Marmer Dingin Masjidil Haram dari Yunani

Lantai marrmer Masjidil Haram. (*)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Segarang apapun sengatan matahari, marmer Masjidil Haram selalu dingin, apalagi di pelataran tawaf depan Ka’bah, nyaris sedingin es. Inilah marmer dari Yunani, negeri yang peradabannya amat tua itu.

Tatkala matahari di ubun-ubun, lantai seputaran Ka’bah dingin selalu. Kantor General Presidency untuk Urusan Dua Masjid Suci melansir, Arab Saudi mengimpor  marmer langka Thassos, Yunani. Ini jenis terbaik di dunia. Berwarna salju dan mampu memedamkan hawa panas, sepanjang hari. Maka tak heran tanpa alas kaki tawaf, telapak  akan adem. Berbanding terbalik dengan di luar masjid, tanpa alas kaki, maka telapak akan terbakar.

Pulau Thasoss dikenal memiliki warisan marmer sejak ribuan tahun silam. Marmer Thassos dikenal di seluruh dunia karena kualitasnya. Thasoss yang juga punya cerita dengan Zeus itu kini adalah pulau wisata terkemuka di Yunani. Di sana lori datang dan pergi membawa marmer mahal tersebut untuk selanjutnya dieskpor.

Pulau ini terletak di bagian timur laut di region Makedonia Timur dan Thrace. Luasnya 379 Km². Saat ini jumlah penduduk di saja sekitar 14 ribu jiwa lebih.

Sejak kira- kira abad 1 SM hingga abad III SM, Romawi memesan marmer Thassos dalam jumlah besar untuk bangunan-bangunan penting di sana. Setelahnya berbagai negara membeli marmer ini untuk istana, tempat ibadah, rumah orang kaya, kantor presiden. Didapat kabar pemerintah Saudi membeli sebuah bukit marmer di sana untuk keperluan Masjidil Haram. Masjid tempat kiblat berdiri ini luasnya 288.375 m2. Sedang luas are ma’taf di pelataran Ka’bah 17.540 meter persegi. Tapi kini, tulis AFP luas masjid bertambah 400 meter persegi dan lokasi tawaf yang lantainya dingin itu bisa menampung 2 juta sampai 2,2 juta orang. Seluruh masjid mempekerjakan 200 staf kebersihan, 2.700 pekerja kebersihan dan 260 petugas kontrol serta  100 supervisor. Angka ini belum termasuk staf perempuan. Petugas kebersihan senantiasa siaga setiap waktu. Membersihkan lantai secara sigap.

Sistem pendingin

Sistem pendingin dua masjid suci luar biasa dan sudah diperkenalkan sejak era Raja Fahd bin Abdul Aziz. Dilansir liputan6.com, hasil analisis menunjukkan, 45 persen panas di bangunan masjid justru berasal dari tubuh para jamaah yang membludak. Setiap tubuh manusia saja menghasilkan 1 kilojoule panas setara dengan lampu berdaya 100 watt. Faktor cuaca hanya menyumbang 33 persen. Sementara, 22 persennya berasal dari peralatan elektronik dan lampu di masjid.

Menurut catatan pers pengatur suhu di Masjidil Haram, ada sebuah bangunan induk berlantai enam di sana ada mesin-mesin pengatur air, yang tak terbilang entah berapa galon per detik didinginkan. Lalu udara dingin itu dialirkan melalui pipa-pipa panjang berliku di bawah lantai. Pipa baja itu mengalirkan suhu tadi ke bawah lantai marmer dan tiang- tiang masjid. Makanya di tiap tiang ada celah angin dingin berhembus sepanjang waktu. Bangunan pengatur itu terletak sekitar 1 Km dari Masjidil Haram. Ada yang menyebut hanya 600 meter saja yaitu di Jalan Ajyad.

Kedua sistem Masjid Nabawi, bersumber pada sebuah sistem di bangunan kokoh di kaki sebuah bukit terpaut 7 Km dari Nabawi. Jika kita ke sana maka akan terlihat  pendingin sangat besar terbuat dari baja terbaik. Satu mesin akan memproduksi 239 liter air dingin perdetik dan di sana ada 7 mesin. Air dari masjid lalu didinginkan dan dikembalikan ke masjid. Hasilnya jemaah merasa sejuk. Bahkan dingin. Karena dinginnya jika badan direbahkan sekejap saja bisa tertidur.

Kerajaan Saudi tahu, yang berhaji kebanyakan orang-orang tropis, maka masjid harus adem. Maka teknologi telah membantu hal itu. Untuk lantai sekitar Ka’bah ada batu alam yang amat dingin. Tak perlu teknologi, itulah marmer dari Yunani. Ini bukan mitos. (bersambung)