Membangun Ekosistem Industri Kelapa Indonesia dengan Semangat Keberlangsungan dari Sambu Grup

Kelapa, tanaman kehidupan itu, yang semua bagiannya nyaris tak ada yang terbuang percuma, kini membuat banyak orang takjub. Tak hanya nutrisinya yang sangat baik untuk kesehatan, tapi juga potensi ekonominya yang sangat luar biasa dari setiap bagian-bagiannya. Lebih dari itu, santan kelapa yang dahulunya melewati banyak proses dan waktu cukup lama sebelum bisa diolah menjadi masakan, kini tinggal diambil praktis dari kotak kemasan.

Krim santan kemasan itu, dipatut-patut oleh Alizar, seorang petani di daerah pegunungan di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Ia dibawakan sejumlah bungkus krim santan kemasan oleh salah satu anaknya yang bekerja di PT Riau Sakti United Plantation Sambu Grup di Pulau Burung, Kepulauan Riau. Dirasa-rasakannya santan yang biasa digunakan istrinya dari kelapa hasil kebun sendiri – setelah dikupas, diparut tangan dan diperas – dan dibandingkannya dengan krim santan bermerk Kara. Ternyata tak ada beda. Laki-laki itu pun berdecak kagum.

Didi, anaknya, lulusan salah satu SMK di Tanah Datar, memang sudah lebih dari 20 tahun bekerja di perusahaan milik Sambu Grup. Beberapa kerabatnya pun sekarang ikut bekerja di sana. Hingga kini saat anak sulungnya sudah duduk di bangku kuliah, Didi dan sang suami bersama ribuan pekerja di sana menemukan penghidupan dari pabrik yang mengolah kelapa, tanaman andalan yang menjadi anugerah Tuhan bagi Indonesia.

“Beribu-ribu orang menyatu kekuatan, membangun “Sambu”, sehingga semua makhluk hidup akan sangat berbahagia dan membuat hatiku tenang serta damai,” ujar pendiri Sambu, Tay Juhana, suatu ketika.

Seperti filosofi sebuah kelapa yang dapat hidup dimana saja dan bertahan dalam kondisi terjangan badai sekalipun, seperti itulah semangat Tay Juhana dalam membangun industri kelapa. Dengan dedikasi dan perjuangan yang besar, ia melahirkan ekosistem kelapa yang terus berkembang di Indonesia.

Tay Juhana atau Tay Jui Chuan adalah seorang inovator. Siapa yang dulu pernah berpikir untuk membuat krim santan dalam kemasan karena bahan bakunya, tanaman kelapa, banyak ditemui dimana saja. “Tinggal ambil”, begitu pikir orang-orang jika hendak mengambil santan untuk masakan. Namun, di tangan Tay Juhana, di tahun 1983, ia sudah membuat produk olahan berteknologi tinggi dari kepala berupa santan atau krim kelapa. Diproduksi menggunakan teknologi Ultra-High Temperature (UHT), krim santan kelapa dalam kemasan dengan merek Kara merupakan hal yang baru saat itu, bahkan di dunia. Kini, Kara dipasarkan secara nasional dan internasional yang meliputi pasar Asia, Oseania, Amerika Utara, dan Eropa.

Bagi warga di perkotaan yang ingin serba praktis karena keterbatasan waktu, santan kemasan sudah menjadi stok dapur yang wajib dimiliki. Krim santan tersebut bahkan sudah menjadi barang ekspor andalan salah satu produk turunan kelapa.

Bersamaan dengan krim santan, perusahaan Tay juga memproduksi bubuk krim santan kelapa, kelapa parut kering, air kelapa, dan arang tempurung kelapa. Produk-produk tersebut dihasilkan setelah didirikannya PT Pulau Sambu (Guntung) di tahun 1983 untuk menghasilkan produk yang berteknologi tinggi.

