Tak Berkategori  

Matematika Realistik Tangga Meningkatkan Literasi Matematika Siswa

Oleh Rusdi

Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Padang

 

Banyak fenomena matematis yang ada di sekitar kita. Kemampuan untuk mematematikakan berbagai fenomena dan menyelesaikannya dikenal dengan istilah literasi matematika. Matematika realistik adalah tangga untuk meningkatkan literasi matematika siswa.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dikuasai oleh siswa di sekolah, karena berperan penting dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta banyak kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan siswa untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat-alat matematika untuk menggambarkan, menjelaskan, atau memprediksi suatu fenomena, yang membantu siswa untuk memahami peran atau kegunaan matematika di dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan istilah literasi matematika (OECD, 2013: 17).
Literasi matematika perlu menjadi perhatian dalam pembelajaran matematika di sekolah, agar siswa mampu menggunakan pengetahuan matematikanya untuk menyelesaikan permasalahan matematika dalam kehidupan sehari-hari, serta mengenalkan kepada siswa relevansi materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa. Dengan demikian, diharapkan minat belajar matematika siswa juga akan tinggi ketika siswa mengetahui manfaat matematika dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Jika dibandingkan antara pengertian literasi matematika dengan tujuan mata pelajaran matematika yang tertuang dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) Mata Pelajaran Matematika, terlihat adanya kesesuaian atau kesepahaman, sebab tujuan yang akan dicapai dalam mata pelajaran matematika tersebut pada hakikatnya merupakan literasi matematika. Dengan kata lain, kemampuan dalam tujuan mata pelajaran matematika menurut SI tersebut pada intinya adalah juga kemampuan yang dikenal sebagai literasi matematika. Jadi, literasi matematika dapat dikatakan sebagai tujuan yang ingin dicapai setelah belajar matematika. SI adalah kemampuan minimal yang akan dicapai melalui proses pembelajaran. Oleh karena itu, literasi matematika dapat juga dikatakan sebagai kemampuan minimal yang dimiliki siswa di bidang matematika yang dapat dimanfaatkan untuk menghadapi berbagai permasalahan terkait dengan tugas dan pekerjaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, sebenarnya tujuan pembelajaran matematika itu adalah menciptakan siswa yang literate. Setelah belajar matematika selama lebih kurang 9 tahun dalam pendidikan dasar, seharusnya siswa memiliki literasi yang bagus. Akan tetapi faktanya, capaian literasi matematika siswa di Indonesia masih rendah. Hal ini dibuktikan dari hasil-hasil penelitian yang telah banyak dilakukan oleh para peneliti secara nasional, maupun hasil-hasil seuvei lembaga international seperti Programme for International Student Assessment (PISA).

Berdasarkan analisis peneliti terhadap hasil studi literatur, dan hasil infestigasi awal ke lapangan, terdapat kelemahan atau kekurangan dari model atau pendekatan pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah, yakni belum mengkover aspek-aspek literasi matematika secara eksplisit di dalamnya. Ketika suatu model atau pendekatan pembelajaran belum mengkover aspek-aspek literasi matematika secara eksplisit di dalamnya, maka dalam pelaksanaan pembelajaran aspek-aspek literasi matematika tersebut cendrung terabaikan. Hal ini bisa berdampak pada capaian literasi matematika siswa.
Untuk mengembangkan literasi matematika siswa, maka pembelajaran harus kontekstual, memiliki keterkaitan dengan aspek-aspek literasi matematika secara eksplisit, dan guru harus mampu mengembangkan dan menggunakan alat ukur literasi matematika (Pulungan, 2014; Sari, 2015, Abidin, 2018). Hal inilah yang mendasari pengembangan model Pembelajaran Matematika Berbasis Pendidikan Matematika Realistik (PMB-PMR) dengan mengintegrasikan aspek-aspek literasi matematika di dalamnya secara eksplisit. Model PMB-PMR ini dikembangkan sebagai solusi alternatif terhadap permasalahan rendahnya literasi matematika siswa karena, 1) model PMB-PMR ini juga termasuk pembelajaran kontekstual, 2) memiliki sintaks-sintaks yang berkaitan dengan aspek-aspek literasi matematika secara eksplisit, dan 3) memfasilitasi guru untuk bisa mendisain atau mengembangkan alat ukur literasi matematika siswa.
Pengembangan model ini telah melalui proses metodologi yang sudah teruji validitas, praktikalitas, dan efektifitasnya untuk meningkatkan literasi matematika siswa di SMP berdasarkan hasil penelitian Disertasi. Model PMB-PMR adalah suatu inovasi model pembelajaran yang didisain berdasarkan prinsip dan karakteristik pendekatan PMR, serta model penerapan literasi matematika. Ciri utama model PMB-PMR ini diantaranya adalah 1) permasalahan realistik yang diberikan memperhatikan variasi konteks, proses matematika, tipe dan level soal, 2) siswa dipandang sebagai subjek yang diyakini memiliki potensi untuk mengembangkan sendiri pengetahuannya, dan bila diberi kesempatan mereka dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang matematika, 3) guru dipandang sebagai fasilitator yang menciptakan situasi dan menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan cara mereka sendiri.

