Memprihatinkan, Sebanyak 14 SDN dan SMP di Talamau Masih Belajar di Tenda

PASBAR – Sebanyak 14 Sekolah Dasar Negeri dan SMP di Kecamatan Talamau Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat hingga saat ini masih melakukan proses belajar mengajar di tenda sejak musibah gempa 25 Februari 2022 merusak sekolah yang ada di daerah itu.

“Sangat memprihatinkan karena proses belajar mengajar terganggu. Jika hujan lantai tenda becek dan berlumpur karena air masuk ke dalam tenda,” kata Koordinator Wilayah SD Kecamatan Talamau Sarman di Simpang Empat, Jumat.

Ia mengatakan keluhan para guru dan kepala sekolah itu setiap hari diterima karena hingga saat ini perbaikan lokal atau sekolah tidak kunjung ada dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan.

“Masalah ini telah kita sampaikan ke pihak Dinas Pendidikan namun belum ada kejelasan terkait persoalan perbaikan sekolah yang rusak akibat gempa itu,” katanya.

Akibat gempa 25 Februari 2022 itu ada 14 sekolah yang siswanya sampai saat ini belajar di tenda yakni SDN 01 Talamau, SDN 02 Talamau, SDN 08 Talamau, SDN 09 Talamau dan SDN 16 Talamau. Kemudian SDN 17 Talamau, SDN 20 Talamau, SDN 21 Talamau, SDN 22 Talamau, SDN 23 Talamau dan SDN 25 Talamau. Lalu SDN 26 Talamau, SMPN 2 Talamau dan SMPN 3 Talamau.

Kepala Sekolah SDN 02 Kampuang Pasia Kajai Talamau Indra Nevi membenarkan proses belajar mengajar sangat terganggu akibat belajar di tenda.

Menurutnya ada sekitar empat lokal dengan 100 orang murid belajar di tenda dan dua lokal atau 50 orang belajar di teras.

“Sangat terganggu sekali. Jika sudah pukul 10 WIB kondisi dalam tenda sangat panas dan jika hujan air merembes dan yang belajar di teras akan basah,” katanya.

Ia berharap pembangunan lokal yang rusak segera dilakukan. Jika tidak maka proses belajar mengajar tidak maksimal.

Hal yang sama juga dikatakan Kepala SDN 17 Kampung Betung Timbo Abu Talamau Sardi yang mengharapkan sekolah mereka cepat dibangun kembali.

“Kalau bisa menjadi prioritaslah karena kami butuh ruangan belajar yang layak,” katanya.

Saat ini kondisi sekolah mereka tidak layak pakai. Ada enam lokal dengan 108 murid belajar di tiga buah tenda. Sedangkan ruangan lainnya juga rusak dan tidak layak.

“Jika panas, anak-anak bermandikan keringat dalam tenda. Jika hujan, tanah dalam tenda itu seperti lumpur karena becek,” katanya.

Camat Talamau Andre Affandi mengaku sangat prihatin dengan kondisi sekolah yang terdampak gempa itu.

Menurutnya proses belajar mengajar yang ada sangat terganggu. Bahkan ada tenda yang dipakai sudah rusak dan masuk air.

“Kita telah pantau kelapangan dan sangat memprihatinkan. Kita berharap Kemendikbud segera memprioritaskan pembangunan sekolah yang rusak akibat gempa di Talamau ini,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pasaman Barat Agusli mengatakan pihaknya telah mengusulkan ke Kemendikbud agar dianggarkan pembangunan sekolah yang rusak melalui Dana Alokasi Khusus. Namun hingga saat ini belum ada kepastiannya.

“Kemungkinan 2023, namun belum jelas. Informasi yang diperoleh akhir November 2022 ini kepastiannya,” sebutnya.

Untuk mengatasi sementara, katanya, dalam waktu dekat pihaknya akan membangun 10 lokal darurat melalui dana APBD.

“Kita akan kawal terus dan berkoordinasi dengan pihak provinsi dan pusat kapan kepastian pembangunan sekolah yang rusak itu,” tegasnya.(*/ant)