Mengantarkan Bilih Pulang ke Rumahnya…

Oleh: Khairul Jasmi

Pagi di Singkarak, dua ekor bangau putih terbang di atas muka air danau yang seperti cermin. Bangau itu seolah sedang bercanda dengan alam. Pada pagi yang cemerlang ini, 3.000 bilih dilepas ke rumahnya yang tua. Ini melengkapi 4.000 bibit yang sudah dilepas sebelumnya.

Pagi di Sumpur, Batipuah Selatan, Sabtu (30/7) langit dan muka danau sama bersihnya, sejumlah anak bermain di batu-batu besar yang jadi pagar alami Singkarak. Mungkin gaya bermain mereka sama dengan zaman Muhammad Radjab, asal Sumpur. Radjad adalah alumni UI dan wartawan, penulis buku sejarah Perang Paderi.

Anak lainnya membawakan tari Galombang untuk tamu yang datang. Dua di antara penari itu, Tanti dan Nesa, gadis cantik dari nagari ini. Bagi mereka, Singkarak adalah halaman depan tempat bermain. Bagi 90 persen warga Sumpur, danau sumber pendapatan.

Bilih pulang ke rumahnya. Sebagai ikan endemik, sebuah plakat telah dibuat oleh warga, untuk benar-benar menjaga ikan mystacoleus padangensis, satu-satunya di dunia.

Peran Semen Padang

Menurut Kepala Unit CSR, PT. Semen Padang, Rinold Thamrin 3.000 ekor bilih pun dilepas oleh Wakil Gubernur Audy Joinaldy dan Dirut PT Semen Indonesia Grup (SIG) Donny Arsal bersama Dirut PT. Semen Padang, Asri Mukhtar. Sebelumnya pada 22 Maret telah 4.000 bilih oleh Gubernur Mahyeldi. Dalam acara Sabtu hadir rektor UBH, Prof Tafdil Husni, ahli ikan bilih dari LPPM UBH, Prof. Hafrijal Syandri, serta para undangan lainnya

Catatan Rinold menunjukkan program pembibitan bilih yang nyaris punah itu, dilakukan bekerja sama dengan UBH pada 2018-2019. “Dilakukan introduksi ikan bilih di aliaran sungai di Semen Padang,” katanya.

Setahun kemudian melakukan upaya pemijahan secara alami. Pada 2021 pemijahan massal secara manual dan semi alami yang dilaksanakan di labor penelitian di area PT. Semen Padang. Sarana pemijahan dan pembiakan ikan bilih tersebut berhasil mendapatkan Sertifikat Paten Sederhana pada tanggal 18 Juni 2021 dari Kemenkumham. Pada 2022 Semen Padang melakukan restocking anakan ikan bilih dari hasil pemijahan di PT. Semen Padang ke Danau Singkarak serta pembuatan area suaka perikanan (reservat) di nagari Sumpur.

” Danau Singkarak yang membentang di Tanah Datar dan Kabupaten Solok luasnys 12.200 hektar, berada pada elevasi 363 m.dpl. Di danau ini hidup 19 spesies ikan asli. Salah satunya ikan bilih,” sebut Rinold.

Apapun itu, menurut Dirut SIG Donny Arsal, usaha ini tak boleh sampai di sini, mesti ada tindaklanjut dan dampak jangka panjang bagi rakyat. Ia mengapresiasi apa yang dilihatnya di Sumpur. Seorang ibu di tepian danau berkata,” sekarang bilih sekilo Rp60 ribu, tapi yang ada di danau masih kecil-kecil.”

Sejumlah ibu-ibu yang duduk di pondok tua, yang menyaksikan acara, sedang bercerita tentang danau tempat cucu mereka sedang bermain.

Mereka tak perlu risau sebab menurut Rektor UBH Tafsil Husni, jika dilepas 1500 ekor bilih di dalamnya ada 800 betina, tiap betina bertelur 3000 butir. Maka jika 7.000 bibit akan berkembang biak luar bisa. Inilah yang diharapkan Ketua Kelompok Nelayan, Sumpur, Fernando Sutan Sati, ikan melimpah, ekonomi membaik. “Kami taat aturan hang dibuat sejak beberapa puluh tahun lalu,” katanya.

Apa itu? Tak menggunakan alat tangkap merusak, seperti bagan dan jala apung, bom setrum bahan kimia dsb, “kata dia. Dengan bagan katanya ribuan binit bilih akan terjaring dan terbuang.

Acara pun selesai, bilih sudah berenang, lalu ada atraksi silek aie, manjalo ikan dengan sampan. Tak lama Dirut SIG, Donny Arsal, mengayuh sampannya sendiri, agak ke tengah. Sementara itu, Direktur Bisnis dan Pemasaran SIG, Aulia Mulki Oemar, bersampan bersama nelayan setempat.
Dan, selesai sudah, tak lama pejabat semen ini, dikerubungi 25 mahasiswa KKN dari UIN IB.

“Sudah dua minggu di sini, Pak, kami KKN 40 hari,” kata salah seorang dari mereka.
Tetamu berangsur pergi, suatu hari kelak, tak lama benar, akan banyak nelayan dari danau, yang senyumnya semanis saus yang banyak tumbuh di Sumpur, nagari yang rumah gadangnya rancak-rancak. (**)