 8,8 SR di daerah itu.

Pola itu pernah terjadi saat gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Tokoh muda Sumatera Barat, Muhammad Rahmad menyebut, sudah saatnya seluruh steakholders dan tokoh tokoh Sumbar memikirkan langkah konkrit pemindahan ibukota propinsi.

“Padang sudah memindahkan pusat pemerintahaannya ke dataran tinggi yang lebih aman dan jauh dari pantai. Sementara, proses ibukota provinsi belum dipindahkan sama sekali,” tutur M Rahmad.

CEO Rama Group itu menyebut, Limapuluh Kota layak  menjadi ibukota provinsi Sumatera Barat. Tak hanya sekadar siap, tetapi Limapuluh Kota juga strategis bagi Sumbar .

“Letaknya yang berada ditengah-tengah antara Sumut dan Riau. Jadi pusat pemerintahan PDRI yang menyelamatkan bangsa Indonesia,” sambung eks penulis naskah pidato mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Dubes Singapore Luhut Binsar Panjaitan (kini Menko Polhukam) itu.

Apalagi, Limapuluh Kota punya lahan yang masih luas.

“Saya sudah diskusi dengan tokoh-tokoh masyarakat, penyelenggara daerah. Itu, ada 5 kecamatan yang strategis dibangun menjadi kota dan menjadi ibukota Sumbar,” urainya.

Masing-masing, Situjuah Limo Nagari yang berbatas dengan Payakumbuh dan Tanah Datar, Kecamatan Gunuang Omeh, Kecamatan Bukit Barisan, Kecamatan Kapur IX dan Kec Pangkalan Koto Baru.

Nantinya, Suliki, Guguk, Mungka, Harau, menjadi daerah penyangga ibukota provinsi.

“Sementara kecamatan yang lainnya menjadi pusat Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota,” jelas Muhammad Rahmad. (Bayu)

Berita Terkait