Opini

Media Massa dan Masa Depan Bangsa

×

Media Massa dan Masa Depan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Oktafril Febriansyah.

Oleh Oktafril Febriansyah

Perkembangan media massa di Indonesia mengalami pertumbuhan yang luar biasa. terutama setelah memasuki era reformasi, seiring dengan keran demokrasi di Indonesia mulai terbuka. Hal ini ternyata memberi dampak kebebasan pers yang luar biasa. sehingga pers dapat dimanfaatkankan oleh berbagai pihak untuk membela kepentingan institusi pemiliknya, tidak terkecuali untuk kepentingan politik.

Kecenderungan yang terlihat saat ini, para elit politik di Indonesia mulai berlomba-lomba mendominasi perusahaan-perusahaan media guna menigkatkan citranya di mata publik. Para elit politik berusaha membangun komunikasi politik secara intens supaya dapat menarik simpati massa agar mau berpihak kepada mereka. Media begitu diburu oleh banyak pihak karena kekuatannya dalam membentuk opini publik.

Media mampu membentuk kekuatan besar dalam masyarakat, terlepas dari apapun isi kontennya, mengharuskan kita berpikir secara kritis dan kreatif tentang media yang kita konsumsi, bagaimana media mempengaruhi kita sebagai individu dan bagaimana media membentuk budaya di masyarakat kita.

Hegemoni media saat ini terlihat semakin menjadi-jadi, kecendrungan bersatu dalam satu grup besar, sebagai contoh Aburizal Bakrie yang mengendalikan dua stasiun besar di indonesia, sebut saja TV One dan ANTV, lalu ada Hary Tanoe sebagai pemilik dari MNC Group yang didalamnya tergabung RCTI, MNC TV dan Global TV. Lalu ada lagi grup dari Surya Paloh yang mengendalikan siaran Metro TV, selanjutnya ada Chairul Tanjung dengan Trans TV dan Trans 7. Ini merupakan hanya segelintir dari hegemoni media yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  Ada Apa dengan Sumbar – A Rejoinder (AADS-2)

Para pengusaha media sebagai pemilik modal dari perusahaan tersebut, sudah barang tentu akan menentukan arah kebijkan dari konten isi dari medianya, tak heran jika media dijadikan sebagai penyalur komunikasi politik pemiliknya, untuk mensosialikan ideologi mereka. Sebagai contoh saat Anas Urbaningrum dan para elit partainya dirundung beberapa kasus, lalu diserang habis-habisan oleh  lawan politiknya, melalu media yang mereka kuasai,.bahkan pimpinan partai demokrat saat itu sampai ingin membentuk meida sendiri untuk mengimbangi pemberitaan yang ada yang selalu memojokkannya.

Media harusnya hanya menyuarakan kebenaran, hal netral, proporsional, serta berpihak kepada masyarakat dan bangsa, bukan malah sebaliknya, seharusnya media massa berpihak pada etika, kepantasan, dan kepentingan bersama. Pers dinilai bertanggung jawab atas ruang publik dan pemerintahpun harus memegang teguh Undang-Undang Pers itu sendiri.

Harusnya kita sudah bisa membuka mata terhadap kenyataan bahwa tidak ada media yang tidak punya keberpihakan. Paling sedikit media berpihak pada kepentingannya sendiri, entah itu kepentingan bisnis atau politik.  tentang media harus netral mungkin cuma dongeng di kelas Dasar-Dasar Jurnalistik saja.