oleh

Losari, Pantai Seribu Janji

 

Pantai Losari (kj)

Khairul Jasmi

PANTAI Pantai Losari bermandikan cahaya matahari. Pukul 5 sore, warga Makassar sudah berdatangan, cari angin. Membeli pisang sapik yang disiram gula merah. Saya sedang di sini, menatap laut ke arah barat sana.

Endi, tukang foto amatir, merayu saya. “Rp30 ribu saja, Pak,” katanya. Pemuda ini sedang sepi orderan. “Sejak gempa Palu dan bagasi dibatasi, pengunjung dari luar berkurang,” katanya, Selasa ( 26/3)

Saya coba bergaya dan dia membidik, hasilnya bagus. Dia sudah punya spot untuk potret jualannya.

“Lima menit, Pak,” katanya sembari bergegas mencuci foto. Sembari menunggu, saya amati jalan membentang lurus di depan. Jalan Penghibur, sudah ditata. Warga kota menikmati kopi sore, yang lain olahraga, joging. Jalan di Kelurahan Ujung Pandang ini, bagian dari jantung Makassar, kota tua di Timur. Ke sinilah dari zaman amat lampau Datuk Ri Bandang asal Minangkabau mengembangkan agama Islam.

Losari adalah pantai seribu janji, seperti juga pantai Padang. Muda-mudi memadu kasih dan diganggu pedagang sarung basah bugis. “Dua seratus, dari daun pisang, asli tenun tangan, ” katanya.

Bersama teman dari Semen Padang dan Tonasa, mampir ke kafe penjual pisang epe, itu tadi, pisang sapik. Pelayannya seorang gadis Bugis yang cekatan. Febri namanya.

“Yang ini ori, ini pakai durian dan ada yang ditaburi coklat,” kata dia. Kami memesan pisang ori. Dia bisa menjual 20 sisir pisang batu sehari, jika lagi ramai. Satu porsi berisi 3 pisang dan harganya Rp15 ribu.

Duduk di bawah pohon yang rindang, saya patut-patut masjid di tengah laut. Arsitekturnya Ridwan Kamil, gubernur Jabar yang ikut main dalam film Dilan itu.

Kafe kaki lima ini dibuka kala senja saat obyek wisata anging mamiri ini mulai ramai dan tutup tengah malam.

Sedang menikmati pisang epe, giliran kami yang didatangi pedagang sarung. “Dapat Rp300 sehari Pak,” kata Tahir, pria asli Bugis itu. Setelah dibeli, ia bergegas pergi kembali menjajakan dagangannya.

Losari, pada awalnya adalah pantai yang dibelakangi toko-toko, kini jadi halaman depan Makassar, Sulawesi Selatan. Dulu jadi pasar ikan, kini obyek wisata terkenal. Sudah mulai dibangun di awal-awal kemerdekaan. Panjang pantai ini sekitar 2 Km, saya saksikan belum sempurna.

Di pantai ini sebagian warga menggantungkan nafkahnya, di sini pula cinta diikat dan diungkai. Pedagang, banyak tak terhitung di kawasan yang ditentukan ada yang jualan tas, kaos, sandal, cidera mata dan lainnya.

Pisang epe habis sudah sepiring, ditemani kopi, warga kian ramai berkunjung, matahari kian turun, sebentar lagi terbenam. Sinar kemuning senja membias di langit barat, Makassar. Warga kota sudah selesai mandi, mereka hendak menikmati senja di kota.

Dari jauh terdengar bunyi kaset mengaji yang disetel entah di masjid mana. Ini di timur negeri kita, di Padang masih dalam waktu Asar. Kami meninggalkan pantai ini, selanjutnya menuju Benteng Rotterdam. **

Loading...

Berita Terkait