Model PMB-PMR ini didisain terdiri atas 8 sintaks yaitu pertama, memberikan permasalahan realistik. Guru memberikan permasalahan realistik di awal pembelajaran dan meminta siswa untuk memahami permasalahan tersebut. Guru memberikan penjelasan jika ada siswa yang belum paham dengan permasalahan yang diberikan. Dalam hal ini, guru hanya menjelaskan situasi dan kondisi soal dengan memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian tertentu yang belum dipahami siswa. Tahap ini digunakan sebagai fondasi dalam membangun ide dan konsep matematika, juga bertujuan untuk mengembangkan berbagai strategi penyelesaian yang bisa digunakan.

Kedua, mengembangkan model. Siswa mencoba mengembangkan model terhadap permasalahan realistik yang diberikan dengan bimbingan guru. Dalam hal ini, guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan dan mengembangkan model mereka sendiri ketika menyelesaikan masalah tersebut.

Ketiga, bekerja secara matematis. Guru mendorong siswa untuk bekerja secara matematis setelah siswa berhasil mendapatkan model matematika atau permasalahan matematika pada tahap-2. Bekerja secara matematis terjadi di dalam dunia matematika di mana siswa bisa menggunakan konsep dan keterampilan matematika yang sudah mereka kuasai untuk menemukan solusi matematika atau hasil matematika.

Keempat, melakukan interpretasi. Siswa diminta untuk melakukan interpretasi atau penafsiran terhadap hasil matematika yang telah diperoleh. Melakukan interpretasi diperlukan karena suatu masalah nyata tidak berakhir pada suatu solusi formal, akan tetapi kita mengharapkan suatu solusi nyata untuk suatu masalah nyata.

Kelima, melakukan evaluasi. Pada tahap ini siswa diminta untuk dapat memeriksa kembali solusi yang telah diperoleh dengan cara mencocokkan kembali antara hasil jawaban dengan permasalahan semula. Dengan kata lain, siswa perlu untuk mengevaluasi strategi yang mereka gunakan. Siswa mengevaluasi alasan-alasan yang rasional dari solusi matematika ke dalam masalah nyata.

Keenam, diskusi kelas. Guru mengadakan diskusi kelas. Siswa atau perwakilan kelompok diminta untuk menyajikan temuan atau hasil diskusi kelompoknya, sementara siswa atau kelompok lain mencermati dan menanggapinya. Siswa dibimbing oleh guru sampai pada tahapan matematika formal. Tujuan diskusi kelas adalah untuk menyatukan berbagai pendapat antar kelompok diskusi sehingga diperoleh kesimpulan akhir atau solusi yang tepat sebagai kesepakatan bersama.

Ketujuh, memberikan permasalahan realistik yang lain dengan konteks yang serupa. Siswa mencoba menyelesaikan permasalahan yang baru dengan teknik yang lebih maju, yakni fokus pada matematika, bukan lagi pada situasi konteks. Dengan ini diharapkan siswa yang masih berada pada level bawah dalam mengembangan model dalam menyelesaikan permasalahan realistik yang pertama, secara bertahap sudah mulai beranjak ke level formal dalam menyelesaiakan permasalahan realistik berikutnya.

Kedelapan, latihan soal literasi matematika. Guru memberikan latihan soal literasi matematika kepada siswa. Pengerjaaan soal latihan dilakukan secara individu kemudian dibahas secara klasikal. Salah satu penyebab rendahnya literasi matematika siswa Indonesia adalah kurang terlatih dalam menyelesaikan soal-soal literasi matematika. Memperbanyak latihan merupakan jalan yang efektif dalam pembelajaran asalkan didahului dengan pemahaman makna (konsep) yang tepat.