Perjuangan Tay ­- seorang yang tidak tamat SMP – membangun ekosistem kelapa bukan hal yang mudah. Dalam buku ‘Tay Juhana, Pelopor Industri Kelapa’ (2018) ditulis bahwa Tay merintis kebun kelapa di lahan datar dan basah. Tay Juhana sebenarnya semula berkewarganegaraan Singapura. Ia lahir di Singapura pada 28 Oktober 1938 . Kakek dan ayahnya, imigran dari Tiongkok, adalah seorang pedagang kopra antarpulau. Ayahnya berdagang kopra dari Pantai Barat Pulau Sumatra dan mendirikan sebuah toko kelontong di Kuala Enok sebelum pendudukan Jepang di Indonesia. Tay sendiri mulai membantu ayahnya berdagang tahun 1957 karena berhenti sekolah. Ia mulai ikut perahu yang membawa kopra dari Kuala Enok ke Singapura. Dua tahun kemudian, Tay mengambil alih usaha tersebut. Ia tinggal di Kuala Enok dan mulai membangun usaha.

Karena keberaniannya berinovasi, Tay mencoba berkebun kelapa di lahan yang datar rendah, basah dan tidak subur. Tay berinovasi dengan membangun parit-parit sehingga kelapa bisa tumbuh subur. Selama ini jenis lahan ini diabaikan begitu saja. Sebab, masyarakat terlanjur berpendapat bahwa lahan tersebut susah diolah. Namun berkat ketekunan Tay, lahan miskin tersebut bisa disulap menjadi kebun kelapa hibrida yang sangat menghasilkan.

Tay kemudian memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia pada tahun 1966. Ia mengganti namanya dari Tay Jui Chuan menjadi Tay Juhana.

Pada 1967, Tay membangun perusahaan PT Pulau Sambu di Kuala Enok yang mengolah minyak kelapa pada tahun 1967. Namun, karena banyaknya kendala dalam industri minyak kelapa, seperti persaingan dengan minyak sawit, ia melakukan inovasi membuat produk hilir dari buah kelapa, seperti kelapa parut kering, santan dalam kemasan, nata de coco dan VCO, serta produk dari kelapa segar lainnya. Pada tahun 1983, Tay memperluas pabriknya ke Sungai Guntung dan pada 1993 ia mendirikan pabrik di Pulau Burung yang memproduksi produk-produk turunan dari buah kelapa.

Di sisi lain, pengolahan produk-produk turunan kelapa juga didasari oleh keprihatinan Tay karena pemanfaatan buah kelapa yang belum maksimal. Petani banyak yang menjual ke pedagang lepas dan hanya diolah menjadi kopra, atau diijonkan ke tengkulak. Padahal, jika diolah secara modern menjadi berbagai produk turunan, kelapa bisa punya nilai tambah yang lebih tinggi.

Berkat inovasi dan keberhasilannya itu, Tay pernah diberi penghargaan Satyalencana Pembangunan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1991.

Tentang KARA sendiri, ternyata singkatan dari Kelapa Rakyat yang berarti bahwa Tay selalu mengutamakan untuk membeli kelapa rakyat dengan segala kualitasnya. Tay juga membangun infrastruktur untuk memperlancar usaha sekaligus bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Ia mendirikan sekolah dari jenjang SD sampai SMA/STM serta mengutamakan tenaga lokal untuk rekrutmen tenaga kerja di pabriknya.

Sebagai tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis Indonesia, kelapa menjadi hasil perkebunan penting karena menghidupi jutaan penduduk. Kelapa juga menjadi komoditas yang banyak dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri dan diekspor ke luar negeri hingga mendatangkan devisa. Maka, menjadi pilihan terbaik untuk menjadikan Indonesia  sebagai negara pengembang komoditas kelapa di dunia.

Sambu Grup sudah membuktikan berbagai inovasinya dalam pengembangan industri kelapa. Dengan model bisnis social entrepreneur yang berkelanjutan, berbisnis dengan cara menerima serta membeli buah kelapa petani dalam bentuk apapun, untuk kemudian diolah menjadi produk yang bernilai tambah lewat pabrik yang didirikannya di tengah-tengah perkebunan kelapa rakyat. Perusahaan ini membangun ekosistem industri kelapa terintegrasi dengan menjaga keberlangsungan atau sustainability sebagai prinsip yang dipegang Sambu Group dalam menjalankan bisnis. (Melda Riani)