Tak Berkategori  

Mengembangkan Pangan Lokal, Satu Aksi Nyata dalam Sikapi Ancaman Perubahan Iklim

Amanda Katili. (tangkapan layar/ist)

Perubahan iklim semakin menjadi ancaman nyata bagi penghuni bumi. Sebagian ancaman itu bahkan telah terjadi saat ini, seperti kenaikan suhu global, es di kutub menyusut, kejadian ekstrim, tutupan salju berkurang, pengasaman samudra, lapisan es menyusut dan tinggi muka laut naik.

“Jika masyarakat masih banyak yang tak aware terhadap isu perubahan iklim dan pemanasan global, berbagai bencana akan terus meningkat hingga mengganggu keberlangsungan kehidupan manusia,” ujar Amanda Katili Niode, Climate Reality Project Indonesia Manager saat workshop virtual ‘Climate Change, Bahaya Lebih Besar dari Covid-19’ yang diadakan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Sabtu (9/10).

Dikatakan, setiap individu bisa memulai dari diri sendiri dalam menyikapi isu perubahan iklim. Salah satunya dengan mengembangkan pangan lokal. Dengan menggunakan dan mengembangkan pangan lokal, selain menghindari pemupukan yang berlebihan, juga bisa menghindari proses pendinginan dan pengangkutan dengan kendaraan.

Selain mengembangkan pangan lokal, masyarakat juga bisa berperan dengan membawa tas sendiri, menggunakan fashion tanpa limbah, daur ulang, makan makanan nabati, mematikan lampu, mandi 5 menit, mencabut listrik, dan mengurangi berkendara.

Perubahan iklim adalah perubahan signifikan terhadap iklim, suhu udara dan curah hujan dalam periode sangat lama yang terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca. Berbagai aktifitas manusia dapat mengubah iklim bumi dan mendorong perubahan iklim melalui pemanasan global.

Indonesia selama bertahun tahun masuk lima besar negara di dunia yang bertanggung jawab terhadap perubahan iklim. Pada tahun 2021, Indonesia berada di peringkat empat di bawah Amerika Serikat, China, dan Rusia. Adapun sumber gas rumah kaca terbesar di Indonesia adalah dari kehutanan dan lahan gambut, di samping tambang batubara dan proses industri.

“Bagi Indonesia, perubahan iklim akan menyebabkan musim kemarau yang lebih lama dan musim hujan yang lebih pendek namun intens. Selain itu, perubahan juga akan menyebabkan berbagai dampak seperti cuaca ekstrim, penyakit menular, kelangkaan pangan, polusi udara, kesehatan mental, stres dan lain-lain,” terang Amanda.

Amanda memaparkan bahayanya peningkatan suhu global akibat dampak gas rumah kaca tersebut. Dengan kenaikan suhu dua derajat saja, lapisan es kutub utara mencair dan terumbu karang menghilang dari daerah tropis. Pada tiga derajat, dunia mulai kehabisan makanan dan jutaan orang terancam kelaparan. Pada empat derajat, sebagian besar wilayah di dunia terlalu panas untuk ditinggal manusia dan pada enam derajat, kehidupan di bumi akan punah.

Suhu rata-rata di Indonesia akan meningkat 2,2 derajat celcius pada tahun 2060 dan 3,7 derajat celcius pada tahun 2100. Jika bumi memanas 2 derajat celcius saja, 16 juta orang Indonesia akan terdampak.

Solusi dari peningkatan suhu global akibat gas rumah kaca adalah dengan gaya hidup rendah karbon. Manusia bisa berupaya memperlambat proses perubahan iklim global dengan mengurangi level gas gas rumah kaca di atmosfer dan mengurangi emisi dari kegiatan manusia. Selain itu, beradaptasi dengan mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Sementara itu, Ketua Umum FJPI yang juga Steering Committee di Tim Perubahan Iklim Nasional, Uni Lubis menyatakan, dampak perubahan iklim bahkan lebih bahaya daripada covid-19. Sudah lebih dari 100 bencana sejak awal pandemi yang mempengaruhi terhadap lebih dari 50 juta jiwa.

Uni Lubis juga menekankan pentingnya isu perubahan iklim bagi jurnalis. Selain untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendidik masyarakat mengenai aturan, jurnalis juga harus terus mengawal kebijakan pemerintah serta menyajikan reportase solusi terhadap isu perubahan iklim. (rin)