Tak Berkategori  

Melontar, Lalu Botak: Selamat Pagi Haji

Rombongan jemaah kloter 1 Padang berada dalam terowongan Mina untuk melontar (kj)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Rombongan jemaah kloter 1 Padang berada dalam terowongan Mina untuk melontar (kj)

Arafah adalah ladang kepasrahan dan Muzdalifah taman kesabaran, maka Mina jadi ayunan bagi “bayi” yang baru lahir.

 

***

Bendera kecil yang dipegang Ustad M Nor dan Noor Arias Syamsu, berkibar kencang disapa angin malam di Mina, Selasa (21/8). Satu rombongan kloter 1 Padang itu, akhirnya terbagi dua sesuai bendera tadi. Mereka menembus lautan manusia, kemudian lenyap dalam terowongan Mina nan terkenal itu. Terowongan itu kembar, satu untuk pergi, lainnya untuk pulang, masing-masingnya ada dua.

Di dalam seterang siang, seramai pasar namun tidak sesak. Bendara kecil paling, terlihat  tinggi bersama bendera kecil lain dari berbagai grup bangsa-bangsa. Tiap orang diburu dirinya sendiri, bagaimana bisa secepat mungkin sampai ke lokasi melontar. Batu Muzdalifah sudah dibawa dalam kantong rancak yang diberi gratis oleh pemerintah Saudi. Yang pria melangkah dengan kain ihram yang sudah kotor. Mereka semua pria wanita, sudah berhari-hari tidak mandi pakai sabun.

Dan 90 menit kemudian, mereka melontar, diikuti tahalul. Semua memotong rambut, sekali dua kali gunting dekat telinga, kemudian melangkah pulang menggendong lelah yang sudah menumpuk. Bergegas ke perkemahan menanggalkan kain ihram yang telah berhari-hari menyertai. Demikianlah, para pria bergegas mandi dan memakai setelan gamis atau celana panjang dan kaos. Inilah sebuah penantian yang terasa amatlah lamanya. Kain ihram itu, yang putih itu, seperti cetakan pedang pendekar, berusaha membentuk ulang, sifat dan sikap yang sudah sekeras besi bizantium. Nanti sesampai di Tanah Air, pedang baru kehidupan tersebut, semoga berkilat-kilat dan mamangkas semua yang buruk dalam diri.

Mina ayunan bayi

Dua hari lalu di Padang Arafah, Tuhan sudah membanggakan jemaah pada para malaikat. Allah berjanji memutus hubungan jemaah dengan neraka. Setelahnya mereka beranjak ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu kecil untuk keperluan melontar. Batu dapat, bus tak dapat, maka bergelimpanganlah jemaah tidur di sana beratapkan langit. Saya dan istri baru bisa beranjak sekira pukul 06.00 pagi, setelah menunggu sejak pukul 02.00 malam. Bus banyak, orang lebih banyak lagi. Bus-bus itu terjebak macet di Mina.

Karena Arafah adalah ladang kepasrahan dan Musdalifah taman kesabaran, maka Mina adalah ayunan bagi “bayi” yang baru lahir. Lahir kembali, sesuatu yang alangkah sulitnya. Bisa jadi ada yang tak menyadarinya. Sebuah kelahiran yang benihnya telah disemai di rahim kehambaan oleh Rukun Islam sejak ada niat naik haji sekitar 8 atau 10 tahun silam. Kami telah melalui tahapan penting dalamĺ prosesi ibadah haji, betapa hebatnya sebuah perjuangan, sehebat pucuk kacang panjang merangkak naik untuk berada paling atas demi mendapatkan sinar mahatari. Sehebat proses perjuangan sperma menuju ovum yang dilukiskan bagai astronom menuju bulan. Dalam satu juta benih, hanya satu yang berhasil. Haji dengan demikian bukan sehelai sajadah dan kupiah putih.

Dan mulai kemarin, proses pencarian itu telah dimulai oleh jemaah dari Padang, semoga mereka jadi haji mabrur. Amiin.

Jemaah kloter 1 Padang, Khadavi dengan rela mencukur rambut jemaah lainnya, antara lain Ketua Kloter 1 Padang, ustad Yusron Lubis (foto sukron)

Botak licin

Pukul 01.00 di Mina, secangkir kopi dihidangkan oleh seorang jemaah dari Surabaya, saya meneguknya dengan nikmat. Malam telah sempurna, menidurkan jemaah yang lelah, sehabis melontar. Para haji dan hajjah baru itu, dibuai mimpi.

Di sini, dekat sebuah pojok kemah kami, Khadavi, Refki dan kemudian Hasrul Pilang, dengan ligat memainkan mesin cukur. Dinihari itu sekitar 20 kepala mereka buat botak licin. Termasuk kepala saya. Kenapa botak? Ini lebih baik. Botak itu adalah juga lambang ketulusan, lambang meluruhkan mahkota kehebatan seorang pria, habis dicukur dalam beberapa menit saja. Rambut yang membuat coga itu, yang belah tengah, sisir samping alias bitel, sisir ke belakang atau ke depan, tamat riwayatnya pada sepotong malam di sebuah tempat bernama Mina.

Proses mencukur itu berlangsung dengan riang, penuh tawa. Tak hanya orang Padang, sahabat dari Jawa pun ikut dibotaki. Karena itulah mereka menghidangkan kopi panas untuk kami. Tak disangka, “pasien” botak licin  luar biasa banyaknya. Ini gara-gara Refki yang membeli mesin cukur. Semula dimaksudkan untuk dia dan beberapa orang saja, yang terjadi, peminat luar biasa banyaknya. Selamat pagi haji.

Setelah tukang cukur dadakan itu lelah menjelang subuh, kadai tutuik, semua kembali ke tenda ber-AC. Di dalam, jemaah sudah tidur dalam lelap yang sangat dalam. Inilah tidur yang mengurai lelah dan membuatnha jadi berkualitas. Saya dan para ” tukang cukur,” memutuskan untuk tidur sehabis subuh.

Sudah pukul 04.00 pagi di Mina atau 08.00 pagi di Padang. Selamat Hari Raya Kurban, maaf lahir batin. Salam dari Mina, kota tenda di dekat Makkah Almukarramah, Saudi Arabia. (***)