Tak Berkategori  

Masjid Quba, Didirikan Nabi dengan Cucuran Keringat

Foto bersama di depan Masjid Quba Medinah (refki)

Foto bersama di depan Masjid Quba Medinah (refki)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

NABI Muhammad SAW membangun Masjid Quba dengan memikul bata di pundaknya. Ini dilakukan di puncak lelah setelah perjalanan yang tak tertandingi oleh siapapun dari jemaah haji Indonesia yang sekarang ada di Saudi Arabia.

Pada 1923 saja sebagaimana dicatat petugas haji Indonesia, Haji Abdul Jalil Zainuddin, perjalanan dengan onta memakan waktu 12 malam dengan 10 kali berhanti. Catatan petugas haji zaman lampau itu sebagaimana dilansir duniatimteng.id, adalah perjanan hidup mati: “Sampai menjadi adat di banyak negara Muslim bahwa para peziarah harus menulis surat wasiat mereka sebelum berangkat ke haji. Jika mereka berhasil kembali ke rumah, mereka selalu disambut dengan lagu-lagu tradisional dan pesta.”

Saya benar-benar tak bisa membayangkan, Nabi kita bergerak dari Mekkah di bawah terik tak terpermanai, diiringi awan setentang kepalanya sehingga terlindungi, menembus padang pasir nan ganas. Jika sama lamanya, maka Nabi memerlukan waktu 12 malam, baru sampai di Medinah. Bandingkan dengan sekarang lewat jalan tol membentang sepanjang 600 Km hanya memakan waktu 5 jam di atas bus ber AC dengan air mineral di tangan.

Nabi kita menempuh perjalanan dengan onta 12 malam, sangkaan saya tentu lelah, karena beliau juga manusia. Di ujung lelah itulah beliau membangun dengan tangan sendiri masjid pertama.


Membaca riwayat pendirian masjid hebat ini, Nabi tentulah puas. Beliau datang setiap Sabtu atau Senin ke sini dari jantung Medinah yang terpaut sekitar 5 Km saja. Jalan kaki atau naik onta. Ini dilakukan setelah menetap di kota hebat tersebut.

Quba tiang nan kokoh

Pada Rabu (18/7) di bawah langit Saudi nan jernih, disiram suhu 40 derajat, saya sampai di Quba bersama Prof Masnal dan sejumlah lainnya. Tak terbilang, merpati memenuhi pelataran masjid itu dan lahan parkir yang luas, menanti. Masjid ini lebih gagah dari yang saya bayangkan.

Nabi Muhammad berkata : “Siapa saja yang berwuduk di rumahnya, kemudian pergi ke Masjid Quba untuk shalat, akan diberi pahala seperti menunaikan umrah.” Saya berwuduk di sana. Fasilitasnya bagus. Selesai, masuk masjid. Di dalam ratusan orang sedang shalat sunat dan ada yang berdoa, sebuah prosesi ritual yang sudah diniatkan sejak dari Tanah Air.

Lagi-lagi saat menulis kisah ini, ingatan saya kembali ke zaman kanak-kanak di kampung kala umi saya mengisahkan masjid ini. “Dibuek dek Nobi, tonggaknyo batang kurma, ketek se nye. Atok palopah kurma, tanah gai. Nobi jo sahabat manogak-an musajik tu.”

Pas. Itulah yang sebenarnya. Saya dan adik-adik memang dikisahkan bermalam-malam bertahun-tahun semua riwayat Nabi. Umi saya mendapatkannya dari para gurunya di MTI Canduang.

Saya menatap masjid itu memotonya dan berfoto sebelum dan sesudah shalat sunat. Masjid tempat transit Nabi selama 4 hari. Inilah rumah ibadah buatan Nabi Muhammad yang didirikan pada 8 Rabiul Awal 1 H. Ini pulalah tiang kokoh disaksikan langit sebagai awal peradaban Islam. Para sahabat Nabi, kala itu nan gagah perkasa bagai elang merobek langit, bak burung kelana tak mengenal lelah senantiasa bersama dan mengawal Nabi, menjadi saksi berdirinya masjid pertama itu.

Lalu jauh ke depan ke zaman kini, manusia datang ke masjid itu ramai bagai semut di pohon jambu. Dipadang-pandang bangunan modernnya tak menyertakan kisah zaman lampau. Kisah itu ada dalam Quran, kitab-kitab, dalam kepala guru-guru sejarah Islam dan murid-muridnya. Juga dalam tuturan sederhana ibu-ibu, nenek-nenek di negara-negara Islam yang disampaikan pada anak dan cucu-cucunya. Sejarah masjid itu, adalah fragmen humanis yang tak mungkin terlewatkan.

Pada Rabu itu saya meninggalkan Quba, masjid dengan 19 pintu itu. Tiga pintu berdaun jangkung dan lebar masih terus terbuka menanti kedatangan penziarah yang datang.

Mobil setir kiri yang kami tumpangi melicak aspal yang keras. Deru angin sayup terdengar dari celah kaca jendela. Kami baru berhenti di Majid dua kiblat atau Qiblatain. Medinah sesiang itu tersenyum. Saya juga. (bersambung)