Tak Berkategori  

Main Alek Alek-an

Miko Kamal (ist)

Oleh: Miko Kamal

Alek adalah bahasa Minang, berarti pesta dalam bahasa Indonesia. Kata ini belum ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Yang ada kata helat. Banyak artinya. Salah satunya pesta.

Okelah. Tak apa-apa. Mau tertulis atau tidak dalam KBBI, yang jelas banyak orang yang paham artinya. Bila kata alek digandeng dua, di depannya ditambah kata main dan di ujungnya diimbuhi akhiran an, maknanya menjadi pura-pura pesta.

Sudah lama saya tidak mendengar diksi ini. Selasa 27 Juli malam yang lalu, saya mendengarnya lagi. Saya dengar dari Masrizal Koto, sering dipanggil Maskot. Kabarnya Maskot sudah jadi orang yang cukup besar sekarang. Jauh lebih besar dari badannya yang berukuran kecil. Renceh, begitu Anduang saya menyebut orang setinggi dan berbadan seukuran Maskot ini.

Malam itu kami berbincang banyak hal. Mulai sari soal pendidikan dasar, perilaku masyarakat, pertanian, pariwisata sampai soal konversi Bank Nagari ke bentuk syariah. Kami hampir bersepakat dengan semua yang kami omongkan malam itu. Kecuali satu: konversi Bank Nagari ke bentuk syariah. Maskot setujunya spin-off, bukan konversi, seperti prinsip yang saya pegang erat-erat. Tidak apa-apa. Saya tidak marah kepada Maskot atas pendiriannya itu. Saya doakan saja Maskot agar segera dihampiri hidayah.

Diksi main alek-alek-an muncul dari mulut Maskot ketika kami mendiskusikan perilaku umum masyarakat kita yang tidak bisa hidup bersih. Juga soal bank syariah. Saya bilang, soal fakta perilaku masyarakat, ada yang salah dengan sistem pendidikan dasar kita. Pendidikan dasar kita terlalu berorientasi kognitif. Semua dikognitifkan. Contoh, sebagian besar guru kita mengajarkan anak-anak hidup bersih dengan slogan-slogan. Penuhlah dinding ruangan kelas dengan imbauan-imbauan serupa ‘kebersihan sebagian dari iman’ atau ‘buanglah sampah pada tempatnya’, dan lain sebagainya. Slogan-slogan itu tidak berarti apa-apa pada jam istirahat: anak-anak membuang sampah bekas jajanannya tanpa ada yang menegurnya.

‘Mengajar masyarakat itu harus dengan cara main alek- alek-an, Da’, Maskot menginterupsi saya.

Oh iya, Maskot benar, kata saya dalam hati. Saya tahu, bahkan akrab sekali, dengan diksi ini. Dulu, waktu kecil, saya sering main alek-alek-an dengan teman-teman sebaya. Ada yang jadi marapulai, anak daro, urang mudo (penjemput marapulai), dan lain sebagainya. Karena sering main alek alek-an itu, rentetan prosesi perkawinan cara kampung masih lekat di kepala saya.

Saya sudah lama sekali tidak menggunakannya. Diksi praktik yang selama ini senantiasa saya gunakan. Kata saya, perilaku baik masyarakat itu dapat terbentuk dengan jalan mempraktikkannya. Misalnya, mengajarkan masyarakat antre di tempat umum, suruhlah anak-anak praktik antre sejak dini.

Makanya, di Australia, saban minggu anak-anak SD dibawa gurunya plesiran ke tempat umum serupa museum. Jika museumnya terletak jauh dari sekolah, anak-anak diangkut dengan bus. Praktik antre pertama dilakukan ketika naik bus. Turun bus adalah praktik antre kedua. Praktik antre ketiga, ketika anak-anak dan gurunya membeli tiket masuk. Masuk ke museum dengan tertib merupakan praktik antre keempat.

Tidak hanya soal praktik antre, praktik-praktik hidup lainnya juga dilakukan di sekolah. Praktik hidup bersih misalnya. Praktik-praktik kehidupan sosial sejak dini yang dijalankan di negara-negara maju seperti Australia, sukses membentuk perilaku umum masyarakatnya. Orang Australia yang membeli kopi di coffee cart akan langsung antre secara natural. Soal buang sampah pada tempatnya, seorang teman saya bilang: ‘ketika sedang mabukpun, orang Australia akan mencari tong sampah ketika hendak membuang botol minuman keras di tangannya’.

‘Uda perlu menggelar main alek alek-an juga untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang bank syariah’, Maskot mengusul.

‘Uda bikin bank syariah mini di setiap sekolah. Ada siswa yang jadi satpam, jadi teller, jadi customer service dan lainnya. Pakaikan mereka pakaian layaknya seragam pegawai bank. Lakukan itu secara bergiliran kepada setiap murid. Hasilnya akan mantap, Da. Percayalah. Konsep bank syariah akan lengket di kepala siswa, termasuk juga guru. Dengan begitu, literasi masyarakat terhadap bank syariah akan meningkat tajam’, jelas Maskot.

Maskot benar. Setuju benar saya tentang konsep main alek-alek-an, untuk meningkatkan literasi masyarakat atas bank syariah.

Dari sinar mata Maskot malam itu, saya yakin benar dia sesungguhnya mendukung konversi Bank Nagari ke bentuk syariah. Tapi, malam itu, saya melihat seperti ada pengaruh ‘alam gaib’ yang sedang bekerja dalam dirinya agar spin-off lebih didukungnya ketimbang konversi. Biarlah. Tidak apa-apa. Tugas saya, sekali lagi, mendoakannya serius agar hidayah segera menghampirinya dalam waktu dekat.

Terima kasih Maskot yang telah mengaktualkan lagi konsep main alek-alek-an dalam pangana saya.