Untuk lebih memudahkan pemahaman terhadap model PMB-PMR ini, maka penulis mendokumentasikanya dalam bentuk buku. Pertama Buku Model, memuat tentang komponen-komponen penyusun model PMB-PMR. Terdapat lima komponen sebagai unsur penyusun model PMB-PMR, yaitu sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, serta dampak instruksional dan pengiring. Kedua Hypothetical Learning Trajectory (HLT) atau alur belajar hipotetik, yang memiliki tiga komponen utama yaitu, tujuan pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan hipotesis proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, dirancang aktivitas pembelajaran, yaitu kegiatan menyelesaikan permasalahan realistik yang memuat aspek-aspek literasi matematika. Untuk operasional pembelajaran, maka HLT yang sudah dirumuskan dituangkan dalam buku guru dan buku siswa. Pencapaian tujuan pembelajaran melalui aktivitas-aktivitas pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan sintaks model PMB-PMR yang telah dirancang. Ketiga Buku Guru, berperan sebagai panduan bagi guru untuk mengajarkan materi pelajaran yang terdapat pada buku siswa menggunakan model PMB-PMR yang diintegrasikan dengan aspek-aspek literasi matematika di dalamnya, sekaligus sebagai petunjuk operasional dalam menerapkan HLT. Keempat, Buku Siswa berperan sebagai bahan ajar untuk pegangan bagi siswa dengan tujuan membantu siswa dalam proses pembelajaran dengan model PMB-PMR yang memuat Lembar Kerja Kelompok Siswa (LKKS) dan Lembar Kerja Individu Siswa (LKIS). LKKS digunakan siswa untuk mengerjakan aktivitas-aktivitas yang telah dirumuskan dalam HLT untuk memfasilitasi siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika, serta pemantapan konsep matematika yang telah ditemukan siswa. Sedangkan LKIS berfungsi untuk melatih kemampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep yang telah dibangunya.

Bagian terpenting dalam literasi matematika adalah proses matematisasi yang dimaknai sebagai proses merumuskan, mengunakan dan menafsirkan serta mengevaluasi matematika dalam berbagai konteks. Pada aplikasinya pemilihan strategi ataupun representasinya sangat bergantung pada situasi atau konteks masalah yang akan dipecahkan. Hal ini memerlukan ketrampilan siswa untuk menerapkan pengetahuannya dalam berbagai konteks. Selanjutnya, dalam literasi matematika juga memperhatikan proses matematika yang dominan dalam suatu permasalahan, serta tipe dan level soal. Fakta dilapangan menunjukkan masih banyak siswa yang kesulitan untuk melakukannya. Siswa yang telah mampu menerapkan pengetahuannya dalam suatu konsteks belum tentu dapat mengaplikasikannya dalam konteks yang berbeda, dan lemahnya kemampuan pemecahan masalah siswa pada soal-soal level tinggi. Siswa perlu untuk mengalami proses pemecahan masalah dalam berbagai situasi dan konteks, proses matematika, tipe dan level soal yang berbeda agar dapat mengunakan keterampilannya secara efektif. Hal inilah yang terabaikan oleh para guru ataupun peneliti ketika menerapkan suatu model atau pendekatan pembelajaran kontekstual lainnya, sekaligus sebagai kelemahan dari model atau pendekatan tersebut, karena konteks, proses, tipe dan level soal tidak dinyatakan secara eksplisit pada soal-soal kontekstual yang diberikan. Pengalaman ini dapat difasilitasi melalui inovasi model PMB-PMR yang diintegrasikan aspek-aspek litersi matematika ke dalamnya yang memberikan siswa pengalaman tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas, maka patut diyakini bahwa inovasi model PMB-PMR ini layak digunakan sebagai salah satu solusi alternatif terhadap permasalahan pembelajaran matematika di sekolah, terutama permasalahan rendahnya literasi matematika siswa di SMP.

Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UNP, Rusdi, dengan Komisi Promotor 1) Prof. Dr. I Made Arnawa, M. Si, 2) Prof. Dr. Ahmad Fauzan, M.Pd, M. Sc, 3) Prof. Dr. Lufri, M.S